oleh

Rizal Ramli: Guru Berjuang Ajarkan Siswa Saat Pandemi Corona, Kok Tega Tunjangannya Dipotong?

indonesiakita.co – Ekonom senior Rizal Ramli mengaku tak habis pikir dengan sikap pemerintah. Bagaimana tidak, ia mengaku kesal dengan kebijakan pemotongan tunjangan terhadap guru, dimana saat ini merupakan salah satu garda terdepan dalam memperjuangkan pendidikan di tengah pandemi corona.

Rizal merasa heran, pasalnya, ia juga mengkomparansikan kebijakan tersebut dengan stafsus yang mendapat proyek 5,6 triliun terkait kartu prakerja Jokowi. “Tunjangan Guru mau dipotong 3,3 triliun. Stafsus dapat proyek Pelatihan Online 5,6 triliun,” sindir Rizal Ramli melalui akun Twitter pribadinya @RamliRizal.

Sebagaimana diketahui, dimana dalam lampiran Perpres 54/2020 diketahui tunjangan guru setidaknya dipotong pada tiga komponen. Yakni tunjangan profesi guru PNS daerah dari yang semula Rp 53,8 triliun menjadi Rp 50,8 triliun, kemudian penghasilan guru PNS daerah dipotong dari semula Rp 698,3 triliun menjadi Rp 454,2 triliun.

Terakhir, pemotongan dilakukan terhadap tunjangan khusus guru PNS daerah di daerah khusus. Dari semula Rp 2,06 triliun menjadi Rp 1,98 triliun.

Terkait hal ini, Rizal mengungkapkan, bahwa saat era presiden Gusdur, Ia terus berupaya agar nasib guru dan PNS berada di posisi yang layak. “Guru itu sumbernya ilmu, karena mereka bangsa ini bisa pintar, hargai mereka dong, ini kok malah dipotong tunjangannya, saya gak habis pikir,” jelasnya, saat dihubungi melalui ponselnya, sore ini.

Rizal mengungkapkan bahwa ia pernah memberikan apresiasi terhadap guru dan Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada umumnya hingga dua kali lipat. “Dulu, di era Gusdur, PNS kita manjain, bahkan gajinya kita naikin hingga dua kali lipat. Selain untuk memacu pertumbuhan ekonomi, ini bentuk apresiasi kita terhadap nasib guru dan PNS pada umumnya yang selama ini kurang perhatian.

Bahkan, sepanjang masa kepemimpinan Gus Dur selama 21 bulan, gaji PN naik dua kali dengan besaran hingga 125 persen,” ungkapnya.

Ia pun menyebutkan, kebijakan tersebut berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Karena kenaikan gaji tersebut memacu daya beli. Mereka (PNS dan guru) gaji nya naik, uang yang biasa digunakan pas-pasan, kini mereka punya uang lebih… dan digunakan untuk belanja keperluan yang lainnya, akhirnya kan… terjadi transaksi jual beli yang mengakibatkan daya beli masyarakat meningkat. Ini kok bisa bisanya tunjangan guru dipotong, mereka lagi kesulitan mengajarkan anak-anak kita belajar lewat online, tingkat kesulitan mereka, kesabaran mereka, sungguh luar biasa kebijakan ini,”pungkasnya. (Fel)

Komentar

News Feed