oleh

FPI Resmi Dibubarkan Pemerintah, Mahasiswa di Garut Gelar Syukuran

-News-12 views

indonesiakita.co – Sejumlah Mahasiswa yang tergabung di dalam Forum Mahasiswa Cinta Bangsa menggelar tasyakuran atas dibubarkannya ormas Front Pembela Islam (FPI) besutan Habib Rizieq Shihab oleh pemerintah melalui Surat Keputusan Bersama (SKB).

Koordinator Forum Mahasiswa Cinta Bangsa, Mohammad Ali menyampaikan, bahwa putusan pemerintah membubarkan ormas FPI tersebut merupakan langkah yang sangat tepat dan perlu disyukuri bersama.

“Melalui Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Prof Mahfud MD, Ormas Front Pembela Islam resmi diumumkan oleh Negara sebagai organisasi terlarang. Tentu ini kado akhir tahun untuk bangsa Indonesia,” kata Ali dalam keterangannya yang disampaikan kepada wartawan di Padepokan Mondi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Kamis (31/12/2020).

Dan ia juga menyampaikan apresiasinya terhadap keputusan besar pemerintah tersebut.

“Kami sangat mengapresiasi pemerintah karena telah membubarkan FPI. Dan kami tentu mendukung pemerintah agar menindak tegas ormas radikal dan intoleran di tahun 2021,” tandasnya.

Menurut Ali, SKB yang telah ditandatangani oleh 6 lembaga setingkat Kementerian tersebut bukan tanpa alasan, segala bentuk aktivitas FPI dilarang oleh pemerintah karena menurut Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan sudah tidak lagi memiliki legal standing sebagai ormas maupun organisasi biasa. Terlebih lagi, FPI per tanggal 20 Juni 2019 sudah tidak terdaftar sebagai organisasi masyarakat.

Sementara itu, sejauh ini FPI sering melakukan tindakan provokasi yang menyulut kebencian di tengah masyarakat antar sesama anak bangsa yang memiliki keyakinan yang berbeda-beda. Dakwah FPI juga disebutkannya kerap kali menimbulkan keresahan sosial, hal ini dikarenakan ketika ada suatu hal yang menurut mereka tidak benar, mereka langsung melakukan tindakan yang mestinya tidak dilakukan, karena mereka tidak memiliki wewenang untuk menindak hal tersebut.

“Setidaknya sejak dibentuk pada tahun 1998 Front Pembela Islam kerap kali identik dengan beragam aksi kekerasan dan main hakim sendiri,” ujarnya.

Padahal kata Ali, Indonesia adalah tempatnya bagi seluruh masyarakat yang sangat majemuk dan memiliki perbedaan yang komplek. Tentu sikap saling menghargai dan toleransi menjadi sesuatu yang penting dipelihara di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Rumah besar Indonesia yang majemuk dan beragam yang terikat dalam prinsip kebhinekaan dan menjunjung tinggi agar saling menghargai dan menghormati perbedaan keyakinan dan pemahaman haruslah tetap kita jaga demi persatuan dan kesatuam NKRI,” tuturnya.

Diterangkan Ali, bahwa beberapa insiden penggerudukan FPI seperti dilansir oleh banyak media menunjukkan keberingasan mereka. Diantaranya insiden Ketapang pada tahun 1998 yang melibatkan ratusan preman Ambon, kemudian insiden penggerudukan Sekolah Sang Timur tahun 2004 di mana sekolah tersebut dianggap menyebarkan agama Katolik.

Kemudian aksi penggerudukan warung makan Coto Makassar pada tahun 2011 karena buka di siang hari saat bulan puasa. Kemudian aksi unjuk rasa di Balai Kota DKI Jakarta pada tahun 2014, di mana massa pimpinan Sobri Lubis dan Rizieq Shihab itu melempari gedung pemerintahan dengan batu dan kotoran hewan.

Selain itu, beberapa kantor media di Indonesia juga memiliki pengalaman digeruduk oleh FPI. Beberapa diantaranya adalah kantor berita Kompas, Jawa Pos, Majalah Playboy, SCTV, Rakyat Merdeka dan beberapa kegiatan yang menyasar Kedutaan-Kedutaan Besar Negara Sahabat.

“Dakwah ala FPI ini menurut hemat kami sangat tidak cocok dengan sosial budaya masyarakat Indonesia yang beragam. Dakwah yang
cenderung keras ini justru tidak menampilkan wajah Islam yang seharusnya santun dan membawa rahmat bagi seluruh alam serta tidak menjadikan objek dakwahnya bersimpati,” ucap Ali.

Selain itu, Ali juga mengajak kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak lagi terlibat secara aktif maupun pasif dengan ormas yang mengusung pemikiran radikal dan intoleran, apapun ormasnya.

“Kami mengajak kepada seluruh elemen masyarakat agar tidak terlibat pada ormas-ormas baru yang radikal dan intoleran di tahun 2021,” seru Ali.

Terakhir, ia pun menyerukan kepada seluruh masyarakat untuk tetap berikhtiar dan bertawakkal untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang lebih baik, damai dan kondusif, serta segera keluar dari situasi sulit yakni pandemi COVID-19.

“Mengajak kepada seluruh elemen masyarakat untuk menjaga stabilitas dan keamanan nasional demi Indonesia damai, dan bersama-sama berdoa dan berikhtiar agar bangsa Indonesia segera keluar dari situasi pandemi Covid-19,” tutupnya. []

Komentar

News Feed