oleh

Jakarta Dihantam Suara Dentuman Dua Kali, Ada Apa Gerangan?

indonesiakita.co – Dua kali dentuman keras yang terjadi di wilayah Jakarta Selatan menjadi sorotan publik. Menanggapi hal ini, Dosen Meteorologi STMKG, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Deni Septiadi mengatakan, bahwa dirinya belum bisa memastikan apa yang terjadi pada fenomena tersebut.

Menurutnya, jika melihat  kebelakang, sepanjang tahun 2020 sudah 3 kali dentuman terjadi di antaranya yang pertama terjadi tanggal 11 April 2020 (02.00 WIB dini hari) mengejutkan warga di sekitar Jakarta, Depok, Bogor, hingga Bekasi.

Sementara itu yang kedua tanggal 11 Mei 2020 (00.45 dini hari) didengar oleh warga di sekitar Jawa Tengah. Dentuman ketiga terjadi tanggal 21 Mei 2020 pagi hari (09.00 WIB) menghebohkan warga Bandung dan sekitarnya.

“Dari ke 4 kejadian dentuman yang terjadi sampai saat ini tidak ada sumber suara yang koheren dapat menjawab asal fenomena dentuman ini,” jelas Deni, tegasnya hari ini di Jakarta.

Adapun terkait dentuman keras yang terjadi tadi malam (20 September 2020), Jakarta dan sekitarnya memang sedang tertutup banyak awan-awan konvektif akibat fenomena Mesoscale Convective Systems (MCS) yang terbentuk di Selat Karimata sebelah Timur Laut Belitung.

Menurutnya, konvektif ini membawa sejumlah awan-awan Cumulonimbus (Cb) ke arah Jakarta. Sehingga dapat dipastikan potensi petir juga meningkat. “Suara gemuruh petir memang dapat membangkitkan getaran bahkan dapat terukur di Sesimograf sebagai getaran gempa dengan magnitud hingga 3.0 SR,” tambahnya.

Ia menambahkan, bahwa msyarakat sebetulnya mudah mengestimasi lokasi sumber suara petir berdasarkan guruh yang kita dengar. Jika diasumsikan kecepatan suara guruh sekitar 343 m/s dengan kilatan petir 20 detik (asumsi petir kuat), maka jarak sumber bunyi petir dapat dihitung sekitar 7 km. Bahkan dalam beberapa literatur telah disebutkan, pada kondisi atmosfer yang mendukung pun (ideal) suara guruh paling jauh dapat terdengar 16-25 km, dari sini kita bisa memetakan sumber suaranya.

“Skyquake di angkasa? ini juga tidak, karena sebenarnya fenomena tersebut membutuhkan sumber suara alami ataupun non alami baik di permukaan maupun di angkasa. Stratifikasi atmosfer di Benua Maritim Indonesia (BMI) yang lembap dan basah akibat guyuran hujan sebelumnya sangat tidak mendukung fenomena ini,” ungkap Deni.

Sementara itu, peristiwa yang terjadi sepanjang tahun 2020, tetap meyakini sumber suara dentuman adalah sumber suara non alami. “Pihak yang berwenang dapat segera melakukan penyisiran terhadap lokasi sumber suara yang dilaporkan oleh warga. Bahkan perlu mengecek ada tidaknya aktivitas pesawat yang dapat mengakibatkan efek sonic (sonic boom) di angkasa. Semoga dapat menjawab fenomena yang mungkin akan terjadi lagi,” tutup Deni.

Komentar

News Feed