oleh

Terkuak! Ini Dua Anggota OPM Diduga Penembak Tim Medis Covid-19 di Papua

indonesiakita.co – Kasus penembakan terhadap dua anggota tim medis yang merupakan anggota Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Intan Jaya, Papua terkuak. Disebut-sebut, Almalek Bagau dan Eunico Somou adalah pelakunya, yang tak lain adalah anggota OPM.

Dua nama tersebut muncul karena sebelumnya beredar video dari kelimpok OPM yang mengatakan, bahwa mereka adalah pelaku penembakan tersebut.

“Kita lihat dari video dan rekaman yang mereka sebarkan. Diduga bahwa dua orang itu menjadi informannya keamanan. Maka TPN/OPM ini tidak mau kalau ada masyarakat sipil digunakan untuk menjadi informan. Dalam bahasa daerah yang dipakai pelaku juga menyebutkan hal yang sama,” ujar Bupati Natalis Tabuni didampingi Kapolres Intan Jaya AKBP Yuli Karre Pongbala, dan Ketua Harian Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Intan, T Mirip kepada  wartawan di Jayapura, Jumat, 5 Juni 2020.

Bupati menjelaskan, dari rekaman video yang beredar kelompok ini juga menggunakan bahasa daerah tiga suku besar di wilayah Pegunungan. Namun, dia mengaku tidak mengetahui dua kelompok ini dari kelompok mana. Karena pelaku menggunakan bahasa daerah.

Ia juga mengimbau kepada masyarakat di Kabupaten Intan Jaya untuk tidak sembarang melintas wilayah, mengingat di tempat kejadian penembakan dua petugas medis Gugus Tugas Covid, belum ada pos pengamanan. Tetapi di Distrik Homeyo sudah ada pos polisi. “Homeyo dan Wandai itu kan berbatasan, yang merupakan distrik pemekaran dari Homeyo,” jelasnya.

Natalis menambahkan, dari 8 distrik untuk pos pengamanan, baik itu Pos Ramil maupun Pos Polsek baru ada di tiga distrik yakni, Sugapa, Hitadipa. Sedangkan lima distrik lainnya belum ada pos pengamanan diantaranya Tomasiga, Agisiga, Ugimba, Wandai dan Iyandoga belum ada pos keamanan dan juga anggota kepolisian di sana. Sedangkan tiga distrik lainnya yakni, Sugapa, Hitadipa dan Homeyo sudah memiliki pos pengamanan.

”Daerah ini kan daerah baru pemekaran dengan medan yang sulit serta akses darat dengan udara belum memadai sepenuhnya. Sehingga kalau kita membuka pos harus dikaji baik dan perhitungkan baik dengan menghimpun aspirasi dari masyarakat dan orang lokal di sana. Supaya pembangunan dan pembukaan pos itu betul–betul bisa mengayomi masyarakat. Belum ada permintaan dari Pemda untuk penambahan pos,” tutupnya.

Sebelumnya diketahui, dua orang petugas medis dan satu orang petani bernama Yunus Sani di Distrik Wandai Mei 2020 lalu diserang oleh kelompok separatis. (Waw)

Komentar

News Feed