oleh

Lagi! Anies Buka-bukaan ke Media Asing Soal Kebijakan Pusat yang Bikin Bingung

indonesiakita.co –  Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengaku kebijakannya kerap dibatalkan oleh pemerintah pusat. Dengan demikian menurutnya, pemerintah terus membuat masyarakat bingung dengan kondisi seperti saat ini.

Salah satu kebijakan pemerintah pusat yang menurutnya membingungkan adalah terkait operasional bus Antar Kota dan Antar Provinsi (AKAP) dari ibu kota. “Contohnya, pada 30 Maret 2020, kami hendak menutup terminal bus AKAP. Pemda DKI yang akan melakukannya. Sayangnya, kebijakan itu dibatalkan oleh pemerintah pusat,” tegasnya, dalam wawancara dengan media Australia, dikutip dari YouTube Pemprov DKI pada Senin, 11 Mei 2020.

Ia juga mempertanyakan langkah pemerintah pusat mengeluarkan kebijakan pelarangan mudik untuk mencegah penularan corona yang dikeluarkan pada Kamis, 23 April 2020, namun lak lama kemudian pada Rabu, 6 Mei 2020, ada aturan baru diberlakukan yakni relaksasi transportasi.

“Pada 23 April 2020, mereka menerapkan kebijakan yang sama (yang sempat hendak diterapkan DKI). Tapi saya dengar ada relaksasi aturan lagi. Jadi yang akan kami lakukan sekarang di Jakarta, adalah kami akan membatasi masyarakat masuk ke Jakarta setelah mudik. Aturan akan berlaku ke masyarakat yang hendak pulang di akhir Mei,” tutupnya.

Selain itu sebelumnya, Anies juga menyampaikan informasi kepada media asing sebelumnya, yakni terkait perbedaan data kasus corona yang dimiliki pemeirntah. Tentunya hal ini mengacu pada lambatnya penanganan pemerintah pusat terhadap penyebaran corona di Indonesia.

Mengaingat sejumlah menteri Jokowi menyebut Corona tak ada di Indonesia, dan beberapa diantaranya menyatakan Indonesia bebas dari corona. Dan menariknya, disaat sejumlah negara tetangga sedang mempersiapkan antisipasi wabah tersebut, pemerintah justru memberikan keleluasaan terhadap turis untuk masuk ke Indonesia melalui diskon tiket pesawat, restoran dan hotal, alih-alih untuk meningkatkan industri pariwisata.

Anies juga melihat dari jumlah jenazah yang dimakamkan di DKI Jakarta pada Maret hingga April 2020, yakni melonjak hingga 25 persen dari rerata bulanan atau naik sekitar 1.500 kematian per bulannya. Menurutnya, naiknya angka kematian ini kemungkinan besar disebabkan oleh Covid-19.

“Kami pikir jumlah kematian dan infeksi jauh lebih tinggi dari apa yang dilaporkan oleh Kementerian Kesehatan,” jelas Anies kepada The Sidney Morning Herald, Sabtu (8/5/2020). (Waw)

Komentar

News Feed