oleh

Rizal Ramli: Pemerintah Tak Suka Lockdown, Akhirnya Indonesia Dilockdown Negara Lain!

indonesiakita.co – Ekonom nasional Rizal Ramli menanggapi pemberitaan di salah satu media yang menyebutkan bahwa ada sekitar 59 negara yang menutup akses terhadap masyararakat Indonesia. Hal ini tentunya terkait penyebaran corona di Indonesia yang semakin hari kian bertambah.

Adapun pada media tersebut bertuliskan ‘sebanyak 59 negara menutup pintu untuk warga Indonesia. Negara tersebut khawatir pendatang Indonesia bisa menularkan virus corona’.

Rizal menanggapi dengan cuitannya yakni, pemerintah tidak suka lock-down, tetapi akhirnya Indonesia yang dilock-down  oleh negara-negara lain, what an irony?,” tanya RIzal.

Sebelumnya diketahui, Rizal juga sempat menyarankan agar pemerintah melakukan lockdown. Hal ini tentunya menjadi salah satu cara guna menghadapi kondisi krisis yang menimpa Indonesia.

“Memang akibat krisis kebanyakan pertumbuhan ekonomi negatif. Singapura negatif banyak sekali, Thailand negatifnya banyak sekali. Tapi jangan lupa satu ekonomi yang ekspornya sangat besar, lebih besar dari GDP seperti Singapura dan beberapa negara lain dia akan kena dampak resesi global yang lebih besar,” tegas Rizal, beberapa waktu lalu kepada indonesiakita.

Ia mengatakan, pemerintah beberapa bulan lalu, masih ragu dengan sejumlah keputusan tentang status Indonesia. “Karena memang, kami lihat pemerintah ini ragu-ragu dan terus melakukan PSBB, nggak lagi, diperpanjang lagi. Lebih bagus total lockdown 2 minggu sampai 1 bulan, selama 1 bulan rakyat kita kasih makan yang miskin ya pekerja harian. Setelah itu masalah kita cepet selesai,” katanya.

Kendati secara finansial PSBB memang mengeluarkan anggaran lebih sedikit, namun, dampak ekonomi ke belakangnya menurut Rizal akan jauh lebih besar. “Daripada ragu-ragu terus maju mundur itu udah 6 bulan lebih, nanti akan berlanjut lagi. Memang biaya finansial mungkin lebih sedikit tapi dampak economic cost-nya jauh lebih besar dengan cara mencla-mencle ini. Mungkin kalau lockdown biayanya besar tapi hanya buat 1 bulan tapi setelah itu dampak ekonominya kecil,” pungkasnya. (Fel)

Komentar

News Feed