oleh

Ketika Rakyat di Bawah Bayang-bayang Peng(u)asa

indonesiakita.co -Virus corona merupakan ancaman yang sangat luar biasa, karena setiap hari diperkirakan setidaknya ada 327 kasus positif baru ditemukan di seluruh tanah air Indonesia. Bahkan, data yang diumumkan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 pada Minggu sore, 19 April 2020 menunjukkan total jumlah kasus positif corona di Indonesia telah sebanyak 6.575 pasien.

Sementara jumlah korban meninggal akibat penyakit Covid-19  bertambah 47 pasien sehingga total angka kematian di Indonesia menjadi 582 jiwa.

Adapun total jumlah pasien positif Covid-19 yang berhasil sembuh telah sebanyak 686 orang atau ada penambahan angka kesembuhan sebanyak 55 orang dalam sehari terakhir.

Dimana data yang diumumkan tersebut memperlihatkan ada penambahan jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sebanyak 2.667 orang dalam sehari belakangan. Di waktu yang sama, jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) bertambah 2.539 jiwa.

Hingga kini, kasus-kasus positif Covid-19 telah ditemukan di 250 kabupaten/kota yang tersebar di 34 provinsi. Jumlah kabupaten/kota yang memiliki kasus positif itu bertambah 29 daerah pada hari ini.

DPR Masih Ngotot Bahas RUU Omnibus Law

Menariknya, Panitia Kerja (panja) pembahasan omnibus law RUU Cipta Kerja mengagendakan rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan berbagai elemen masyarakat, pada Rabu (22/4/2020).

Wakil Ketua Panja RUU Cipta Kerja sekaligus Wakil Ketua Badan Legislasi ( Baleg) DPR Rieke Diah Pitaloka menyatakan, panja akan mengundang pakar, akademisi dan elemen masyarakat baik yang pro maupun kontra terhadap RUU Cipta Kerja. Baca juga: Tanpa Fraksi PKS, Ini Nama Anggota Panja Omnibus Law RUU Cipta Kerja “RDPU pertama direncanakan akan diadakan pada Rabu, 22 April 2020,” kata Rieke, Senin (20/4/2020).

Pemerintah Masih Ngotot Bahas Pemindahan Ibu Kota

Rencana pemindahan Ibu Kota Negara ke Kalimantan Timur juga masih menjadi agenda kuat, ironisnya, langkah ini dilakukan disaat satu persatu angka kematian terus bertambah, pasien corona juga terus meningkat.

Diketahui, penyusunan rencana induk dan strategi pengembangan IKN atau master plan ibu kota baru tersebut telah terdaftar dalam Layanan Pengadaan Secara Elektronik milik Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LPSE LKPP). Dalam website tersebut, terlihat tender paket ibu kota baru ini didaftarkan tanggal 24 Maret 2020 oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas.

Tak tanggung tanggung, nilai tender atau Harga Perkiraan Sendiri (HPS) yang tertera di sana, mencapai Rp 85 miliar.

Dimana Direktur Pengembangan Sistem Pengadaan Secara Elektronik LKPP, Emin Adhy Muhaemin, membenarkan paket tersebut atas nama Bappenas. Bappenas memasang tender terbuka pada Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE) yang dikelola oleh LPSE.

“Bahasa terangnya adalah numpang pengadaan. Tapi seluruh proses, jadwal, metode yang dipilih (penunjukan langsung/seleksi) dan persyaratan ditentukan oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan Pokja Pemilihan dari Bappenas,” jelasnya, kemarin.

Gelombang PHK dan Pengangguran di Indonesia Meningkat

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu mengatakan, investasi yang masuk ke Indonesia di tengah pandemi Covid-19 disebut-sebut tidak maksimal dapat membantu kondisi ekonomi RI.

“Investasi bukan indikasi menolong. Uangnya ada tapi pergerakannya juga terbatas,” ujarnya dalam diskusi virtual bertajuk ‘Macroeconomic Update 2020’, Jakarta, kemarin.

Ia menjelaskan, bahwa RI sedang menghadapi perekonomian yang minta istirahat. Dimana saat ini pemerintah sedang menjalankan skenario pertumbuhan ekonomi di angka 2,3 persen. Dalam kondisi ini diperkirakan akan ada 2 juta orang yang jadi pengangguran. Namun angka ini bisa menjadi 5 juta tambahan pengangguran jika ekonomi istirahat terlalu lama.

“Tapi jangan sampai tambahan pengangguran ini sampai lebih dari 2 juta orang. Ini yang sedang ingin kita batasi supaya ekonomi kita ini enggak lama istirahat dan tidurnya, biar bangunnya enggak susah,”tutupnya.

Tunjangan Guru Dikebiri, 3,3 Triliun

Sungguh luar biasa kebijakan ini, setidaknya 3,3 triliun yang akan diterima guru tampaknya hanya menjadi mimpi belaka. Bagaimana tidak, pemerintah memotong tunjangan tersebut.

Diketahui, dalam lampiran Perpres 54/2020 diketahui tunjangan guru setidaknya dipotong pada tiga komponen. Yakni tunjangan profesi guru PNS daerah dari yang semula Rp 53,8 triliun menjadi Rp 50,8 triliun, kemudian penghasilan guru PNS daerah dipotong dari semula Rp 698,3 triliun menjadi Rp 454,2 triliun.

Terakhir, pemotongan dilakukan terhadap tunjangan khusus guru PNS daerah di daerah khusus. Dari semula Rp 2,06 triliun menjadi Rp 1,98 triliun.

Ironisnya, Ruangguru ditunjuk pemerintah sebagai aplikator Kartu Prakerja yang merupakan program dari Kemenko Perekonomian dengan nilai proyek sebesar Rp 5,6 triliun.

Mendadak, proyek tersebut menjadi polemik di masyarakat lantaran pemilik perusahaan aplikator tersebut adalah Adamas Belva Syah Devara yang saat ini juga menjabat sebagai Staf Khusus milenial presiden.

Meski akhirnya, Belva mengaku siap untuk mundur dari jabatannya sebagai staf presiden jika dinilai telah melanggar aturan. “Saya sedang konfirmasi ulang ke Istana apakah memang ada konflik kepentingan yang ditanyakan teman-teman semua di sini, walaupun saya tidak ikut proses seleksi mitra. Jika ada, tentu saya siap mundur dari Stafsus saat ini juga. Saya tak mau menyalahi aturan apa pun,” kata Belva lewat akun Twitternya, Rabu (15/4) lalu.

Padahal, guru sedang berjuang mengajarkan anak-anak kita dengan metode online, bagaimana mengingat tingkat kesulitan mereka. Guru yang jelas-jelas sumber kecerdasan bangsa, garda terdepan dalam menjaga pendidikan dalam kondisi pandemi corona.

Langkah Yasonna Bebaskan Napi Menjadi Petaka

Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kepmenkumham) Nomor M.HH-19.PK.01.04.04 Tahun 2020 mengatur pelaksanaan tentang pengeluaran dan pembebasan narapidana dan anak melalui asimilasi dan integrasi.

Dalam hal ini, keputusan Menteri Yasonna sebelumnya banyak menuai reaksi banyak pihak, pasalnya banyak yang menolak, jika ada kemungkinan para napi koruptor juga akan dibebaskan.

Ironisnya, dalam sepekan, baik di tv, media online tersebar kabar bahwa aksi perampokan terjadi dimana-mana, seperti beberapa hari lalu, adanya aksi perampokan di kawasan Cipinang, dimana salah seorang warga dijambret dengan sejumlah anak muda yang menggunakan sepeda motor, dan meski akhirnya beberapa diantaranya dapat dilumpuhkan oleh petugas kepolisian.

Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah jika pemberitaan tentang aksi kejahatan meningkat kemudian berita mengenai bahayanya virus corona ini akan lenyap? tentu tidak. Karena korban terus bertambah, baik dari pasien maupun tim medis yang masih kekurangan Alat Pelindung Diri (APD).

Sungguh bijaksana Menteri Yasonna telah membuat keputusan tersebut, meski pelan-pelan jika dicermati, tentunya masing-masing kita memiliki cara pandang yang berbeda tentang tujuan yang dilakukan oleh Yasonna ini.

Mimpi Yang Belum Terbeli

Janji pertumbuhan ekonomi dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) sebesar 6%  hanya tinggal mimpi. Utang negara pun kian menumpuk.

Janji Negara Agraris pun tampaknya jauh dari angan-angan, jika melihat draft RUU Cipta Kerja Pasal 122 yang berbunyi:

“Yang dimaksud dengan “kepentingan umum” adalah kepentingan sebagian besar masyarakat yang meliputi kepentingan untuk pembuatan jalan umum, waduk, bendungan, irigasi, saluran air minum atau air bersih, drainase dan sanitasi, bangunan pengairan, pelabuhan, bandar udara, stasiun dan jalan kereta api, terminal, fasilitas keselamatan umum, cagar alam, serta pembangkit dan jaringan listrik.”

Apakah benar, tanah subur dan produktif yang kita duduki sewaktu-waktu bisa berubah  menjadi jalan tol, waduk dan sebagainya?

Bahkan minggu lalu, Sebanyak 52.000 ton bawang putih dan 6.800 ton bawang bombai impor dari China seperti sunyi senyap masuk ke Indonesia untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Kurang suburkah lahan pertanian kita?

Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, apa selanjutnya yang akan dilakukan pemerintah, jika memang tak ada lagi asa dan upaya untuk membangun negeri ini menjadi semakin baik?. Tentunya, ini menjadi catatan sejarah, bagaimana bangsa yang ‘katanya’ besar ini, kaya raya ini, perlahan terhapus oleh gelombang ego sektoral dari sekelompok yang tak mampu melirik matanya pada kaum bawah yang saat ini sedang dihantui ketakutan, menunggu ajal jika corona datang padanya, sungguh luar biasa cerminan para petinggi bangsa ini.

Bagaimana sejarah ini akan kita ceritakan pada anak cucu mendatang?, bagaimana resiko para petinggi negara ini atas carut marutnya kondisi saat ini. dan menariknya, saling selisih pendapat masih terjadi di akar rumput, seolah tak sadar bahwa lapar perlahan-lahan hadir pada diri masing-masing, karena uang dikantong hanya tersisa beberapa lembar saja.

Siapa dia..mengapa masih banyak yang memujanya, mengapa tak ada satupun yang bergeming dan sadar bahwa kondisi ini sudah sangat akut bagi bangsa kita? nyaris, ingin redaksi sampaikan bahwa sepertinya ada yang aneh dalam pola pikir bangsa Indonesia belakangan ini, mudah dipecah, mudah terhasut dan sangat lemah dalam merasakan apa yang sebenarnya dirasakan.

Bukan tak percaya logika, tapi, apakah benar ada pengaruh alam lain yang tak dapat dijelaskan secara logika disini, mengingat Indonesia kaya akan budaya dan rahasia yang belum semua orang mengetahuinya? (Tajuk Rencana/Redaksi indonesiakita.co)

Komentar

News Feed