oleh

Fadli Zon: Jokowi Permalukan Dirinya Sendiri!

indonesiakita.co – Politisi Partai Gerindra Fadli Zon mengkritik sikap presiden Jokowi yang marah di hadapan para menteri dan beberapa pimpinan lembaga tinggi negara. Menurutnya, ada dua sumber keprihatinannya. Pertama, sebagai pemimpin, presiden seharusnya mengerti bahwa adab seorang pemimpin adalah bertanggung jawab atas kesalahan anak buahnya.

Menurutnya, ada dua sumber keprihatinannya. Pertama, sebagai pemimpin, presiden seharusnya mengerti bahwa adab seorang pemimpin adalah bertanggung jawab atas kesalahan anak buahnya.

“Dengan mengumbar pidato marah-marah tersebut, Presiden bukan hanya telah mempermalukan anak buahnya, tapi juga sedang mempermalukan dirinya sendiri sebagai pemimpin,” twit Fadli melalui akun @fadlizon di Twitter, Selasa (30/6).

Fadli mengatakan, kalau Jokowi  menyebut menterinya tak becus bekerja, sementara  presiden sendiri tidak melakukan langkah apa pun untuk menghentikan, atau memutus ketidakbecusan itu, bahkan sesudah lebih dari seminggu rapat kabinet tadi berlangsung, secara tak langsung presiden sedang menunjukkan ketidakcakapannya dalam memilih, mengelola, serta mengontrol kinerja para menterinya. Apalagi, kata dia, sejak awal presiden sudah menegaskan tidak ada yang disebut visi misi menteri. Yang ada hanyalah visi misi Presiden.

Semua menteri seharusnya berada di bawah pengawasan dan kendalinya.  Kedua, lanjut Fadli, masih terkait prinsip dasar kepemimpinan, mengkritik, menegur, atau memarahi anak buah di muka publik bukanlah sebuah tindakan yang patut.

Dia menyatakan bahwa pemimpin memang boleh menegur, bahkan hingga sekeras-kerasnya pada anak buah, atau memarahi mereka sekasar-kasarnya, tetapi semua itu seharusnya dilakukan di ruang tertutup.

Fadli menambahkan, bahwa dalam urusan prestasi, jika anak buahnya cakap maka seorang pemimpin seharusnya memujinya di ruang terbuka. Selain sebagai bentuk apresiasi, hal itu juga untuk mendongkrak wibawa kepemimpinannya.

Adapun menurutnya, cara seorang pemimpin meninggikan dirinya sendiri adalah dengan meninggikan anak buahnya. Sebaliknya, jika seorang pemimpin merendahkan anak buahnya, maka sebenarnya dia sedang merendahkan diri sendiri.

“Kenapa isu adab kepemimpinan ini perlu kita anggap penting, karena kunci utama  menghadapi dan menangani krisis adalah kepemimpinan,” jelasnya.

Fadli menyatakan seperti pernah disinggungnya beberapa waktu lalu  dia setuju dengan pernyataan Jeffrey Sachs bahwa untuk menghadapi pandemi dan krisis yang mengikutinya, dibutuhkan sebuah kepemimpinan yang cakap, persoalan itu bukan hanya ada pada satu-dua orang menteri saja, namun melekat pada seluruh pemerintahannya. “Sebab, dengan ataupun tanpa Covid-19, sejak awal pemerintahan ini selalu menyangkal bakal datangnya krisis,” tutupnya.

Sebagai informasi, kemarahan itu disampaikan pada pembukaan sidang kabinet paripurna di Istana Negara, 18 Juni 2020, tetapi rekamannya baru diunggah Sekretariat Presiden 28 Juni 2020. (Waw)

Komentar

News Feed