oleh

Gusdur, Rizal Ramli dan Pluralisme di Indonesia

indonesiakita.co – Nama Tokoh nasional Rizal Ramli kerap mencuri perhatian publik. Kali ini, sejumlah pernyataannya terkait penanganan wabah corona, kondisi ekonomi, serta bagaimana solusi memecahkan kebuntuan tersebut dalam sehari bahkan mencapai trending topik di sosial media.

Ya, memang tak heran, mantan aktivis era 70-an ini jika bicara selalu ‘berapi-api. Terlebih jika ia mengkritik kebijakan siapapun rezimnya dan ketika kebijakan tersebut tidak berpihak kepada rakyat, siap-siap saja.

Lihat saja pada acara diskusi yang digelar oleh salah satu stasiun tv swasta pada Selasa (21/4) lalu, dimana terlihat Rizal seperti menguliti kasus demi kasus dan bagaimana kebijakan, cara pemerintah dalam penanganan virus corona seperti yang saat ini kita rasakan.

Namun, Rizal tidaklah hanya mengkritik, ia juga memberikan solusi bagaimana agar masalah ekonomi, dan berbagai masalah lainnya yang terdampak dari corona ini segera pulih.

Benarkah Rizal Ramli Rasis?

Rizal Ramli disebut-sebut rasis, saat ia dengan lantang menegaskan, ‘Indonesia harus tinggalkan China.. jangan terus menerus jadi antek China’ karena menurutnya beberapa negara di Asia Tenggara juga sudah meninggalkan negara tirai bambu tersebut.

Sosok yang akrab disapa ‘RR’ ini bisa dikatakan, salah satu orang yang sangat dekat dengan Presiden KH Abdurrahman Wahid, pemimpin yang suka ‘guyon’ (melucu-red) ini.

 

Rizal Ramli dan Gusdur

 

Selama Orde Baru berkuasa etnis Cina tak diakui sebagai suku bangsa dan dikategorikan sebagai nonpribumi. Politik kebangsaan Orde Baru, etnis Cina diharuskan mengasimilasikan diri dengan suku-suku mayoritas di tempat mukim mereka. Misalnya, jika seorang Cina tinggal di Bandung, mereka harus jadi orang Sunda.

Masa kelam tersebut akhirnya berakhir, dimana dalam konsep kebangsaan Gus Dur, tak ada yang namanya pribumi dan nonpribumi. Dikotomi semacam itu adalah kesalahan dan gara-gara itu komunitas Cina dinafikan dari nasionalisme Indonesia. Bagi Gus Dur, tak ada yang namanya “keturunan masyarakat asli” di Indonesia, karena bangsa Indonesia dibentuk oleh perpaduan tiga ras, yakni Melayu, Astro-melanesia, dan Cina. Ia sendiri mengatakan dirinya adalah keturunan blasteran Cina dan Arab.

Gus Dur pun merealisasikan gagasannya itu ketika naik jadi presiden pada 1999. Cucu pendiri NU Kiai Hasyim Asy’ari yang sejak lama dikenal sebagai pluralis itu menganulir Inpres No. 14/1967 dengan menerbitkan Inpres No. 6/2000. Sejak itulah, komunitas Tionghoa bebas kembali menjalankan kepercayaan dan budayanya.

Inpres yang terbit pada 17 Januari tersebut membawa suka cita yang telah lama surut. Tahun baru Imlek tahun itu, yang jatuh pada 5 Januari, dirayakan dengan cukup megah di kompleks Museum Fatahillah Jakarta. Pada 9 April 2001, tepat hari ini 19 tahun lalu, dengan Keppres No. 9/2001, Gus Dur meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif.

Dengan kebijakan-kebijakan inklusif itu, dan kemudian pada 10 Maret 2004—bertepatan dengan perayaan Cap Go Meh di Klenteng Tay Kek Sie—masyarakat Tionghoa di Semarang menyematkan julukan “Bapak Tionghoa” kepada Gus Dur.

Artinya, jika memang Rizal Ramli rasis, kebijakan ini sudah disindirnya saat Gusdur menerbitkan Inpres tersebut.

Rizal dan Tokoh Tionghoa

Rizal Ramli menjadi tamu kehormatan, saat perayaan tahun baru Imlek di Vihara Lodan. Rizal duduk tepat disamping Suhu Bhiksu Prajnavira Mahasthavira.

Dimana dalam kesempatan tersebut, Suhu Bhiksu Prajnavira Mahasthavira, Sekjen World Sangha Budhist Council berpesan. ”Welas asih, bijaksana untuk semua.”  ujarnya.

 

Rizal Ramli dan Biksu Pranjavira

Sementara itu, Rizal merasakan bahwa pergantian tahun dalam kalender China atau Imlek sering kali menjadi momentum yang paling ditunggu-tunggu sebagian besar orang, terutama masyarakat Tionghoa.

Menyebarnya keturunan Tionghoa di banyak negara, menjadikan Imlek sebagai salah satu perayaan besar, termasuk di Indonesia. Imlek tahun ini dihimbau Suhu Bhiksu Prajnavira Mahasthavira agar sederhana dan sahaja. ”Perayaannya khidmat dan sederhana” ujar Rizal.

Kehadiran Rizal tentunya menjadi perhatian khusus bagi warga Tionghoa, bahkan tak sedikit yang mengucapkan terimakasih atas kehadiran mantan anggota tim panel penasihat ekonomi PBB itu di perayaan Imlek tersebut.

 

Rizal Ramli dan Tokoh Etnis Tionghoa Jaya Suprana

”Sosok seorang Prof RR, yang merawat kebinekaan sangat mantul (mantab betul)..Inilah orang yang menjiwai Pancasila secara benar..smoga sehat dan selalu membantu rakyat dengan ilmu yang bermanfaat,” kata netizen Agus Sutarso di twiternya.

Redaksi indonesiakita.co mencoba menghubungi Rizal Ramli. Dalam kesempatan tersebut Rizal mengatakan, bahwa apa yang ia sampaikan adalah selalu kebijakan, bukan personal.

“Apapun itu, dimanapun itu, apa saya ledek Jokowi secara personal, kan tidak, kebijakannya, dan sama juga dengan Soeharto, saya juga kritik kebijakannya,” tegasnya.

Ia pun menambahkan, bahwa berbeda kritikan ketika ia mengucapkan antara Kebijakan sebuah negara dengan etnis atau kelompok, dan juga unsur budaya.

“Masa gak ada yang menangkap pesan saya ya, lucu juga, yang saya kritik itu adalah Negara China (RRC), bukan etnis Tionghoa. Pemerintah hari ini sangat pro-China (RRC), sehingga merugikan rakyat dan kepentingan nasional, termasuk soal Corona. UUD kita mewajibkan kita untuk melaksanakan politik luar negeri“bebas aktif”, tidak ikut blok apapun (non-alligned – red),” tutupnya. (Fel)

Komentar

News Feed