oleh

Ini Harapan Rizal Ramli Soal Dunia Pendidikan

indonesiakita.co – Tokoh nasional Rizal Ramli mengaku masih prihatin dengan dunia pendidikan di Indonesia. Lalu bagaimana ia menceritakan agar pendidikan dan generasi yang dicetak dapat bersaing di berbagai dunia.

Berikut wawancara Rizal Ramli dengan redaksi indonesiakita.co.

Redaksi: Pak Rizal, rasanya informasi sudah terbuka luas mengenai apa yang pernah anda lakukan dalam dunia pendidikan. Namun, yang jadi pertanyaan kami adalah bagaimana agar mahasiswa lulusan di Indonesia ini bisa bersaing.

Rizal Ramli: Pada dasarnya, pendidikan itu adalah dunia yang tak bisa lepas dari hidup. Kemudian sejauh mana pemerinah mendukung pendidikan di Indonesia.

Karena penting, bahwa jumlah mahasiswa di kampus-kampus mulai berkurang, karena kesiapan kampus untuk mendidik sumber daya manusia (SDM) yang melek teknologi harus didukung oleh regulasi pemerintah.

Kita belum siap, internetnya belum siap, regulasi dan pemerintah belum siap. Kampus yang siap masih hitungan jari, seperti ITB , ITS, dan beberapa kampus lain, Binus misalnya.

Zaman dulu, kehebatan seseorang dinilai jika dia menguasai tanah, jaman revolusi indusri dengan menguasai industri, dan zaman sekarang adalah mereka yang menguasai teknologi digital, kalau kita tidak siap, akan tergerus bangsa lain,”.

Redaksi: Bagaimana anda menilai pendidikan di Indonesia saat ini?

Rizal Ramli: Dari ujungnya saja sudah tidak tepat, kan kita bisa lihat rektor saja dipilih oleh presiden, ini sangat memungkinan adanya intervensi terhadap kegiatan mahasiswa atau hal-hal yang bersifat kritis, seharusnya kan ada sejumlah guru besar yang mengujinya.

Tak ada lagi yang masuk QS World University Rankings, yang ada hanya daftar 1000 dunia. Inikan harusnya menjadi perhatian khusus, bahwa pendidikan di Indonesia masih sangat butuh perbaikan.

Saya ambil kata kata Einstein, Imajinasi lebih powerfull dari knowledge, pendidikan harus berubah jangan hanya kasih tahu informasi, tapi bagaimana memilah info, mengelola, menganalisa, sintesa dan cari solusi.

Jadi kalau melihat sekarang, anggaran terus naik, doktor, master makin banyak, tapi kinerjanya sangat merosot, Jadi kita harus berubah, supaya dalam lima tahun harus ada universitas Indonesia yang bisa masuk 200 paling baik.

Ini rusaknya karena universitas dikelola secara birokratis, tidak secara inovatif, feodal, dan tidak secara akademis, karena di eras saya masih kuliah, ada peringkat kampus kita 200 dunia, bahkan 150 dunia.

Redaksi: Pak Rizal yang terakhir, harapan anda terhadap dunia pendidikan ini?

Rizal Ramli: bagi saya sebetulnya simpel aja, anggaran disesuaikan, besar anggaran ya besar yang dikeluarkan untuk pendidikan. Tenaga pendidikan yang memiliki kapasitas mumpuni, fasilitas tentunya sangat penting untuk menunjang kemampuan dan kreatifitas mahasiswa, dan kasih mahasiswa kebebasan berpendapat agar menimbulkan semangat yang menjelaskan bahwa mereka calon pemimpin masa mendatang.

Bisa juga kita membangun kampus di daerah-daerah, agar banyak mau kuliah. Karena dengan membangun kampus, nantinya akan meningkatkan perekonomian daerah tersebut, anak-anak bisa kuliah, warganya bisa sewakam kos-kosan, warung bermunculan, inikan selain menumbuhkan ekonomi, juga membuat gairah pendidikan kita semakin baik.

Sekarang kita lihat, Indonesia sedang menghadapi pandemi corona, yang juga tentunya mengganggu sistem pendidikan kita. Jika saja, pemerintah memilii kemampuan dalam penanganan soal corona ini, kita bisa selamat melaluinya.

Tapikan ini tidak, ekonomi kita semakin terpuruk, hutang kita menumpuk, nah… jika beberapa negara di Asia ini cepat melalui pandemi ini, artinya negara-negara tersebut  sudah berada di fase perbaikan sektor lainnya, ekonomi dan pendidikan misalnya. Jadi…jika menghadapi pandemi ini saja kita masih mengalami kesulitan, dan ekonomi semakin terpuruk, dunia pendidikan kita juga bisa terganggu.

Pendidikan di Indonesia tak bisa hanya diselesaikan dengan kartu, tapi tindakan yang sesuai dengan harapan semua generasi muda tentang pendidikan,” tutup Rizal. (Fel)

Komentar

News Feed