oleh

Alat Rapid Tes Corona dari China Dinilai Tidak Akurat, Bagaimana Nasib Pasien di Indonesia?

indonesiakita.co – Sejumlah negara mengeluhkan alat uji virus corona (rapid test) dari China. Dimana ekspor kit rapid test ini berawal dari permintaan Beijing kepada perusahaan-perusahaan farmasi di China untuk membantu memerangi pandemi virus corona.

Pada Maret, Lei Chaozi, seorang pejabat di Departemen Pendidikan, mengatakan alat uji buatan China telah dipasok ke 11 negara, termasuk Inggris, Italia dan Belanda.

Seperti dilansir Reuters, Kamis (2/4), kini, eksportir kini wajib mendapat sertifikat registrasi dari National Medical Products Administration (NMPA) agar dapat memperoleh izin bea cukai China.

Terlebih, keakuratan beberapa alat uji China yang dipasarkan di luar negeri tanpa persetujuan China telah dipertanyakan oleh otoritas kesehatan Eropa.

Bahkan Spanyol menarik sejumlah alat uji cepat yang dibuat oleh perusahaan diagnostik China Shenzhen Bioeasy Biotechnology setelah produk tersebut ditemukan memiliki sensitivitas rendah, yang berarti mereka tidak dapat mendeteksi infeksi secara memadai.

Namun demikian, Bioeasy membantah dan menjelaskan jika pembacaan yang tidak akurat bisa jadi karena sampel tidak dikumpulkan dan diproses dengan benar. Dalam pernyataan itu, Bioeasy mengatakan gagal berkomunikasi secara memadai dengan klien tentang cara menggunakan alat uji itu.

Secara terpisah, seorang juru bicara dari kementerian luar negeri China mengatakan pekan lalu bahwa pejabat pemerintah Slovakia telah mempertanyakan keandalan alat uji cepat yang dibeli dari China. Kesimpulan awal dari konsulat China di Slovakia adalah bahwa ketidakakuratan adalah akibat dari pekerja medis yang menggunakan alat uji secara salah, kata jurubicara itu.

Tes cepat Bioeasy, serta tes yang dipertanyakan oleh pejabat Slovakia, adalah tes antigen, metode yang menarget protein virus untuk mendeteksi infeksi dan dapat memberikan hasil lebih cepat daripada metode asam nukleat alternatif (PCR).

“Tetapi tes antigen membutuhkan tingkat kandungan virus yang lebih tinggi dan karena itu bisa gagal mendiagnosis orang dengan benar ketika sampel hanya mengandung sejumlah kecil virus,” kata Dr. Chen Guangjie, seorang profesor imunologi di Universitas Shanghai Jiaotong.

Selain itu, aturan yang lebih ketat akan mulai berlaku pada tahun 2022 yang akan mengharuskan banyak produsen produk diagnostik penyakit menular untuk mengikuti prosedur yang dapat memakan waktu hingga satu tahun atau lebih untuk mendapatkan tanda CE yang menunjukkan persetujuan untuk dijual secara legal di negara-negara Eropa.

Jam Chan, GM pemasaran di Osmunda, sebuah perusahaan jasa yang memberikan masukan pada perusahaan produk medis China untuk mendapatkan persetujuan di luar negeri, mengatakan banyak alat tes baru-baru ini yang dikembangkan di China belum melalui uji klinis yang ketat, yang berarti tingkat akurasi yang diklaim dan dicetak pada produk tidak divalidasi dengan benar.

“Lebih baik tidak mengekspor produk daripada menawarkan produk yang tidak akurat yang dapat menyebabkan hasil palsu,” kata Chan. “Kualitas produk yang telah melalui tinjauan domestik sebelum diekspor setidaknya dijamin sampai batas tertentu.ā€¯tutupnya.

Sebelumnya, Staf Khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara Arya Sinulingga mengungkapkan, alat pengecekan cepat atau rapid test virus corona Covid-19 sudah masuk ke Indonesia.

Menurutnya, alat impor dari China tersebut bakal masuk setiap hari ke Indonesia. “Iya sudah masuk hari ini, masuknya bertahap hampir tiap hari, ini masuk terus rapid test,” ujar Arya kepada wartawan lewat video conference di Jakarta, Kamis (19/3/2020).

Arya menjelaskan, alat yang sudah masuk tersebut akan didistribusikan ke rumah-rumah sakit rujukan pemerintah.

Dengan begitu, bisa diketahui secara cepat positif atau negatifnya pasien terpapar virus corona.

“Penyalurannya akan dikirimkan ke rumah sakit rujukan yang sudah ditunjuk pemerintah, tapi mekanismenya business to business antarrumah sakit,” jelas dia.

Rencananya, lewat PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau RNI akan mengimpor alat tersebut dari China.

Arya mengatakan, alat tersebut seperti alat tes kehamilan. Dengan begitu, untuk memastikan positif atau negatif virus corona bisa ditentukan secara cepat.

“RNI lagi kerja sama dari China itu masuk produksi rapid test covid-19. Ini kerja sama dengan pabrik China. Kami sedang pesan sekitar 500 ribu. Jadi, hasilnya bisa keluar hanya berapa menit 15 menit maksimal 3 jam,” tutup Arya. (Fel)

Komentar

News Feed