oleh

Penjelasan Youtuber Jang Hansol Lebih Rinci Daripada Menlu RI Soal Kematian ABK di Kapal China!

indonesiakita.co – Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menjelaskan soal kronologi kematian empat ABK asal Indonesia di Kapal China. Diketahui, setidaknya ada tiga WNI yang meninggal di kapal dan dilarungkan di laut, sedangkan seorang lainnya meninggal di rumah sakit.

Adapun satu di antara empat WNI yang meninggal dunia itu adalah AR yang merupakan pekerja di kapal Long Xin 629.

Retno menjelaskan, AR sempat mengeluh sakit dan menyampaikan keluhannya kepada sesama WNI anak buah kapal (ABK) Long Xin 629.

Kemudian AR dipindahkan ke kapal Tian Yu 8 pada 26 Maret dengan tujuan agar AR segera memperoleh pengobatan karena kapal Tian Yu 8 berencana menuju pelabuhan.

Selain itu, AR tidak sempat menjalani perawatan medis karena meninggal dunia sebelum Tian Yu 8 sampai pelabuhan. “Jenazah almarhum dilarungkan pada 31 Maret 2020 pukul 08.00 waktu setempat,” kata Retno dalam jumpa pers secara daring di Jakarta, Kamis (7/5).

Sementara , kapal Tian Yu 8 telah mengantisipasi kemungkinan melarungkannya jenazah krunya ke laut. Sebab, Tian Yu 8 pada 3 Maret 2020 telah mengantongi surat persetujuan burial at sea atau melarungkan jenazah ke laut.

“Inisial AR yang meninggal, kemudian sudah dikubur di laut dan atas persetujuan keluarga,” tambah Retno.

Selain AR, ada juga tiga WNI lain ABK kapal ikan berbendera Tiongkok yang juga meninggal dunia. Ketiga WNI itu tercatat sebagai ABK Long Xin 629. Namun, kematian tiga WNI itu tidak satu kejadian dengan wafatnya AR. Dua WNI, tercatat meninggal dunia ketika kapal Long Xin 629 berlayar di Samudra Pasifik pada Desember 2019.

“Terkait dua WNI Desember itu KBRI Beijing telah menyampaikan nota diplomatik meminta penjelasan atas kasus ini,” tegasnya.

Adapun satu WNI lagi ABK Long Xin 629 meninggal saat berada di daratan pada akhir April 2020. WNI itu berinisial EP itu meninggal dunia di Busan, Korea Selatan.

Retno menjelaskan, sebelumnya EP mengalami sesak napas sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia. “Saudara EP meninggal di RS. Dari keterangan Busan Medical Center, beliau meninggal karena pneumonia,” pungkas Retno.

Penjelasan Jan Hansol

Jang Hansol juga menjelaskan sekaligus menerjemahkan, apa yang disampaikan oleh pembawa acara stasiun MBC. “Video yang akan kita lihat habis ini adalah kenyataan pelanggaran HAM orang Indonesia yang bekerja di kapal China,” jelasnya, menirukan pembawa acara itu.

Adapun MBC mendapatkan gambar tersebut setelah kapal tersebut sedang bersandar di Pelabuhan Busan. “Jadi orang-orang Indonesia menyampaikan informasi ini ke pemerintah Korea dan juga TV MBC, orang-orang ini juga meminta bantuan.

Namun sayang, pada saat petugas akan melakukan pemeriksaan, kapal China tersebut telah pergi dari pelabuhan itu. Jan Hasol juga menerjemahkan, bahwa media MBC menilai kejadian tersebut harus diinvestigasi dunia.

Jan juga menambahkan, bahwa apa yang disampaikan oleh orang-orang yang berada di dalam kapal, jenazah yang dibuang bernama Ari, berusia 24 tahun. “Katanya, yang ada disini adalah mas Ari yang berusia 24 tahun, dia sudah bekerja sudah lebih dari satu tahun dan meninggal di kapal ini,” tambah Jan Hansol.

Selain Ari, di kapal tersebut ada juga yang bernama Alfaka yang berusia 19 tahun, dan Jefri berusia 24 tahun yang juga mengalami hal yang sama pada saat hari kematiannya. Jan kemudian menjelaskan, bahwa dalam video tersebut terdapat surat pernyataan.

 

Screen-Shot-2020-05-07-at-3.15.12-AM-150x150.png

Sumber: Youtube /Jang Hansol (Korea Reomit)

“Dengan ini saya menyatakan setelah berangkat kerja keluar negeri sebagai ABK, segala resiko akan saya tanggung sendiri jika terjadi musibah sampai meninggal, maka jenazah saya akan dikremasikan tempat dimana kapal menyandar dengan catatan abu jenazah akan dipulangkan ke Indonesia.

Untuk itu akan diasuransikan terlebih dulu sebelum ke luar negeri dengan pertanggungan sebesar 10 ribu dolar, jika dirupiahkan sebesar 150 juta rupiah. “Nyawa seseorang diasuransikan dengan nominal 150 juta rupiah. Akan diserahkan kepada ahli dengan membuat surat pernyataan ini sudah ada persetujuan orang tua saya. Demikian surat pernyataan tersebut saya buat tanpa ada paksaan manapun,” jelas Jang Hansol.

Hansol menjelaskan, ada seseorang didalam video tersebut yang bersaksi, bahwa korban awalnya mengalami kram pada kaki, dan kemudian menjalar ke tubuh dan mengalami sesak.

“Mereka mengatakan, bahwa para pekerja China di kapal itu membawa air minum, namun pekerja Indonesia tidak boleh meminumnya. Sementara untuk orang Indonesia boleh minum air laut yang difilterasi. dan kondisi badan pekerja Indoensia kian memburuk.” tambah Hansol.

“Mereka bekerja sehari selama 18 jam, di mana si pelaut menuturkan dia pernah berdiri selama 30 jam. “Sistem kerja dikapal tersebut miirip dengan perbudakan,” tambah Hansol.

Dalam rekaman tersebut dijelaskan, bahwa kapal China tersebut tidak hanya menangkap tuna melainkan menangkap hiu juga. “Kapal ini melakukan aktivitas ilegal, sehingga sulit untuk kembali ke daratan.

“Kelompok HAM yang menyelidiki kematian empat orang di kapal kemudian melaporkannya kepada Garda Penjaga Pantai Korea Selatan (KCG), untuk segera menginvestigasinya. Seoul dilaporkan bisa melakukan investigasi karena pada 2015, mereka meratifikasi perjanjian internasional untuk mencegah perdagangan manusia.

“Namun dua hari setelah peristiwa itu, kapal tersebut langsung meninggalkan lokasi sehingga investigasi tak bisa dilanjutkan. Untungnya, demikian terjemahan yang dipaparkan Hansol, masih ada pelaut yang berada di Busan, mereka ingin melaporkan pelanggaran HAM yang mereka terima. Kru tersebut dilaporkan sudah meminta pemerintah Korea Selain untuk menggelar penyelidikan menyeluruh,” tutup Hansol. (Fel)

Komentar

News Feed