oleh

Tagar ‘Indonesia Terserah’ Analis Sosial: Ini Pemerintah Model Apa?

indonesiakita.co – Ramainya tagar ‘Indonesia Terserah’ di sosial media menjukkan masalah yang dihadapi bangsa ini kian besar. Bagaimana tidak, begitu susah payahnya tim medis bekerja keras agar para pasien Covid-19 sembuh, kini sejumlah peraturan di Indonesia mengenai dibukanya moda transportasi tentunya dapat menimbulkan masalah baru.

Bahkan, postingan ‘Indonesia Terserah’ menjadi trending topic di sosial media, sejak Jumat Jumat (15/5/2020) hingga Sabtu (16/5/2020).

 

Sumber: Instagram DR Tirta postingan

Salah satu contoh adalah, dimana terpantau sejak Kamis pagi 14 Mei 2020 ratusan calon penumpang sudah menumpuk. Melihat kondisi tersebut, PT Angkasa Pura II selaku pengelola bandara angkat bicara.

 

Sumber: Twitter @icegurlcc
Sumber: Twitter @helwatshlhh

Selain itu, moda transportasi Kereta Rel Listrik (KRL) yang juga tetap beroperasi, meski sejumlah kepala daerah meminta agar kereta tidak beroperasi karena merupakan salah satu tempat paling mudah dalam proses penyebaran Covid-19.

Sebagai informasi, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi merestui kembali beroperasinya seluruh moda transportasi sejak 7 Mei 2027 melalui Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Musim Mudik Idul Fitri 1441 Hijriah dan berlakunya Surat Edaran (SE) Nomor 4 Tahun 2020 tentang Kriteria Pembatasan Perjalanan Orang Dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19 dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

Dimana surat Edaran ini berisi tentang teknis Permenhub tersebut dan dalam operasionalnya diharuskan untuk melayani pengguna terkait urusan pekerjaan, bukan mudik.

Para penumpang harus membawa dokumen yang diverifikasi sebagai syarat agar calon penumpang dapat memproses check in, antara lain tiket penerbangan, surat keterangan dinas, surat bebas Covid-19, dan dokumen lainnya seperti tertera dalam SE Nomor 4 Tahun 2020.

Sebelumnya, Menteri Keuangan, Sri Mulyani menyebut, turunnya pertumbuhan ekonomi itu disebabkan konsumsi rumah tangga yang tumbuh 2,84 persen. Biasanya, konsumsi rumah tangga tumbuh stabil di kisaran 5 persen.

“Orang-orang di rumah saja, tidak keluar, tidak ada perjalanan dan pembelian segala macam, ya tentu akan (turun) begitu,” katanya saat rapat virtual bersama Komisi XI DPR, Rabu (6/5/2020) lalu.

Lalu, yang menjadi pertanyaan adalah, apakah ini yang menjadi dasar pemerintah membuat aturan agar perekonomian membaik?

Analis sosial Universitas Bung Karno Muda Saleh menilai bahwa langkah yang dilakukan oleh pemerintah sangat memukul hati rakyat, terutama tenaga medis. “Bagaimana tidak, tenaga medis mati-matian, bertaruh nyawa, sementara di luar sana ribuan orang siap menjadi pasien Covid-19, ini sungguh tidak masuk akal,” ujarnya, dalam keterangan persnya, hari ini.

Ia menilai, pemeritah sudah gagap dan tak berhasil menemukan formula dalam memperbaiki kondisi ekonomi di tengah pandemi corona seperti saat ini. “Jelas! pemerintah gagap, dan gak tau mau ngapain lagi, jadi salah satunya adalah dengan mengeluarkan aturan agar transportasi kembali dijalankan, agar memicu kondisi ekonomi,” tambahnya.

Adapun menurutnya, hal ini tidak manusiawi, karena mengorbankan banyak orang. “gak manusiawi, karena pada dasarnya, pemerintah punya uangnya, itu ada proyek infrastruktur, ada proyek kartu prakerja, kenapa gak itu yang dipakai mereka, malah korbankan masyarakat untuk bepergian dengan dibukanya transporasi, ini gak masuk akal!, ngapain uangnya disimpan trus dikantong, keluarin ajalah, masa tega liat tim medis satu persatu berguguran, korban terus menambah, ini pemerintahan jenis apa namanya!,” tutupnya. (Fel)

Komentar

News Feed