oleh

Perry Warjiyo Buka-bukaan BI Alami Defisit Rp 21,8 Triliun Tahun Depan!

indonesiakita.co – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, Neraca keuangan bank sentral diprediksi mengalami defisit pada 2021 sebesar Rp 21,8 triliun. Dimana salah satu penyebabnya adalah imbas penerapan kebijakan berbagi beban atau burden sharing untuk mendukung APBN dalam menangani pandemi COVID-19.

“Perkiraan waktu itu defisit Rp 24 triliun tapi dengan terakhir, tahun depan (defisit) Rp 21,8 triliun,” ujarnya, dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI secara virtual di Jakarta, Senin (28/9/2020).

Ia mengatakan, bahwa dalam mendukung APBN, BI membeli SBN di pasar perdana sesuai dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) pertama dengan Menteri Keuangan 16 April 2020.

Selain itu, BI juga membeli SBN pemerintah secara langsung sesuai SKB kedua pada 7 Juli 2020.

Diketahui, hingga 24 September 2020, BI sudah menyerap Rp 183,48 triliun SBN secara langsung yang digunakan untuk membiayai kebutuhan publik atau public goods yang semua dana dan bebannya dari BI.

Perry menambahkan, dalam SKB 7 Juli tersebut juga terdapat kebutuhan untuk membiayai non public goods sebesar Rp 177 triliun dengan skema berbagi beban yakni pemerinta menanggung reverse repo selama tiga bulan dikurangi satu persen atau sekitar 2,7 persen.

Adapun beban yang ditanggung BI, kata dia, selisih antara yield SBN sekitar 6,8 persen dikurangi 2,7 persen.

Menurutnya, selain burden sharing, defisit keuangan BI juga disebabkan suku bunga global menurun sehingga penurunan devisa asing juga turun.

BI jelas Perry, akan mencari alternatif lain supaya penerimaan hasil penanaman devisa bisa lebih tinggi dan melakukan efisiensi operasi moneter.

“Kalau dulu sebagian pakai SBI sekarang hampir semua menggunakan SBN tapi SBN yang kami miliki sebagian untuk burden sharing juga,” pungkasnya.

Komentar

News Feed