oleh

KPK Periksa 9 Saksi Kasus Dugaan Korupsi di PT Dirgantara

indonesiakita.co – Setidaknya, ada 9 saksi dalam kasus dugaan korupsi pemasaran dan penjualan pesawat dan helikopter di PT Dirgantara Indonesia. Adapun delapan diantaranya akan diperiksa di Polrestabes Bandung, Jawa Barat.

“Mereka akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka IRZ (Irzal Rinaldi Zailani),” ujar Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri, hari ini di Jakarta.

Sementara, satu saksi yang akan diperiksa di Gedung KPK yakni Nurwasiah yang merupakan Staf Keuangan di tiga perusahaan, yakni PT Abadi Sentosa Perkasa, PT Angkasa Mitra Karya, dan PT Bumiloka Tegar Perkasa. “Saksi Nurwasiah juga akan diperiksa untuk tersangka IRZ,” tambah Fikri Ali.

Secara keseluruhan, mereka adalah Kadiv Perbendaharaan PT DI Deddy Iriandy, Staf Departemen Project Manajer Office PT DI Achmad Senjaya, Manajer Keuangan Teknologi dan Pengembangan 2010-2013 PT DI Dedi Turmono, Staf Sales PT DI Kabul Rajarja, Divisi Sales Direktorat Niaga PT DI Djajang Tarjuki, Kadiv Produk Jasa dan Purna Jual PT DI Toto Pratondo, Divisi Sales Direktorat Niaga 2015-2015 PT DI Enang Suparman, Supervisor Sistem Senjata Utama PT DI Chairul Anwar.

Sebaga informasi, KPK baru menetapkan dua orang sebagai tersangka. Mereka adalah mantan Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso dan mantan Asisten Direktur Utama bidang Bisnis Pemerintah PT Dirgantara Indonesia Irzal Rinaldi Zailani.

Dimana kasus korupsi ini bermula pada awal 2008, saat Budi Santoso dan Irzal Rinaldi Zailani bersama-sama dengan Budi Wuraskito selaku Direktur Aircraft Integration, Budiman Saleh selaku Direktur Aerostructure, serta Arie Wibowo selaku Kepala Divisi Pemasaran dan Penjualan menggelar rapat mengenai kebutuhan dana PT Dirgantara Indonesia untuk mendapatkan pekerjaan di kementerian lainnya.

Pada Juni 2008 hingga 2018, dibuat kontrak kemitraan atau agen antara PT Dirgantara Indonesia yang ditandatangani oleh Direktur Aircraft Integration dengan Direktur PT Angkasa Mitra Karya, PT Bumiloka Tegar Perkasa, PT Abadi Sentosa Perkasa, PT Niaga Putra Bangsa, dan PT Selaras Bangun Usaha.

Atas kontrak kerjasama tersebut, seluruh mitra atau agen tidak pernah melaksanakan pekerjaan berdasarkan kewajiban yang tertera dalam surat perjanjian kerjasama.

PT Dirgantara Indonesia baru mulai membayar nilai kontrak tersebut kepada perusahaan mitra atau agen pada 2011 atau setelah menerima pembayaran dari pihak pemberi pekerjaan. Selama tahun 2011 sampai 2018, jumlah pembayaran yang telah dilakukan oleh PT Dirgantara Indonesia kepada enam perusahaan mitra atau agen tersebut sekitar Rp 205,3 milyar dan USD 8,65 juta, atau sekira Rp 330 M.

Setelah keenam perusahaan menerima pembayaran, terdapat permintaan sejumlah uang baik melalui transfer maupun tunai sekitar Rp 96 miliar yang kemudian diterima oleh pejabat di PT Dirgantara Indonesia (persero). Di antaranya Budi, Irzal, Arie Wibowo, dan Budiman Saleh. (Waw)

Komentar

News Feed