oleh

Jokowi Kontradiktif Airlangga Menggergaji Presiden

indonesiakita.co – Koran De Telegraaf memuji O.G Roeder waktu menyusun biografi Soeharto: “The Smilling General President Soeharto Of Indonesia …”

Soeharto yang kalem dilukiskan irit bicara, tapi murah senyum. Namun Roeder dikecam Willem Oltmans yang marah.

Willem Oltmans wartawan Belanda kesayangan Sukarno. Dia menyebut Roeder yang wartawan Jerman tak paham Indonesia.

Sebelum jadi jurnalis mata-mata Jerman Barat, dan anggota Hitler-Jugend (Pemuda Hitler). Karya Roeder itu disebut Willem Oltmans buku terjelek.

Tapi itulah buku pertama, 1969, yang mempublikasikan Soeharto secara internasional, konon disambut antusias.  Jadi bacaan “wajib” banyak tokoh & diplomat yang ingin tau wajah baru Indonesia pasca Sukarno.

Kata orang, kalau Anda ingin mengenali sebuah bangsa, kenalilah sejarahnya, buku-buku, dan tokoh-tokohnya, sebuah bangsa, katanya juga punya takdir sendiri.

Takdir adalah ketentuan suatu peristiwa yang terjadi karena pilihan manusia (para tokohnya). Takdir Indonesia juga suatu peristiwa karena pilihan tokoh-tokohnya.

Buku Ben Bland, wartawan Financial Times, Australia, mengundang kontradiksi, seperti judulnya: Man Of Contradictions, Joko Widodo And The Struggle To Remake Indonesia.

Buku ini tak pernah diulas di media mainstream tapi jadi sorotan nitizen di media sosial. Sehingga ada satire: “Walikota Yang Berkantor Di Istana Presiden …”.

Pemerintahan Jokowi kini makin tidak efektif. Hal ini semakin tergambar dari pernyataan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto yang bertentangan dengan arahan Jokowi sebagai presiden, terkait kebijakan PSBB Anies Baswedan.

Airlangga menyebut kebijakan “rem darurat” sang gubernur menyebabkan IHSG anjlok. Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional itu malah mengatakan fasilitas kesehatan masih memadai tak seperti yang dikatakan Anies.

Pernyataan Airlangga seperti menampar dan lupa pidato Jokowi yang  menyatakan mau fokus mengatasi kesehatan supaya ekonomi berjalan. Kondisi ini membuat tokoh nasional Dr Rizal Ramli bertanya-tanya apakah Jokowi masih seorang presiden.

“Jokowi itu presiden apa bukan ? Kok menteri-menterinya bisa menggergaji arahannya,” kata Rizal Ramli.

Menurutnya, setelah enam bulan ini Jokowi baru benar-benar menyadari Covid-19 makin mengancam.  “Anies ambil langkah tepat, tapi Airlangga dan yang lainnya malah menggergaji niat presiden untuk fokus pada Covid-19,” tandas Rizal Ramli. (Penulis/Arief Gunawan)

Komentar

News Feed