oleh

ICW: Nama Koordinator ICW Dicatut, Seolah-olah Dukung Omnibus Law!

indonesiakita.co – Indonesian Corruption Watch (ICW) mengklarifikasi adanya nama Koordinator ICW Adnan Topan Husodo yang ikut mendukung RUU Omnibus Law. Padahal sejatinya, ICW merupakan salah satu kelompok yang menolak RUU tersebut, apalagi dibahas pada masa pandemi corona di Indonesia.

“Nama Koordinator ICW Adnan Topan Husodo, telah dicatut sembarangan oleh pihak tidak bertanggungjawab, seolah-olah mendukung RUU Omnibus Law,” tulis ICW pada akun Twitternya.

Adapun ICW memastikan tak akan mendukung RUU yang dinilai banyak menuai kontroversi. “ICW tidak pernah mendukung pembahasan RUU kontroversial apapun, termasuk RUU Omnibus Law, terutama di tengah pandemi covid-19,” tutup cuitan itu.

 

Sebagai informasi, sebelumnya ICW melihat ada upaya pemerintah tetap ingin meloloskan rancangan undang-undang Omnibus Law di DPR melalui celah Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2020 Tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan Untuk Penanganan Pandemi Corona.

Koordinator ICW Adnan Topan Husodo mengatakan Perppu 1 Tahun 2020 ini sama sekali tidak berfokus pada masalah utamanya yakni masalah kesehatan masyarakat akibat virus corona, melainkan hanya berfokus pada dampak ekonominya saja terutama soal perpajakan yang juga dibahas dalam undang-undang omnibus law.

“Oleh karena itu kita perlu hati-hati melihat Perppu ini, karena pada saat yang sama di level pemerintah dan DPR juga sedang dibahas Omnibus Law, terutama Omnibus Law yang terkait dengan pajak, kita tahu dalam konteks Perppu ini juga banyak dibicarakan mengenai insentif pajak.

“Lalu apakah pajak pribadi seperti kita-kita yang selama ini membayar pajak? bukan! tetapi pajak korporasi, nah ini yang juga perlu dikritisi,” tegas Adnan Topan saat virtual press conference Koalisi Masyarakat Sipil, Jumat (3/4/2020) lalu.

Adnan juga menyoroti Pasal 27 Perppu 1 Tahun 2020 ini yang menyebut ada 3 bentuk perlindungan hukum bagi pemerintah dalam menangani anggaran pandemi virus corona.

“Pemerintah ingin menghindari dari jerat hukum apabila ada kesalahan di kemudian hari, padahal resources dan kewenangan yang diberikan melalui satu badan yang namanya KSSK sangat besar, baik itu yang ada di OJK, BI, maupun di LPS,” tegasnya.

Sebagaimana diketahui, dalam Perppu Nomor 1 Tahun 2020 pasal 27 mengatur tentang perlindungan hukum bagi pemerintah dalam menangani anggaran pandemi virus corona sebesar Rp 405,1 triliun untuk menyelamatkan ekonomi Indonesia di tengah virus corona.

Pertama, biaya yang telah dikeluarkan pemerintah saat ini merupakan upaya penyelamatan ekonomi, bukanlah kerugian negara. Kedua anggota KSSK tidak dapat dituntut pidana dan perdata, sepanjang melaksanakan tugas dengan itikad naik dan sesuai peraturan. Ketiga, keputusan yang diambil berdasarkan Perpu ini tidak dapat digugat ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). (Waw)

Komentar

News Feed