oleh

Jika Tidak Ditangani Serius, Surabaya Bisa Seperti Wuhan di China!

indonesiakita.co – Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, dr. Joni Wahyuhadi mengungkapkan, bahwa 64 persen lebih kasus covid-19 berada di Surabaya Raya. Bahkan ia mengatakan, jika Jatim tidak di tangani dengan serius, maka tak menutup kemungkinan akan bernasib sama dengan Wuhan, di China.

Berdasarkan perhitungan ahli epidemologi, transmision rate di Surabaya cukup tinggi yakni 1,6. Hal itu berarti, jika ada 10 orang yang positif Covid-19, maka dalam waktu satu minggu dapat menular menjadi 16 orang.

“Kalau tidak hati-hati menangani covid-19, maka Surabaya bisa menjadi Wuhan. Saat ini kalau epidemologi dihitung oleh para ahli transmission rate di Surabaya 1,6, artinya ada 10 orang (positif corona), dalam waktu satu minggu jadi 16 orang. Ini luar biasa penularannya di Surabaya,” tegasnya, kemarin.

Sementara itu, saat ini ada 3 kebijakan yang tengah dijalankan oleh pihaknya. Yaitu, melakukan tes, tracking dan treatment. “Tes masif sedang kita jalankan, kita dibantu oleh tim gugus tugas pusat. Ada dua mobil PCR, yang kita sebar ke rumah sakit untuk melakukan tes PCR secara langsung,” jelasnya.

Ia menambahkan, tingkat kematian akibat virus corona ini cukup tinggi, hingga mencapai 10 persen lebih. Untuk itu, secara konseptual pihaknya tengah membagi rumah sakit berdasarkan kondisi klinis pasien.

“Ini kan sedang kita persiapkan rumah sakit darurat, yang nantinya dapat menampung pasien dengan klinis ringan. Sedangkan seperti RSU dr Soetomo atau RS Unair nanti dapat digunakan untuk pasien dengan klinis sedang hingga berat. Kita sampaikan konsep itu ke Kemenkes, dan mereka setuju,” tegasnya.

Terkait dengan fasilitas rumah sakit seperti ventilator, dokter Joni menyebut, hingga saat ini banyak sekali sumbangan yang telah diberikan. Untuk itu, dirinya pun mengkoordinasikan hal ini ke rumah sakit rujukan, dengan mengkomunikasikan terlebih dulu apakah rumah sakit tersebut dapat mengoperasikan ventilator baru tersebut.

“Banyak donatur, dan sudah dibagikan ke rumah sakit. Karena ventilatornya baru, maka kita kontak dulu rumah sakitnya bisa atau tidak mengoperasionalkan ini. Kalau tidak nanti kita kirim ahlinya,” ungkapnya.

Joni menyebutkan, berdasarkan data di rumah sakit yang dipimpinnya, 69,2 persen pasien yang masuk ventilator, meninggal dunia, demikian juga di Jakarta 70 persen meninggal dunia. “Ventilator itu hati-hati. Data kita menunjukkan, di (RS) Soetomo 69,2 persen yang masuk ventilator meninggal. Di Jakarta kira-kira 70 persen, di Wuhan, 80 persen,” pungkasnya. (Fel)

Komentar

News Feed