oleh

Pernah Kerja di Majalah ‘Bokep’ Dirut TVRI Dihantam Netizen

indonesiakita.co – Direktur Utama LPP TVRI Iman Brotoseno mendapat kecaman dari berbagai pihak. Pasalnya, masa lalunya yang merupakan penulis majalah porno.

Pengamat perilaku ruang media sosial Bagus Sudarmanto mendesak, agar Dewan Pengawas LPP TVRI melakukan klarifikasi terhadap dipilihnya Iman Brotoseno.

“Tentu saja, reaksi publik tak bisa diabaikan begitu saja. Perlu ada penjelasan, klarifikasi, dan lain-lain. Minimal teguran keras atau bentuk-bentuk sanksi lainnya sesuai aturan yang berlaku,” ujarnya, kemarin.

Ia pun menilai, bahwa apa yang pernah dibuat oleh Iman baik di sosial media akan berdampak langsung terhadap masyarakat. “Apapun yang diunggah pasti menuai reaksi. Kalau twitnya buruk, reaksi negatif yang diperoleh. Sebaliknya jika twitnya baik, akan dapat pujian,” sambungnya.

Bagus juga mengingatkan, bahwa jabatan Dirut TVRI harus memiliki tuntutan standar tanggung jawab sosial di atas rata-rata mayoritas masyarakat.

“Celakanya TVRI tengah dilanda masalah yang jadi sorotan publik beberapa bulan terakhir. Hal ini semakin memicu derasnya kecaman, publik kecewa, marah, dan menumpahkannya kepada sosok tersebut. Kalau ujung-ujungnya, dianggap tidak layak dan ada tuntutan untuk diganti, jadi wajar saja.

“Suka tidak suka, karut marut diselingkar pergantian pejabat TVRI ini, membuat citra TVRI sebagai lembaga penyiaran publik plat merah kian terpuruk. Sedih, mengingat di pundak TVRI tersemat tanggung jawab sebagai pemersatu bangsa dengan jaringannya yang luas dan merata di Indonesia,” tutupnya.

Iman sempat dikritik sejumlah netizen soal cuitan masa lalu dirinya. Dalam cuitannya, Iman menuliskan beberapa hal, salah satunya: “Akhirnya kita menemukan bagaimana mempersatukan negeri. Ya dengan Bokep,” cuit akun @imanbrt tertanggal 21 November 2013.

Namun demikian, Iman pun mengklarifikasi. Dia mengatakan, latar belakangnya sebagai seorang pekerja seni (sutradara film, penulis, fotografer) mungkin membuatnya mempunyai cara pandang bersikap yang bisa dianggap berbeda bagi sebagian orang. Menurutnya, banyak tulisannya, baik di blog pribadi atau majalah yang bisa menunjukkan siapa dirinya.

“Dalam tahun 2006–2008 saya sering menjadi kontributor foto dan artikel tentang penyelaman di berbagai majalah, termasuk salah satunya pernah dimuat hanya satu kali, di majalah Playboy Indonesia, edisi September 2006 dengan judul ‘Menyelam di Pulau Banda’. Tulisan ini fokus mengulas wisata bahari dan sama sekali tidak ada unsur pornografi,” kata Iman, Jumat (29/5).

Menurutnya, majalah tersebut sangat berbeda dengan versi di luar negeri. Banyak penulis juga mengisi majalah tersebut dan banyak tokoh nasional juga yang diwawancara di Playboy Indonesia. Menurut dia hal ini tentunya tidak menghilangkan integritas penulis dan tokoh yang bersangkutan, karena substansinya tidak terkait pornografi.

“Bahkan sikap Dewan Pers ketika itu menilai terhadap putusan MA yang memvonis Erwin Arnada sebagai Pemred majalah Playboy Indonesia pada tahun 2010. Dewan Pers, secara tegas menolak menyebutkan majalah Playboy Indonesia melanggar pasal pornografi. Bahkan Dewan Pers menilai, putusan tersebut merupakan bentuk kriminalisasi pers,” ungkapnya.

Menurut Iman, dalam cuitannya kala itu yang dituding mengandung pornografi saat ini menggunakan bahasa gurauan. Hal ini pantas kiranya mengingat polarisasi begitu kentara saat ini.

Karena pada dasarnya, setiap orang menurutnya memiliki rekam jejak masa lalu, termasuk bagaimana percakapan di media sosial. Apa pun itu, setiap orang tentu memiliki masa lalu, termasuk kesalahan yang dilakukan tanpa sengaja.

“Saat 14 tahun lalu, saya sebagai pekerja seni tidak menyangka bahwa, saya akan menduduki jabatan publik di TVRI. Saya bertanggung jawab atas apa yang sudah saya tulis di media sosial dan juga sikap saya sebagai warga negara. Bahwa di belakang hari ada yang mengungkap beberapa tulisan di jejaring sosial, setelah saya atas kehendak Allah SWT menjadi Direktur Utama LPP TVRI, terlepas dari adanya tujuan tertentu niatan sengaja membelokkan opini dan melakukan pembunuhan karakter tentu merupakan fakta yang harus saya hadapi,” lanjut Iman.

Ia juga mengaku akan berkomitmen dan fokus bekerja sebaik mungkin untuk kepentingan masyarakat bangsa dan negara. Lebih jauh Iman menegaskan dirinya juga sudah mulai berusaha menyelesaikan urusan internal yang sangat strategis di TVRI, yakni menyelesaikan urusan tunjangan kinerja karyawan khususnya mengenai rapel tunkin yang merupakan hak karyawan.

“Sejalan dengan itu saya bersama kolega anggota direksi juga memulai penyelesaian pengisian jabatan struktural yang masih kosong guna memperlancar urusan penyelenggaraan TVRI. Ini menjadi prioritas saya agar sebagai media Lembaga Penyiaran Publik TVRI dapat segera meningkatkan karyanya agar semakin maju berkarya, semakin bermanfaat untuk publik, bangsa dan Negara kesatuan Republik Indonesia,” pungkasnya. (Waw)

Komentar

News Feed