oleh

Menanti Sikap Jokowi untuk Abu Bakar Ba’asyir Soal Pembebasan Napi?

indonesiakita.co –  Pemerintah memberikan pembebasan bersyarat kepada 30.000 narapidana untuk mengurangi potensi penularan Covid-19 di lembaga-lembaga pemasyarakatan. Namun dipastikan, langkah tersebut tidak termasuk napi koruptor.

Pembebasan bersyarat ini mengikuti PP No 99/2012 mengenai Perubahan Kedua atas PP 32/1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan. Dalam aturan ini, selain napi anak dan mereka yang sudah berusia lanjut, pembebasan bersyarat juga diberikan kepada mereka yang sudah menjalani 2/3 masa hukuman.

Hal ini bisa diprioritaskan kepada kelompok-kelompok tertentu, seperti napi lansia yang berusia 65 tahun ke atas, napi yang menderita penyakit komplikasi bawaan, napi perempuan yang hamil atau membawa bayi/anak, pelaku tindak pidana ringan yang dihukum penjara di bawah 2 tahun, pelaku tindak pidana tanpa korban, pelaku tindak pidana tanpa kekerasan, dan napi pengguna narkotika.

Sementara itu, narapidana kasus terorisme Abu Bakar Ba’asyir (81), melalui kuasa hukum Ba’asyir, Achmad Michdan mengatakan, telah mengajukan permohonan asimilasi kepada Presiden Jokowi.

Diketahui, permohonan diajukan lewat sebuah surat yang dikirimkan kepada Jokowi, pada 3 April.

“Surat ini kami sampaikan kepada Bapak Presiden Ir. Joko Widodo dan Menteri Hukum dan HAM Bapak Prof. Yasonna Hamonangan Laoly untuk menyampaikan pendapat kami perihal asimilasi dan hak integrasi KH. Abu Bakar Ba’asyir dari sisa pemidanaan beliau yang saat ini berada di Lembaga Pemasyarakatan Gunung Sindur,”  ujarnya, kemarin.

Michdan berharap agar pemerintah juga memberikan asimilasi kepada Ba’asyir. Salah satu pertimbangannya adalah karena kliennya masuk dalam kategori usia rentan terpapar Covid-19. “Sehingga penting dan sangat genting untuk segera melepaskan narapidana yang berusia 65 tahun ke atas,” ucapnya.

Ia menambahkan, bahwa Ba’asyir telah menjalani masa tahanan lebih dari 2/3 masa hukuman. Sebagai informasi, Ba’asyir merupakan pendiri Jemaah Islamiyah dan pernah terkait berbagai aksi terorisme di Indonesia, salah satunya terlibat bom bali dan bom Hotel JW Marriot pada 2004. Dia divonis 15 tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada tahun 2011. (Fel)

Komentar

News Feed