oleh

Ingat Tunjangan Guru yang Dipotong? Ini Cerita Rizal Ramli Soal Dunia Pendidikan yang Tertinggal

indonesiakita.co – Jika anda mengingat beberapa hari lalu, tokoh nasional Rizal Ramli mengungkapkan kekecewaannya terkait potongan tunjangan yang dialami guru, tentunya anda mengingat bahwa dunia pendidikan menjadi salah satu agenda terbesar baginya untuk menjadikan pelajar dan mahasiswa di Indonesia dapat bersaing di dunia.

Menurutnya, guru merupakan salah satu faktor penunjang dalam pendidikan. “Ya, guru itu sumber ilmu, yang memberikan kemampuannya kepada para siswanya, pintar dengan harapan dapat bersaing dengan negara-negara lainnya.

Kita bukannya kasih support mereka di tengah pandemi corona ini, apa tak melihat cara mereka mengajar dalam konsep online, kesulitan yang mereka rasakan agar dunia pendidikan di Indonesia ini tidak terhenti karena corona, ini sangat luar biasa, menariknya pemerintah justru kasih proyek ke pihak swasta yang pemiliknya adalah stafsus milenial!,” ungkap Rizal kepada indonesiakita, beberapa waktu lalu.

Bicara soal pendidikan, bukan kali ini saja. Rizal pernah menceritakan bahwa kondisi pendidikan di Indonesia sangat memprihatinkan. Bahkan, dalam sebuah diskusi di bilangan Tebet, Jakarta Selatan pada (26/2 /019) lalu ia mengatakan, peringkat pendidikan Indonesia versi UNESCO menurun.

Dimana menurutnya, pada tahun 2014, pendidikan Indonesia memegang peringkat 49, kini merosot menjadi peringkat 62, dari total 70 negara. Padahal, anggaran pendidikan yang tercurah terbilang besar.

Mantan menteri koordinator bidang perekonomian tersebut menegaskan masalah pendidikan Indonesia bukan besar-kecilnya anggaran, melainkan adanya inefisiensi dan para pelajarnya tidak memiliki semangat berkompetisi.

“Anggaran pendidikan kita besar Rp 440 triliun, tapi banyak inefisiensi dan tidak ada semangat kompetisi. Jadi bukan uang.

“Saya sarankan, Rp 20 triliun diberikan hadiah sebagai beasiswa 1 tahun, untuk lomba apa saja. Saya percaya anak Indonesia pintar-pintar, hebat-hebat, kalau dikasih hadiah 1 tahun beasiswa anak Indonesia punya semangat berkompetisi. Saya yakin kualitas pendidikan kita yang rendah berdasarkan UNESCO, meningkat lebih tinggi.”ungkapnya saat itu.

Selain masalah inefesiensi dan kurangnya semangat berkompetisi, Rizal Ramli juga menjelaskan biaya pendidikan di Indonesia mahal. Hal ini tentu memberatkan negara jika harus menanggung beban biaya pendidikan sepenuhnya.

Oleh karena itu, pria yang juga pernah menjabat sebagai menteri koordinator bidang kemaritiman ini menyarankan agar pemerintah meniru kebijakan di negara maju, terkait pemberian lahan pada perguruan tinggi.

Dengan demikian, perguruan tinggi diharapkan mampu berkembang, bahkan sampai membuat kota tersendiri, dan pendapatan yang dihasilkannya tidak dikenai pajak. Nantinya, pendapatan inilah yang bisa dimanfaatkan untuk biaya riset maupun beasiswa.

“Caranya, seperti di negara maju ada UU universitas diberi tanah negara, di luar Pulau Jawa [misalnya] 100 ribu hektar, kembangin kota sendiri, tapi pendapatannya bebas pajak, jadi bisa kasih biaya riset sendiri dan mental pengajarnya bukan birokrat.”

“Jadi daripada cara recehan begitu, [lebih baik] bikin UU pemberian tanah untuk universitas, kemudian pembebasan pajak untuk pendapatannya, jadi bisa biaya riset sendiri, beasiswa mahasiswa, dosen-dosennya intelek, bukan birokrat atau PNS yang ngomong apa saja takut.” tegasnya.

Cerita Rizal Ramli Ibunya Seorang Guru

Rizal Ramli mengaku memiliki kenangan tak terlupakan tentang ibunya. “Dia ajarkan saya membaca. Jadi, dari umur 3 tahun, saya sudah baca.. ya beliau seorang guru. Itu warisan paling penting dari Ibu saya. Karena saya doyan banget membaca. Semua dibaca,” ujar Rizal.

Ia mengaku bisa sampai pada titik seperti saat ini karena minatnya pada baca. “(Membaca membuat saya bisa–) berdialog dengan tokoh-tokoh penting,” jelas Rizal.

Rizal dan Program Wajib Belajar 9 Tahun

Nah.. untuk yang satu ini, tampaknya masih samar-samar anda rasakan, bahwa sosok yang akrab disapa ‘RR’ ini juga ternyata pelopor program wajib belajar 9 tahun pada masa pemerintahan orde baru.

Ide ini tentunya bukan sekedar ide yang kemudian ia implementasikan ke dalam realisasi dalam dunia pendidikan, Rizal mengaku hal ini ia lakukan karena berdasarkan pengalamannya saat berkunjung ke Jepang, dimana saat itu ia masih kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Ia mengaku terkagum-kagum dengan kemajuan negara tersebut. Padahal, sebagian besar negara tersebut merupakan wilayah bebatuan yang tidak subur.

“Saya keliling Jepang, saya kagum, karena 2/3 tanahnya batu-batuan tapi bisa kasih makan penduduknya. Kenapa Jepang lebih maju dari kita?,” ujar dia di Jakarta, Senin (2/5/2016).

Pada saat pulang ke tanah air, Rizal bersama teman-temannya melakukan perjalanan ke wilayah-wilayah miskin di Indonesia. Dia kemudian mengunjungi beberapa tempat di pesisir pantai mulai dari pantai utara Jawa hingga ke Lombok. Dipilihnya pesisir pantai lantaran wilayah tersebut merupakan mayoritas daerah yang miskin‎ di Indonesia.

Cerita akhirnya terhenti di Tegal, Jawa Barat, dimana Rizal bertemu dengan seorang anak bernama Sukri berusia 9 tahun yang merupakan anak nelayan yang juga tidak sekolah karena tidak memiliki biaya. Hal ini yang mengetuk hati Rizal agar ada solusi bagi anak-anak dari keluarkan miskin untuk tetap bisa bersekolah.

“Di Tegal, ada seorang anak, saya ingat betul namanya Sukri, 9 tahun, yang tidak sekolah karena tidak mampu bayar. Melaut pun hasilnya sedikit. Kita di laut terkena dingin kena angin, tapi hasil ikannya sedikit. Ini yang membuat banyak anak nelayan tidak bisa sekolah,” ungkap Rizal.

Melihat hal tersebut, Rizal bersama teman-temannya kemudia‎n membuat semacam acara untuk menyindir pemerintah agar mengatasi masalah pendidikan di Indonesia. Saat ini, lanjut dia, ada sekitar 7 juta anak Indonesia tidak bisa sekolah.

“Saya pimpinan mahasiswa di ITB, waktu itu ada 7 juta anak tidak bisa sekolah. Kemudian kami tekan para pejabat. Kami buat acara, kami undang penyair WS Rendra untuk datang ke ITB, kemudian menghasilkan puisi yang terkenal Sebatang Lisong. Kami undang sutradara terkenal Sjuman Jaya, yang memudian melahirkan film Yang Muda Yang Bercinta,” jelas Rizal.

Akibat adanya tekanan dari para mahasiswa kali itu, akhirnya pemerintah mengeluarkan Undang-Undang (UU) terkait wajib belajar ‎9 tahun. “Akibat pressure (tekanan) ini, pemerintah akhirnya mengadopsi UU wajib belajar 9 tahun sehingga anak usia sekolah bisa masuk SD (sekolah dasar). Tapi tidak cukup sampai di situ, butuh gratis sekolah karena anak nelayan sangat miskin,” tandas dia.

Buah Jatuh Tak Jauh dari Pohonnya.

Dhitta Puti Sarasvati, anak Rizal Ramli yang juga mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB) ini ternyata memiliki jiwa yang sama terkait dunia pendidikan. bahkan dua buku, yakni Belajar Matematika Gernas Tastaka dan Jejak Langkah Gernas Tastaka menjadi takdirnya untuk memberikan yang terbaik dalam dunia pendidikan.

 

Rizal Ramli dan Dhitta Puti Sarasvati (Sumber Twitter @RamliRizal)

Rizal pernah menungkapkan bahwa Dhitta menempuh studi S2 nya di Bristol University, Inggris,mengambil jurusan pendidikan.

“Dia pengajar pendidikan yang bersama teman-temannya melatih teknik guru-guru untuk mengajar matematika, supaya dicintai anak-anak. Dia dan kawan-kawan guru bikin Gerakan Belajar Matematika Bernalar dan Kontekstual. Dan sudah melatih ratusan guru di Jatim, Jateng, Jabar, Sulawesi, Ambon dan Tual,” tandasnya.

Jadi… sepertinya tak ada alasan bagi Rizal Ramli untuk diam dan tak mengkritik sikap pemerintahan manapun, era manapun yang menurutnya jika kebijakan tersebut tak berpihak pada dunia pendidikan, baik nasib guru maupun kemampuan pelajar untuk bersaing dengan dunia internasional. (Fel/ Tim Redaksi)

Komentar

News Feed