oleh

Istana Dihantam Kritik, Manuver Luhut Bawa-bawa Nama Gusdur

indonesiakita.co – Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengaku rindu terhadap sosok almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gusdur. Hal ini ia ungkapkan di akun Facebook milikya.

Dimana Luhut mengaku, nama Gusdur muncul saat ia melihat dinamika politik saat ini yang telah melampaui batas di tengah wabah virus corona, serta tentang kritik.

“Momen seperti ini membuat saya rindu kepada almarhum Gus Dur yang semangat positifnya selalu menginspirasi setiap langkah saya menjalani hidup sebagai pejabat negara,” tulis Luhut, seperti dikutip dari akun Facebook miliknya, dikutip Sabtu (11/4/2020).

Ia mengaku, banyak belajar dari Gusdur mengenai perbedaan kritik yang akan tetap selalu ada dan tak bisa dihilangkan.

Berikut isi pernyataan Luhut:

Belakangan, saya melihat dinamika yang terjadi sudah sangat melampaui batas ini. Saya tidak habis pikir, mengapa di tengah suasana pandemi seperti saat ini, ujaran kebencian dan fitnah terus dipelihara di tengah-tengah kita? Mengapa kita masih diliputi dengan sentimen sektarian di saat seluruh anak bangsa harusnya bersatu melawan musuh bersama yaitu virus corona, yang mengancam kesehatan serta keselamatan seluruh masyarakat Indonesia? Mengapa kita malah terus-terusan mencari perbedaan, tanpa sedikitpun berpikir persatuan? Momen seperti ini membuat saya rindu kepada almarhum Gus Dur yang semangat positifnya selalu menginspirasi setiap langkah saya menjalani hidup sebagai pejabat negara. Dari Gus Dur pula saya belajar, bahwa perbedaan dan kritik pasti ada dan tidak bisa dihilangkan, karena perbedaan itu lahir bersama kita. Wejangan Gus Dur inilah yang membuat saya selalu berprinsip bahwa persaudaraan antar anak bangsa harus kita ke depankan.

Bangsa Indonesia saat ini sedang berada dalam situasi pandemi. Semua pihak sedang bergerak bersama mencari solusi untuk mempercepat penanganan Covid-19 untuk memastikan keselamatan dan kesehatan semua warga negara Indonesia. Bagi saya, ini adalah misi, dan tetap, sebuah misi harus dituntaskan dengan baik. Namun saya sungguh menyayangkan tindakan dan ucapan beberapa pihak yang tega menjadikan situasi seperti ini untuk memperkeruh keadaan dengan melakukan serangan-serangan yang tak berdasar dan malah mengarah ke personal atau pribadi orang lain. Bukan lagi kritik yang berorientasi pada pemecahan masalah dan mencari solusi bagi keselamatan negeri tercinta kita.

Saya tidak pernah punya keinginan untuk membungkam kritik, karena bagi saya kritik adalah motivasi terbesar sebagai pejabat negara dalam merumuskan kebijakan yang bermanfaat. Bukan hanya bagi generasi saat ini, tetapi juga generasi anak dan cucu kita di kemudian hari. Tapi saya juga ingin bangsa ini menjadi bangsa yang terdidik, yang terbiasa untuk saling kritik dan mendebat dengan fakta dan data yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan dengan tuduhan tak berdasar yang menyerang pribadi orang lain.

Sebuah tuduhan kepada pribadi seseorang tentu juga akan mengenai sisi paling privat dari orang itu. Ini pula yang kemudian dirasakan oleh keluarga dan orang-orang terdekat saya. Mereka merasa yang hari ini terjadi sudah kelewat batas dan bukan contoh yang baik bagi pendidikan moral dan pendewasaan generasi penerus bangsa yang besar ini, terutama dalam hal berdemokrasi dan menyampaikan pendapat. Maka perlu dilakukan sebuah tindakan untuk setidaknya membuat masyarakat Indonesia, juga anak-cucu saya, bisa belajar dan paham bahwa setiap tindakan pasti ada konsekuensinya.

Saya meyakini bahwa tidak ada kebebasan yang absolut, semua yang diucapkan harus mampu dipertanggungjawabkan. Saya juga ingin mengajak seluruh masyarakat Indonesia agar mampu bertanggung jawab atas apapun laku dan ucap kita, karena sesederhana ucapan dan laku itu punya dampak bukan hanya kepada kita, tetapi juga lingkungan sekitar dan masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Jika kita berani mengucapkan dan melakukan suatu hal, mengapa kita tidak punya keberanian yang sama untuk mempertanggungjawabkannya?

Sebagai informasi, istana terus mendapat kritikan pedas terkait kelalaian pemerintah soal penanganan wabah virus corona, dimana sebelumnya sejumlah negara tetangga meminta RI agar mengantisipasi virus corona. Ironisnya sejumlah menteri kabinet malah menyebut RI tidak terkena virus corona, bahkan pemerintah melakukan diskon tiket pesawat terbang, hotel dan restoran guna memancing turis agar tetap datang ke Indonesia.

Selain itu, kritikan terhadap lambatnya cara penanganan pemerintah juga dilakukan oleh para netizen. Namun, akhirnya Kapolri memberikan telegram mengenai adanya aturan dan sanksi bagi penghina pemerintah atau presiden.

Langkah ini juga banyak menuai kritikan dari berbagai lapisan masyarakat yang menilai pemerintah anti kritik.

Jelas, Gusdur tentunya sangat berbeda dengan era pemerintah saat ini, dimana di era Gusdur kran-kran demokrasi dinilai telah terbuka. Gus Dur disebut Bapak Demokrasi karena dinilai pengabdian beliau kepada bangsa dilakukan secara demokratis, dan tidak ingin ada kekerasan di dalam politik.

Selain itu, ada tiga prinsip untuk membangun Indonesia secara demokratis. Yakni, adanya kebebasan. Di dalam kebebasan itu ada kesamaan perlakuan atau kedudukan yang sama di depan hukum dan pemerintahan. Kemudian di dalam kebebasan dan kedudukan yang sama itu harus ada jaminan kebersatuan. (Fel)

Komentar

News Feed