oleh

Rizal Ramli Buka-bukaan Soal Pemimpin Ideal di Indonesia

indonesiakita.co – Tokoh nasional Rizal Ramli mengingatkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan ditakuti banyak negara pada masa lalu. Untuk itu, menurutnya, setiap pihak memandang bahwa pentingnya menjaga marwah Indonesia di mata dunia.

Redaksi indonesiakita.co mewawancari Rizal di rumahnya di kawasan Bangka, Jakarta Selatan, dan tentunya dengan proses social distancing. Berikut wawancara dengan Rizal Ramli;

Redaksi: Pak Rizal… bagaimana anda menilai sebuah pemimpin.

Rizal Ramli: Kepala negara itu sama dengan ayah, dalam rumah tangga, dia harus bersikap adil dengan semua anaknya, baik laki maupun perempuan. Tapi, yang kita rasakan saat ini adalah banyaknya daerah-daerah tertinggal yang masih memiliki kekurangan, satu contoh di depan mata kita misalnya saja Papua.

Gusdur mampu membuka mata kita lebar-lebar dan menjadikan Papua bukan anak tiri, Gusdur juga sangat dekat dengan tokoh-tokoh Papua, jadi gak heran kalau kesana (Papua-red) Gusdur selalu mendapat perhatian khusus bagi warga sana.

Sebagai informasi, Papua sebelumnya bernama Irian Jaya, dan Gusdur mengganti nama tersebut dengan alasan untuk mengangkat derajat masyarakat di wilayah tersebut. Pada kesempatan dialog dengan warga Papua pada penghujung tahun 1999, Gusdur menjelaskan, bahwa Irian dalam arti bahasa Arab (Urryan) yang berarti ‘telanjang’. Alasan tersebut yang membuat Gusdur ingin mensejajarkan masyarakat Papua dengan seluruh wilayah yang ada di Indonesia.

Redaksi: lalu bagaimana dengan pemimpin Indonesia yang lainnya Pak Rizal?

Rizal Ramli: Soekarno, beliau belum bicara telunjuknya saja sudah bisa bikin jutaan orang di lapangan terdiam, pandangan matanya jika bicara dengan pemimpin dunia dilakukan dengan tatapan tajam, bersahabat, dan berani.

Dikepemimpinan Soekarno, tentara kita disegani, bahkan angkatan udara kita disegani negara lain. Beliau juga mampu membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang disegani, terutama bagi negara besar seperti Amerika dan Inggris.

Redaksi: Bagaimana dengan Pak Harto (Soeharto-red)?

Rizal Ramli: Sama juga, berani, tegas, dan meski saya sempat dipenjara di era Orde Baru, tapi ada yang saya petik dari kepemimpinan Pak Harto, yakni mau terima kritik. Bahkan, tak jarang orang berambut cepak datang ke kantor saya untuk mendapatkan data analisa ekonomi dari kami, dan memang banyak analisa kami yang dipakai.

Ini yang harus dipahami, bayangkan, saya ditahan di era pak Harto, saya kritik beliau bukan tanggung-tanggung, tapi… kok bisa-bisanya beliau juga mau mendengar analisa dari kami yakni dari luar pemerintahan, inikan menggambarkan seorang pemimpin yang bisa memahami bahwa ada hal baik yang bisa dipetik dari luar pemerintahan.

Tanpa berfikir panjang, kami pun bertanya bagaimana mengenai kepimpinan saat ini.

Redaksi: Pak Rizal, bagaiman dengan kondisi kepemimpinan kita saat ini?

Rizal Ramli: Saya inikan , siapapun pemimpinnya, jika memiliki kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat, ya saya akan kritik, terlebih kebijakan yang merugikan negara. Saya juga pernah ada di kabinet pak Jokowi.

Di dalam rapat, sama.. kalau ada yang menurut saya ganjil, saya kritik, misalnya saja pada saat saya meminta agar presiden Jokowi meninjau ulang rencana aksi ekspansi PT Garuda Indonesia. Yakni soal rencana pembelian 30 unit pesawat.

Karena memang, sebelumnya kan beli pesawat dengan pinjaman USD 44,5 miliar dari China Aviation Bank untuk beli pesawat airbus 350, 30 unit. Itu hanya cocok Jakarta -Amerika dan Jakarta-Eropa. Pengalaman Garuda selama ini Jakarta-Amsterdam, Jakarta-London, penumpang 30 persen, merugi terus.

Redaksi: Pak Rizal, adakah saran anda yang dipakai pemerintah saat ini?

Rizal Ramli: Saya tak mau menghitung-hitung apa yang saya lakukan, tapi pemerintah harus belajar dari kesalahan-kesalahan sebelumnya agar tidak mengulangnya. Misalnya saja soal ekonomi, pertumbuhan ekonomi kita saja saya sudah sampaikan jauh sebelumnya tak akan sampai pada angka 4%, belakangan BPS merilisnya dengan angka yang tak jauh berbeda.

Tim ekonomi saat ini juga mengelola perekonomian negara dengan kebijakan yang itu-itu saja, yakni mengandalkan utang untuk menambal kekurangan, dengan bunga yang besar, ini padahal bakal merugi, masih dilakukan juga, dan sibuk-sibuk bantah.

Sekarang lihatlah, RI sedang merasakan krisis ekonomi, kita belum bisa melihat solusi apa yang akan dilakukan pemerintah, dan inipun saya sudah sampaikan agar dana infrastruktur, dana pembangunan Ibu Kota Baru, dan masalah kartu prakerja itu bisa dialokasikan untuk rakyat kita yang lagi membutuhkan bantuan langsung. Tapi pada implementasinya, anda bisa lihat sendiri, 

Redaksi: Terakhir Pak Rizal, bagaimana sosok pemimpin yang ideal di mata anda?

Rizal Ramli: Pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang bisa menyenangkan dan memakmurkan rakyat, itu intinya, memangnya bekerja buat siapa?.. kan rakyat. Pemimpin juga mampu memberikan perhatian yang sama terhadap seluruh daerah.

Pemimpn juga mau dikritik, menepati janjinya pada saat kampanye, dan pastinya pemimpin juga bisa membawa marwah bangsa Indonesia dihargai, disegani oleh bangsa bangsa lain.

Anda bisa melihat di sosial media, bagaimana suara masyarakat, cerita mereka, keresahan yang mereka alami, kita juga dihadapkan pada aturan yang terkadang berubah-ubah, sehingga membuat bingung masyarkat.

Saya ingatkan lagi, Soekarno jatuh karena ekonomi, Pak Harto juga jatuh karena kondisi ekonomi. Saat ini ekonomi kita susah, masyarakat juga terkena PHK karena corona, dan tentunya menjadi pekerjaan besar bagai pemerintah untuk mengatasi ini. 

Sebagai informasi, Rizal juga pernah menuliskan gambaran dalam krisis politik 1998 yang dihadapi mantan Presiden Soeharto dibandingkan dengan situasi yang terjadi saat ini melalui akun Twitternya, @RamliRizal.

“Pada akhir Mei 1998, Presiden Soeharto punya dua pilihan: memaksakan terus berkuasa, korban rakyat akan berkali-kali lipat. Akhirnya, Soeharto memilih jalan negarawan, mengorbankan egonya, agar korban rakyat tidak bertambah. Kalau terjadi hari ini, pilihan apa yang akan diambil ya?”

“Presiden Soekarno, Habibie, dan Gus Dur menghadapi dilema itu. Memaksakan terus berkuasa, korban rakyat banyak sekali. Semua pemimpin hebat itu, akhirnya memilih jalan negarawan dengan mengundurkan diri. Kira-kira kalau terjadi hari ini di tengah ketidakmampuan luar biasa, apa yang terjadi?”

 

Sumber: Twitter @RamliRizal

“Agar membaca apa yang ia sampaikan di sosial mediaupaya baca yg bener & teliti, termasuk tweet RR sebelumnya, jangan ngasal Tokoh2 itu punya pilihan: terus memaksakan diri berkuasa melawan kekuatan yg mau menjatuhkannya: Tapi korban rakyat akan banyak sekali, akhirnya Soekarno, Soeharto dan Gus Dur memilih utk menyerah,” tulisnya, dikutip dari beberapa Twit-nya. (Fel)

Komentar

News Feed