oleh

Novel Baswedan Gak Terima Cairan yang Butakan Matanya Disebut Air Aki

indonesiakita.co – Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi Novel Baswedan hadir sebagai saksi dalam persidangan lanjutan kasus penyiraman air keras di Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Adapun sidang ini digelar  secara online melalui video teleconference.

Pada kesempatan tersebut, ia mengaku keberatan bahwa cairan yang disiram ke wajahnya merupakan air aki. Hal ini dibacakan dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Dimana dalam dakwaan disebutkan air tersebut adalah cairan asam sulfat (H2SO4).

Novel sangat yakin, bahwa cairan yang disiram ke wajahnya ini bukan air aki. Sebab, kata dia, saat pertama kali disiram cairan itu seketika membuat kedua matanya menjadi putih. “Itu yang disampaikan orang-orang di sekitar saya dan dokter pada saat saya datang ke RS Mitra Keluarga Kelapa Gading setelah penyiraman terjadi,” ungkapnya.

Bahkan, akibat penyiraman itu, mata kirinya tidak melihat sama sekali. “Sampai sekarang pun mohon maaf saya tidak melihat wajah Yang Mulia. Bahkan, posisi badan Yang Mulia saya tidak melihat. Dokter dari Singapura mengatakan bahwa mata saya tidak bisa diobati yang kanan dan saya melihatnya dengan alat bantu,” tegas Novel.

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendakwa dua pelaku penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan, yaitu Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis, melakukan penganiayaan berat dan terencana. Perbuatan itu berupa penyiraman cairan asam sulfat (H2SO4) ke wajah Novel.

Perbuatan kedua terdakwa membuat Novel mengalami luka berat. Novel mengalami hambatan dalam menjalankan pekerjaan, kerusakan pada selaput bening (kornea) mata kanan dan kiri. Luka itu berpotensi menyebabkan kebutaan atau hilangnya panca indra penglihatan.

Atas perbuatannya ini, Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis didakwa melanggar Pasal 355 ayat (1) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dan Pasal 353 ayat (2) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, serta Pasal 351 ayat (2) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (Waw)

Komentar

News Feed