oleh

MUI Pastikan Zakat Boleh untuk Penanggulangan Covid-19

indonesiakita.co – Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Asrorun Ni’am Sholeh mengatakan, pihaknya telah mengeluarkan Fatwa Nomor 23 Tahun 2020. Adapun fatwa tersebut terkait zakat, infak dan sedekah di tengah pandemi corona.

Ia menjelsakan, bahwa fatwa tersebut disusun sebagai kesadaran penuh organisasi entitas ulama untuk menghadirkan pranata agama sebagai solusi yang dihadapi oleh umat dan bangsa, guna kepentingan mencegah, menangani dan juga menanggulangi Covid-19.

“Serta dampak ikutannya, baik dampak kesehatan, dampak sosial, maupun dampak ekonomi,” ujar Asrorun di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Senin, kemarin.

Adapun zakat dijelaskan, merupakan sebagai ibadah mahdhoh, yakni simbol ketaatan dan juga ketertundukan umat muslim kepada Allah, yang bersifat vertikal. Sementara itu di sisi lain, zakat juga memiliki fungsi untuk menjamin keadilan sosial, menjadi solusi atas permasalahan ekonomi, dan sosial sehingga tidak muncul ketimpangan di tengah masyarakat.

“Oleh karena itu Komisi Fatwa MUI menegaskan bahwa zakat boleh dimanfaatkan untuk kepentingan penanggulangan wabah Covid-19, dan dampaknya, dengan ketentuan-ketentuan tentunya,” jelas Asrorun.

Ia menambahkan, jika zakat didistribusikan untuk kepentingan penerima zakat secara langsung, penerima adalah merupakan salah satu di antara 8 golongan yang berhak menerima zakat atau asnaf yang sudah ditetapkan. Mereka yaitu muslim yang fakir, miskin, Amil, mualaf, yang terlilit utang, perbudakan, memerdekakan budak, Ibnu Sabil, dan atau fisabilillah.

Selain itu, distribusi zakat dapat digunakan untuk kepentingan modal kerja, atau berbentuk uang tunai, berbentuk makanan pokok, keperluan pengobatan, atau hal yang sangat dibutuhkan oleh mustahik.

Tak hanya itu, pemanfaatan harta zakat juga boleh bersifat produktif, seperti untuk kepentingan stimulasi kegiatan ekonomi fakir miskin yang terdampak wabah.

Selanjutnya, apabila didistribusi untuk kepentingan kemaslahatan umum, hal itu dimungkinkan dengan mengambil salah satu di antara 8 golongan yang berhak menerima zakat atau asnaf.

“Yaitu Asnaf fisabilillah atau yang berjuang di jalan Allah, pemanfaatan dalam bentuk aset kelolaan atau layanan bagi kemaslahatan umum, khususnya bagi kemaslahatan mustahik atau penerima zakat,” tutupnya. (Fel)

Komentar

News Feed