oleh

Rizal Ramli: Respon Pemerintah Terhadap Virus Covid-19 Lambat!

indonesiakita.co – Tokoh nasional Rizal Ramli mengungkapkan kekecewaannya pada sikap pemerintah terkait penanganan virus Covid-19. Bahkan menurutnya, relatif lambat dalam penanganan pandemi virus Corona yang berasal dari Wuhan, Tiongkok itu.

Rizal juga menyinggung kebijakan pemerintah sebelumnya yang akan membayar influencer sebesar rp 72 miliar dengan alih meningkatkan pariwisata.

“Jadi…pada awal Corona, respons Indonesia sangat lambat dan terlambat padahal di Wuhan telah terjadi akhir tahun 2019. Kelambatan tersebut terutama karena ‘sungkan’ takut menyinggung Tiongkok. Kedua, pejabat-pejabat RI mengambil sikap ‘self-denial’ (menolak kenyataan). Akibatnya, kita kehilangan 2,5 bulan,” ujarnya dalam sebuah diskusi di salah satu stasiun tv swasta, kemarin.

Adapun menurutnya, 2,5 bulan tersebut seharusnya bisa dilakukan untuk hal-hal yang mengacu pada pencegahan. “Kita kehilangan waktu yang sangat berharga, 2,5 bulan, untuk scanning, monitoring dan testing potensi penularan corona. Itulah yg menyebabkan negara-negara lain seperti Australia, Singapore, WHO tidak percaya pada statistik kasus corona di Indonesia,” tambahnya.

Sementara terkait kebijakan membayar influencers sebesar Rp 72 miliar menurutnya sebuah langkah yang tidak tepat.

“Respons kebijakan pertama terhadap corona sangat ngawur yaitu rencana untuk membiayai influencers senilai Rp72 miliar dan subsidi airline untuk meningkatkan turisme. Bener-bener ngawur, seluruh dunia mau kurangi turis asing, ini malah mau tingkatkan. kualitas orang di sekitar Jokowi payah.

Masih saja izinkan pekerja-pekerja Tiongkok untuk masuk Indonesia hanya karena kepentingan bisnis pejabat-cum-penguasa. Sing eling eui, ingat kepentingan nasional. Nora amat sih,”sambungnya.

 

Rizal Ramli sebut tanpa Corona ekonomi Indonesia tetap anjlok!

 

“Sebagai bangsa memang kita terbiasa dan sangat asyik kalau membahas apa yang terjadi hari ini, tetapi tidak terlatih untuk melihat dan melakukan antisipasi terhadap masa depan. Sehingga sering terlambat  jika menghadapi shocks global seperti corona.

Jika tidak ada corona, ekonomi Indonesia memang terus anjlok karena salah kelola, mabok utang dan pengetatan makro, ekonomi hanya akan tumbuh 4 persen tahun 2020.

Kalau tindakan terhadap corona efektif, ekonomi hanya akan anjlok lagi -1 persen. Tapi jika tidak efektif, ekonomi akan anjlok -2 persen lagi.

Untuk mengurangi dampak corona terhadap ekonomi, ini waktunya untuk menggeser secara radikal dengan melakukan realokasi APBN 2020. Stop (moratorium) proyek-proyek infrastruktur besar 2020. Harus berani, jangan gengsi. Alokasikan hanya untuk sektor kesehatan, makanan dan daya beli rakyat miskin,” ungkapnya.

Mantan anggota tim panel penasihat ekonomi PBB ini juga mengingatkan pemerintah terhadap sejumlah kebijakan ekonomi yang berdampak buruk pada kekuatan ekonomi RI.

“Indonesia saat ini bukan negara kaya, sehingga jangan lakukan ‘macro pumping’ dan jangan ada ‘buyback’ saham-saham BUMN lain-lain. Amerika saja yang negara kaya, melakukan pumping macro ratusan miliar dolar lewat FED ternyata tidak effektif, hanya kurang 2 jam index naik, habis itu anjlok.

Korea Selatan termasuk negara yang paling efektif dalam menangani pandemik corona karena mereka belajar dari kasus SARS, evaluasi apa-apa yang effektif dan siapkan SOP (Standard Procedures) ketika serangan corona, sudah ada SOP yang siap-pakai tanpa perlu banyak rapat dan koordinasi,”

Gunakan momentum pandemic corona ini untuk menggenjot produksi dalam negeri, seperti pertanian, buah-buahan dan sayur-sayuran. Bantu kredit, bibit, pupuk sehingga bisa panen setiap 3 bulan. Ajak IPB untuk bantu peta kecocokan tanah. Jangan bisanya impor-impor doang.
Payah amat sih.

Nilai tukar rupiah makin anjlok, sudah Rp15.200/$, dan index IHSG sudah anjlok dari 6000-an ke 4500-an. Jangan biarkan mata uang rupiah dan index terombang-ambing dengan shocks dan volatilitas yang sangat besar. Ubah flexible exchange menjadi fixed exchange di 15.500/$ untuk 1 tahun.

Jangan biarkan external & internal shock dengan volatilitas yang sangat besar merusak ekonomi dan korporasi nasional. Bekukan perdagangan saham sampai waktu yang belum ditentukan. Toh kalau dibuka terus, akan semakin anjlok, dan akan semakin panik.

Ini adalah momentum untuk tukar (swap) utang-utang Indonesia yang yield-nya sangat tinggi (7-8 persen), karya Menkeu ‘terbalik’ yang sangat merugikan bangsa kita. Kerugian karena bond kemahalan itu 110-120 T. Padahal yield bond di Jepang, Eropa negatif. Segera negosiasi swap bond, menghemat 110 T!

Soal penjelasan dan tindakan preventif dan kuratif menghadapi corona, pujian perlu diberikan kepada Gubernur Anies Baswedan. Bravo. Jelas, terukur dan persuasif dibandingkan pejabat-pejabat pemerintah pusat,” tutup Rizal. (Fel)

Komentar

News Feed