oleh

Kontroversi Kartu Prakerja, Masih Ingat Rizal Ramli Sebut Kartu Sakti Jokowi Tak Selesaikan Masalah?

indonesiakita.co – Kontroversi kehadiran start-up Ruangguru dalam Kartu Prakerja Jokowi mencuri perhatian banyak pihak. Karena sebelumnya Stafsus Milenial Jokowi, yakni Andi Taufan Garuda berulah dengan meminta dukungan kepada seluruh camat untuk Relawan Desa Lawan Covid-19 melalui surat berstempel sekretariat negara.

Adapun Ruangguru juga ternyata milik Staf Khusus Kepresidenan Adamas Belva Syah Devara. Dan yang menjadi pertanyaan adalah apakah Ruangguru ini sudah mengikuti seleksi sebelumnya, atau ditetapkan saja oleh PMO (project management officer.

Selain itu biaya pelatihan untuk setiap peserta Kartu Prakerja adalah Rp 1 juta yang dibayarkan langsung kepada lembaga mitra pemerintah dalam program itu. Total uang negara untuk program itu mencapai Rp 20 triliun.

Tentunya, Kartu Prakerja Jokowi ini mengingatkan kita pada sosok Rizal Ramli yang pernah menyampaikan bahwa kartu-kartu yang dijanjikan Jokowi tidak efektif.

Dimana saat itu, Jokowi merupakan calon presiden nomor urut 01, menyampaikan tiga kartu “sakti” yang menjadi unggulan programnya bila terpilih kembali. Ketiga kartu yang diumumkan dalam Pidato Konvensi Kerakyatan di SICC, Sentul, Bogor, Minggu (24/2/2019) lalu di antaranya Kartu Sembako Murah, Kartu Indonesia Pintar – Kuliah, dan Kartu Pra Kerja.

Rzal, dalam hal ini mengatakan, program Jokowi itu tidak menyelesaikan akar masalah. “Kami tidak setuju cara-cara recehan yang hanya memberi gula-gula tapi tidak pecahkan masalah,” ujar Rizal Ramli dalam jumpa pers di Kawasan Tebet, Senin (25/2/2019) silam.

Meski tak menyoroti soal Kartu Prakerja secara khusus, namun Rizal menyebut bahwa kartu tersebut secara global, termasuk didalamnya adalah Kartu Indonesia Pintar tidak menyelesaikan masalah di Indonesia.

Misalnya saja dalam dunia pendidikan. Menurut Rizal Ramli, saat ini peringkat pendidikan Indonesia versi UNESCO menurun. Pada tahun 2014, pendidikan Indonesia memegang peringkat 49, kini merosot menjadi peringkat 62, dari total 70 negara. Padahal, anggaran pendidikan yang tercurah terbilang besar.

Mantan menteri koordinator bidang perekonomian tersebut menegaskan masalah pendidikan Indonesia bukan besar-kecilnya anggaran, melainkan adanya inefisiensi dan para pelajarnya tidak memiliki semangat berkompetisi.

“Anggaran pendidikan kita besar Rp 440 triliun, tapi banyak inefisiensi dan tidak ada semangat kompetisi. Jadi bukan uang.”

“Saya sarankan, Rp 20 triliun diberikan hadiah sebagai beasiswa 1 tahun, untuk lomba apa saja. Saya percaya anak Indonesia pintar-pintar, hebat-hebat, kalau dikasih hadiah 1 tahun beasiswa anak Indonesia punya semangat berkompetisi. Saya yakin kualitas pendidikan kita yang rendah berdasarkan UNESCO, meningkat lebih tinggi.”

Sementara itu, terkait kartu pra kerja, Rizal juga memiliki penilaian sendiri. Menurutnya, dana yang dimiliki pemerintah saat ini seharusnya bisa digunakan untuk membantu dalam proses penanggulangan Covid-19.

Hal ini ia sampaikan saat menanggapi cuitan pengamat politik Hendri Satrio di Twitter. Dimana Henri mengatakan, dana tersebut lebih baik digunakan untuk penanganan wabah virus corona.

“Dana tunai kemungkinan lebih tepat untuk situasi pandemi corona dibandingkan kartu prakerja. Program kartu prakerja bagus bila tidak dalam situasi pandemi, ini seperti sakitnya baru, tapi terobati lama, bagaimana menurut Bang @RamliRizal, tanya Henri kepada Rizal Ramli.

Rizalpun menanggapi cuitan Henri. “Benari sekali Henri, daripada dipakai program akal-akalan , masalah kepercayaan dan kredibilitas yang lagi minus-minusnya,” tulis Rizal. (Fel)

Komentar

News Feed