oleh

Boni Hargens Sebut Din Syamsuddin dan Refly Harun Masuk Dalam Kelompok Kudeta Jokowi?

indonesiakita.co – Salah satu pendukung Jokowi dalam kampanye 2019 lalu, Boni Hargens menyebut ada sejumlah tokoh yang sedang merancang kudeta terhadap Jokowi saat ini. Ia mengatakan, kelompok tersebut memanfaatkan krisis ekonomi dan beberapa poin lainnya sebagai cara untuk mendelegitimasi pemerintahan.

“Isu lain yang mereka gunakan adalah potensi krisis ekonomi sebagai dampak inevitable dari pandemic Covid-19. Kelompok ini juga membongkar kembali diskursus soal Pancasila sebagai ideologi Negara,” kata Boni dalam keterangan persnya, kemarin.

Boni menegaskan apa pun isu yang mereka gunakan, itu hanyalah instrumen untuk melancarkan serangan-serangan politik dalam rangka mendelegitimasi pemerintahan yang sah saat ini.

Boni menilai kelompok ini tidak bisa disebut sebagai “barisan sakit hati” semata karena ini bukan lagi dendam politik semata. Mereka adalah “laskar pengacau negara” dan “pemburu rente”.

Boni menjelaskan, ada beberapa kategori kelompok, yakni; (a) kelompok politik yang ingin memenangkan pemilihan presiden 2024, (b) kelompok bisnis hitam yang menderita kerugian karena kebijakan yang benar selama pemerintahan Jokowi.

Selanjutnya, (c) ormas keagamaan terlarang seperti HTI yang jelas-jelas ingin mendirikan negara Syariah, dan (d) barisan oportunis yang haus kekuasaan dan uang. “Ada Bandar di balik gerakan mereka, mulai dari bandar menengah sampai bandar papan atas. Bandar menengah misalnya oknum pengusaha pom bensin dan perkebunan asal Bengkulu, dan bandar papan atas ya tak perlu saya sebutkan di sini,” tambahnya.

Selain itu, ia juga menyayangkan tokoh seperti Din Syamsuddin ikut di dalam gerakan itu. “Beliau kan panutan umat, tokoh yang didengar banyak orang,” tambahnya.

Adapun menurutnya, negara ini butuh negarawan dari segala lapisan supaya bisa menjadi bangsa besar. Tokoh agama dan intelektual adalah panutan masyarakat.

“Maka, harus ada keteladanan moral dalam bertindak dan berbicara di ruang publik,” tegasnya.

Ia juga menyingung nama Refly Harun. “Saya juga heran dengan Bung Refly Harun. Kenapa menjadi begitu galak setelah tidak menjadi komisaris? Kan jadinya ada kesan tidak baik seolah-olah ada vested interest di balik kritisisme beliau terhadap pemerintah. Banyak cara kok untuk memberi masukan pada pemerintah, tanpa harus membuat gelombang keresahan yang merugikan masa depan bangsa dan negara,” tutupnya. (Fel)

Komentar

News Feed