oleh

Mungkinkah Korban Jiwa Covid-19 Samakan Rekor Tewasnya 894 Petugas Pemilu 2019?

indonesiakita.co – Jumlah pasien positif terinfeksi Covid-19 di Indonesia, per Kamis (2/4), mencapai 1.790 kasus. Dari jumlah itu, korban meninggal mencapai 170 jiwa, dan angka yang sembuh 112 orang. Itu artinya setiap hari pasien bertambah dan korban jiwa juga meningkat.

Tentunya, pemerintah diharapkan dapat bekerja keras agar virus ini tidak memakan banyak korban jiwa di Indonesia.

Menariknya, saling silang pendapat di sosial media terus terjadi. ada yang menyalahkan pemerintah, dan ada juga yang menyalahkan warga yag tidak patuh pada imbauan pemerintah.

Kematian dengan jumlah 100 orang lebih jadi mengingatkan kita pada angka kematian yang cukup besar.

Dimana Ketua Komisi Pemilihan Umum ( KPU) Arief Budiman mengungkap jumlah petugas penyelenggara pemilu yang meninggal dunia pada Pemilu 2019 lalu. Menurut Arief, total ada 894 petugas yang meninggal dunia dan 5.175 petugas mengalami sakit.

“Ini yang banyak dijadikan diskusi di publik tentang jumlah petugas yang meninggal dan petugas yang sakit. Kami sudah menyelesaikan tugas dan tanggung jawab kita,” kata Arief dalam acara Refleksi Hasil Penyelenggaraan Pemilu Serentak 2019 dan Persiapan Penyelenggaraan Pemilihan Serentak 2020 di Kantor KPU, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (22/1/2020).

Ini adalah angka yang cukup fantastis pada pelaksanaan pemilu di era pemerintahan presiden Joko Widodo. Bahkan, tak sedikit pihak yang mengatakan pelaksanaa pemilu 2019 gagal, karena banyak menelan korban jiwa.

Padahal, alokasi anggaran penyelenggaraan dianggarkan Rp25,59 triliun di Komisi Pemilihan Umum (KPU). Sedangkan anggaran pengawasan ditetapkan Rp4,85 triliun dan anggaran keamanan dialokasikan sebesar Rp3,29 triliun (www.kemenkeu.go.id)

Perlu diingat, bahwa terkait banyaknya korban jiwa Indonesia terkait virus corona disinyalir adanya kelalaian yang dilakukan pemerintah. Karena, beberapa negara sebelumnya telah meminta agar RI mengantisipasi virus corona, namun pemerintah justru tidak menanggapinya.

Bahkan menariknya, pemerintah justru asik melakukan diskon tiket pesawat untuk memanggil turis agar tidak takut datang ke Indonesia. Tak hanya itu, sejumlah menteri juga mengatakan bahwa virus corona tidak ada di Indonesia, diantaranya Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, Menteri Luhut Binsar Pandjaitan, Menko Mahfud MD.

Selain itu, Jokowi juga mengatakan Indonesia aman dari virus corona. “Beberapa negara di kawasan Asia Tenggara telah mengkonfirmasi masuknya virus corona. Namun, sejauh ini, belum terdapat indikasi menyebarnya virus tersebut di Indonesia,” kata Jokowi melalui akun media sosial Instagram-nya, Senin (27/1) lalu.

Akibat sikap pemerintah, Presiden Jokowi didugat oleh oleh seorang warga bernama Enggal Pamukty ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (1/4/2020). Gugatan yang diajukan Enggal telah teregister dengan nomor PN JKT.PST-042020DGB.

Enggal juga menjelaskan, bahwa tindakan yang dilakukan pemerintah pusat sejak awal sangat melecehkan akal sehat sekaligus membahayakan jutaan nyawa rakyat dengan program mendatangkan turis saat wabah Covid-19 terjadi di sejumlah negara. Padahal, seharusnya pemerintah memiliki waktu yang cukup untuk mengantisipasi masuknya virus corona ini.

“Tiongkok sejak awal berani menutup Kota Wuhan dan sekaligus Provinsi Hubei yang berpenduduk 54 juta untuk memerangi teror Covid-19 tanpa memikirkan kerugian ekonomi. Bagi Pemerintah Tiongkok, nyawa rakyatnya jauh lebih daripada investasi. Ini yang tidak kita lihat pada kebijakan Jokowi.

“Mementingkan investasi pariwisata di saat wabah dahsyat Covid-19 bukan hanya melecehkan akal sehat, tapi juga mendatangkan malapetaka besar. Kita jadi olok-olok dunia internasional di saat negara-negara lain justru menutup negaranya dari turis,” jelas Enggal.

Tentunya, corona tidak hanya mengakibatkan banyak korban jiwa, namun juga menghantam kondisi ekonomi RI. Siapa yang disalahkan menurut anda?, bagaimana masyarakat menanggapi jika memang benar ada kelalaian pemerintah dalam hal ini?.. silahkan anda yang menilainya. (rangkuman redaksi)

Komentar

News Feed