oleh

Analis Sosial: Aksi di AS Berpotensi Picu Gejolak di Indonesia!

indonesiakita.co – Aksi unjuk rasa menentang rasisme dan kekerasan terhadap George Floyd di Miineapolis, Amerika Serikat masih mencuri perhatian publik. Pasalnya, dalam beberapa hari, sejumlah wilayah di negeri Paman Sam tersebut melakukan unjuk rasa dalam skala besar.

Menanggapi hal ini, analis sosial Universitas Bung Karno, Muda Saleh mengatakan, bahwa aksi unjuk rasa tersebut tidak hanya bermotif penolakan terhadap warna kulit serta kekerasan. Melainkan ada gejolak lain yang dilakukan oleh warga AS.

“Kita tau, nyaris di berbagai belahan dunia ini manusia hidup di dalam rumah dalam beberapa bulan. Pecahnya kasus kematian George Floyd bukan hanya kekesalan warga terhadap aksi seorang polisi yang melakukan tindakan keji pada George, ada hal lain yakni kondisi psikologis warga yang meluapkan amarah saat menjalani kehidupan pada saat menjalani lockdown,” ujarnya.

Ia menjelaskan, bahwa upaya warga untuk menghukum oknum polisi tersebut serta pengrusakan sejumlah fasilitas merupakan amarah yang tak terkendali. “Jelas, itu di luar kendali, ketika mereka mendapat trigger (pemicu-red) aksi unjuk rasa menjadi tumpah ruah dimana-mana, apalagi kasus rasis di AS yak hanya sekali terjadi, tapi tak sebesar ini,” tambahnya.

Adapun menurutnya, unjuk rasa skala besar juga bisa terjadi di Indonesia. Karena masyarakat juga mendapatkan hal yang sama, yakni berdiam diri di dalam rumah dalam waktu yang cukup lama.

“Unjuk rasa skala besar juga bisa terjadi di Indonesia, karena kita tau … pemerintah sering memberikan kebijakan yang berubah-ubah, dan kerap merugikan masyarakat. Kondisi psikologis masyarkat kita saat ini kian hari semakin mengalami kesulitam, ekonomi negara morat-marit, wacana new normal dimana-mana sementara aksi pembatasan kunjungan dilakukan oleh sejumlah daerah, artinya sama aja… disuruh keluar tapi dibatasi aksesnya,” ungkapnya.

Muda juga meyakini, jika dalam waktu dekat pemerintah tak mampu memberikan kenyamanan, serta bekerja tidak maksimal dalam penganganan pandemi corona, maka luapan emosi masyarakat tak bisa dibendung.

“ini soal perut, kebutuhan mendasar, banyak masyarakat kita yang nganggur karena di PHK, sementara uang di atas berputar untuk kepentingan yang seharusnya bisa dialokasikan untuk rakyat, tapi pada kenyataannya tidak. Kalau pemerintah tak memiliki solusi atas pandemi ini, tak menutup kemungkinan aksi besar besaran akan terjadi di Indonesia,” tutupnya. (Waw)

Komentar

News Feed