oleh

Akal-akalan Yasonna Buka Peluang Koruptor Dibebaskan Dikecam Pukat UGM!

indonesiakita.co – Peneliti Pusat Kajian Anti Korupsi Universitas Gadjah Mada (Pukat UGM) Zaenurrohman menanggapi rencana Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly yang akan merevisi PP Nomor 99 Tahun 2012 tentang Syarat dan Tata Pelaksanaan Hak Warga Binaan Permasyarakatan. Dimana Yasonna juga membuka peluang untuk membebaskan tahanan koruptor.

Sosok yang akrab disapa Zen ini menilai bahwa wacana yang dilontarkan Yasonna tidak tepat. “Rencana Kemenkumham mengeluarkan napi koruptor, saya pada prinsipnya tidak sepakat. Jumlah napi tindak pidana korupsi itu sangat sedikit dibandingkan jumlah warga binaan lembaga pemasyarakatan seluruh Indonesia. Sehingga jika dikeluarkan, itu tidak menjamin menjadi pengurang yang signifikan,” ujar Zen, Kamis (2/4).

Adapun yang kedua, kasus korupsi bukanlah kejahatan biasa. Korupsi adalah kasus kejahatan serius. Sehingga langkah Kemenkumham membebaskan narapidana kasus korupsi dinilai tak tepat.

“Sedangkan korupsi bersama dengan kejahatan terorisme dan narkotika khususnya bandar itu adalah kejahatan yang sangat serius. Sehingga tidak tepat jika mereka dikeluarkan dalam situasi COVID-19 ini,”  tegasnya.

ia juga mengungkapkan, alasan lain yakni kondisi Lapas khusus korupsi seperti Lapas Sukamiskin bukanlah lapas dengan kondisi over kapasitasnya. Sehingga wacana membebaskan narapidana kasus korupsi ini dengan pertimbangan pencegahan Corona, bukan langkah yang tepat. Zen menyarankan agar cukup dilakukan protokol kesehatan saja di Lapas Sukamiskin.

Adapun menurutnya, dengan memberikan dua catatan penting terkait kebijakan Kemenkumham di Lapas untuk penanganan persebaran virus Corona. Catatan pertama, pihaknya mendukung sepenuhnya kebijakan Kemenkum HAM untuk mengeluarkan sebagian warga binaan. Langkah itu sebagai sebagai upaya untuk mengurangi overkapasitas sehingga bisa mengurangi penyebaran Covid-19.

Catatan kedua adalah agar narapidana tindak kejahatan yang sangat serius seperti bandar narkotika, terorisme, dan korupsi narapidana yang terseret kasus itu tidak diberi prioritas untuk dibebaskan. Kecuali jika mereka memiliki kondisi kesehatan yang sangat buruk.

“Sehingga atas dasar alasan kemanusiaan, mereka bisa diprioritaskan untuk dikeluarkan. Jadi bukan berdasarkan umur, kriteria lain, tapi kriteria kesehatan yang buruk yang itu bisa dibuktikan dengan tim dokter. Memang warga binaan itu kesehatannya buruk, tetapi harus yang benar-benar kondisi mengancam nyawa. Itu yang bisa diprioritaskan,” pungkasnya. (Fel)

Komentar

News Feed