oleh

Rizal Ramli Prihatin dengan Pemimpin yang Cuma Punya Menteri Karena Hadiah Politik

indonesiakita.co – Tokoh nasional Rizal Ramli mengungkapkan bahwa sosok pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang memiliki penasihat yang mumpuni dan hebat dalam berbagai hal dalam menjalan pemerintahan. Selain itu menurutnya, pemimpin juga harus mengetahui banyak hal dengan literasi yang kuat.

“Pemimpin-pemimpin hebat biasanya dikelilingi penasehat-penasehat pintar & hebat. John F. Kennedy, Bung Karno, Soeharto dsb. JFK waktu kuliah biasa-biasa saja, tapi advisor-advisornya top. Ada pimpinan yg merasa ‘hebat’, padahal males baca, advisor2 hanya hadiah pernah bantu. Ya jadinya gagap, apalagi krisis,” ujarnya dalam keterangan tertulisnya, hari ini.

Ia juga menceritakan beberapa pemimpin negara di dunia yang memiliki kemampuan berpolitik internasional. “Presiden Nixon jago politik dan masalah dalam negeri AS, tapi buta politik luar negeri. Dia sampai ngemis 3 kali minta Kissinger gabung. Ternyata legacy Nixon terbesar, selain Watergate, adalah politik luar negeri, termasuk ketemu Mao dan mendorong Cina buka diri,” ungkapnya.

Rizal juga menjelaskan, di Indonesia ada juga sosok presiden Soeharto yang juga memiliki menteri-menteri yang paham dan ahli di bidangnya.

“Soeharto, jendral teruji, tahu diri lemah di bidang ekonomi & sosial. Memilih Wijoyo dkk utk membantu dalam bidang ekonomi, Prof. Selo Soemarjan & Prof. Koentjoroningrat utk beri nasehat di bidang sosiologi & antrophologi. Ada yg ndak doyan baca, sukanya hanya ABS (asal bapak senang-red) & KKN (korupsi, kolusi nepotisme-red, ya gagap, ambyar,” tambah Rizal.

Selain itu, Indonesia juga memiliki tokoh besar yang berasal dari pergerakan, misalnya saja Tjokroaminoto, Sukarno, Hatta, Natsir. Ali Sostro, Syahrir yang banyak mengetahui hal hal secara luas melalu proses membaca pengalaman dari seluruh dunia, “Jadi memang, Agus Salim dan banyak lain bahkan otodidak. Karakter mereka kuat krn ditempa perjuangan yg panjang dan sense of mission yg kuat,” sebutnya.

Bahkan, Rizal mengungkapkan bahwa Soekarno sempat-sempatnya memilih penjara karena keinginnya yang kuat soal membaca. “Ketika Sukarno dipenjara di Banceui, dia menulis surat kepada Gubernur Jendral supaya dipindahkan ke penjara Sukamiskin, penjara khusus utk Belanda, hanya krn disitu banyak buku & perpustakaan. Bung Karno, insinyur yg banyak baca. Ketika dibuang ke Ende, Flores, makin banyak yg dibaca,” tutupnya. (Fel)

Komentar

News Feed