oleh

Jokowi Dinilai Lemah Tangani Darurat Virus Corona

ndonesiakita.co – Presiden Jokowi mendapat sorotan publik, karena dinilai tidak tegas dalam menghadapi darurat virus corona di Indonesia. Terlebih, sebagai kepala negara diharapkan dapat mengambil komando kondisi saat ini.

“Hand in hand menghadapi perang Corona. kepemimpinan itu diawali presiden sebagai panglima besar, panglima tertinggi dalam perang melawan Corona. Bukan menteri kesehatan,” tegas Pakar Otonomi Daerah Djohermansyah Djohan dalam diskusi di radio, Sabtu (4/4).

Djohermansyah menilai, saat ini birokrasi tidak mampu menangai masalah corona yang jelas telah banyak memakan korban jiwa. “Jangan pakai birokrasi-birokrasi di saat berbahaya ini kalau kita tidak mau rakyat mati banyak,” sambungnya.

Menurut guru besar IPDN ini, pemerintah pusat sebagai panglima tertinggi dibantu para gubernur, bupati serta wali kota sebagai panglima di wilayah masing-masing. Menurutnya, perlu ada satu padu untuk menyusun strategi bersama menghadapi Corona.

Jika tidak jelasnya, maka orbannya akan makin bertambah. Tidak hanya masyarakat biasa, tetapi para pejabat negara itu sendiri. “Itu kalau kita tidak bersatu padu, strategi perang tidak jitu, arahan kebijakan pusat tidak clear dan jelas, maka ini bisa berguguran. Bukan hanya rakyat, panglima perangnya gugur,” tambahnya.

Selain itu, pemerintah pusat juga diharapkan dapat memberikan arahan yang jelas kepada pemerintah daerah. Sementara itu, pemerintah pusat juga diminta untuk memberikan dorongan kepada pemerintah daerah.

“Bukan di-discourage. Kasih semangat. Yang ada di lapangan kan kepala daerah. Pejabat pemerintah pusat kan duduk di balik meja. Mereka ini dimana-mana, termasuk pasukan tenaga medis.

Yang penting sebetulnya pusat harus akomodatif terhadap ide-ide daerah. Jangan dengan imbauan. Pusat itu memimpin peperangan. Kalau peperangan hanya imbau-imbau, ya mati anak buah di lapangan,” tutupnya. (Fel)

Komentar

News Feed