oleh

BMKG Sebut Dentuman Keras Pagi Tadi Bukan Karena Gempa Tektonik

indonesiakita.co – Suara dentuman atau gemuruh yang terdengar masyarakat di Jabodetabek pada Sabtu (11/4) dini hari, dipastikan bukan akibat gempa tektonik. Hal ini diungkapkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono menjelaskan, memang ada aktivitas gempa kecil di Selat Sunda pada pukul 22.59 WIB dengan magnitudo M 2,4.

Adapun gempa tektonik itu terletak pada koordinat 6,66 LS dan 105,14 BT, tepatnya di laut pada jarak 70 kilometer arah selatan barat daya Gunung Anak Krakatau di kedalaman 13 kilometer.

“Terkait suara dentuman yang beberapa kali terdengar dan membuat resah masyarakat Jabodetabek, maka sejak tadi malam hingga pagi hari ini pukul 06.00 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan tidak terjadi aktivitas gempa tektonik yang kekuatannya signifikan,” ujarnya, pagi ini.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono menjelaskan, memang ada aktivitas gempa kecil di Selat Sunda pada pukul 22.59 WIB dengan magnitudo M 2,4.

Namun gempa tersebut tidak signifikan dan tak dirasakan oleh masyarakat. “Beberapa sensor seismik BMKG, baik eksisting dan sensor baru, yang dipasang tahun 2019 mencatat adanya event gempa di Selat Sunda dengan sangat baik,” sambungnya.

BMKG juga menyatakan monitoring kegempaan yang dilakukan tidak mencatat adanya aktivitas seismik imbas dari aktivitas gunung Anak Krakatau yang erupsi dan melontarkan kolom abu setinggi 657 meter pada Jumat (10/4) malam pukul 21.58 WIB.

“Erupsi Gunung Anak Krakatau kali ini berdasarkan catatan sensor BMKG lebih lemah dibandingkan erupsi yang terjadi pada 22 Desember 2018 lalu,” tutupnya.

Informasi dentuman keras ini juga ramai dibicarakan di sosial media, dan berbagai tanggapan dilakukan oleh sejumlah netizen secara beragam. (Waw)

Komentar

News Feed