oleh

Rizal Ramli: Sudah Saatnya Kita Kembali Pada Konsep Trisakti

indonesiakita.co – Bangsa Indonesia masih dihadapkan pada kondisi berbagai macam kesulitan seperti yang terjadi saat ini. Kendati demikian, tokoh nasional, sekaligus ekonom senior Rizal Ramli mengajak seluruh elemen masyarakat untuk dapat keluar dari keterpurukan tersebut.

Redaksi indonesiakita.co mendapat kesempatan wawancara dengan Rizal Ramli melalui sambungan teleponnya hari ini.

Berikut wawancara dengan Rizal Ramli;

Redaksi: Pak Rizal, bagaimana dan apa yang harus dilakukan oleh bangsa Indonesia dalam kondisi seperti saat ini?

Rizal Ramli: Pertama-tama, saya ucapkan Minal Aidin wal Faidzin, mohon maaf lahir dan bathin, karena dengan bermaaf-maafan, kita secara tidak langsung mengikhlaskan diri terhadap situasi yang diberikan oleh sang pencipta.

Namun, bukan berarti kita pasrah dengan kondisi, kan Tuhan memberikan kita akal dan fikiran untuk dapat keluar dari berbagai cobaan yang diberikannya. saya gak yakin Tuhan tidak memberikan kita kemampuan untuk keluar dari cobaan tersebut, karena kita diciptakan sebagai mahluk yang paling sempurna dibanding dengan mahluk hidup yang lain.

Mencari Celah dari Keterpurukan 

Redaksi: Pak Rizal, kita tau bahwa kondisi ekonomi kita terpuruk, masyarakat sulit bergerak untuk bisa melakukan aktivitas, lalu pertanyaannya, apakah masih ada cela agar kita keluar dari kondisi ini?

Rizal Ramli: tentu ada, ini perkara dari kitanya, apakah kita mampu, apakah kita bisa mencari cela tersebut, ataukah kita punya niat untuk merubah kondisi ini?. Saya rasa, sudah saatnya kita kembali kepada konsep Trisakti yang digagas oleh pendiri bangsa ini, yakni Bung Karno.

Bagaimana kita bisa berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian di bidang kebudayaan, sehingga kehidupan kondusif di tanah air bisa dicapai.

Redaksi: Bisa anda paparkan bagaimana mengimplementasikan ketiganya dalam situasi saat ini?

Kehidupan Berpolitik Dimulai dari Pribadi

Rizal Ramli: Soal politik tentunya cukup sulit ya, karena memang kehidupan berpolitik bangsa kita saat ini masih terkontaminasi pada kepentingan asing, serta kelompok. Namun, ini bisa dibangun dari pribadi masing-masing, yakni menyamakan persepsi, bahwa kita semua dihadapkan pada posisi yang sama. Tapi yang saya lihat, masih ada kelompok-kelompok politik yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan keberpihakan pada masyarakat.

Misalnya saja, kita masih melihat adanya bantuan dari satu atau dua parpol yang memberikan kepada masyarakat tanpa didasari kepentingan politik, juga masih adanya penolakan-penolakan atas intervensi kepentingan pihak asing di Indonesia, masih ada, namun sangat minim.

Bangun Peradaban Ekonomi

Adapun terkait berdikari di bidang ekonomi adalah, ya jika pemerintah tidak berdikari, setidaknya kita masing masing individu bisa berdikari dalam menjalankan kehidupan ekonomi kita yang dimulai dari rumah tangga masing-masing.

Misalnya dengan apa?…kreativitas individu..yaitu bagaimana bisa menciptakan peluang dari kesulitan ini. Mulai bercocok tanam. Kita tau bahwa Jepang, Vietnam dan beberapa negara lainnya di Asia Tenggara memiliki perkebunan atau pertanian yang dimaksimalkan oleh masyarakatnya.

Artinya apa? ketika krisis datang, mereka memiliki persiapan bahan pangan secara masing masing keluarga. Dengan demikian, ketika krisis mereda, tanaman jagung, padi, dan pertanian lainnya justru bisa menjadi bahan ekspor kita. Ini salah satu peluang yang bisa kita lakukan.

Redaksi: Pak Rizal, bagaimana dengan kewajiban pemerintah yang seharusnya menjalankan konsep ekonomi saat ini?

Rizal Ramli: Saya sudah berkali-kali katakan, gunakan uang infrastruktur, ibu kota baru, dan alihkan dana kartu prakerja untuk masyarakat kita, tapi inikan gak dilakukan, untuk itu ya kita harus tunjukkan bahwa kita bisa mandiri dari kesulitan yang sebetulnya diciptakan dari pemerintah ini.

Bangun Peradaban Budaya

Redaksi: Pak Rizal, soal budaya, apa kaitannya konsep berkepribadian berbudaya dengan kondisi saat ini?

Rizal Ramli: Jelas sangat besar, kita bisa lihat dari teori ‘sapu lidi’ masing-masing batang yang diikat dalam satu kesatuan, sehingga mereka kuat dan mampu membersihkan kotoran sampah yang disapu oleh kita.

Maksunya bagaimana?…kita menyadarkan diri, bahwa kita tinggal dan hidup dalam satu atap, di langit yang sama, di tanah yang sama, dan kita menghirup udara yang sama. Sikap tolong menolong adalah gambaran berbudaya yang paling mendasar.

Dengan demikian, akan tercipta rasa saling memiliki, saling menghargai, saling mencintai dan saling peduli. Akhirnya, jika yang satu merasakan sakit, yang lainnya juga merasakan hal yang sama.

Soalnya, dalam kondisi saat ini, masyarakat sangat mudah digoyang, karena perut lapar, kita sulit bergerak, sementara uang tak ada. Jika salah-salah, bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Nah…. dengan terciptanya hal tersebut, saya yakin kita bisa mencegah hal -hal yang tidak dinginkan tersebut.

Redaksi: Terakhir Pak Rizal, apa saran anda kepada pemerintah terkait konsep Trisakti dengan kondisi saat ini?

Rizal Ramli: Sebetulnya ini juga sudah berkali-kali sayas sampaikan, jauhkan, hindari kepentingan dominasi politik dan ekonomi pihak asing di Indonesia yang akan berpotensi menjerat bangsa kita, turunkan ego, jangan takut rugi, karena uang yang disimpan adalah uang rakyat, kembalikanlah pada rakyat. Cintai rakyat, karena kita hidup di bawah langit yang sama. di atas tanah yang sama, meminum air yang sama, tak ada ada alasan lagi untuk berbagai, mencintai rakyat, dan sudah saatnya kita betul-betul seratus persen kembali pada konsep Trisakti demi membangun bangsa yang besar ini” tutup Rizal. (Fel)

Komentar

News Feed