oleh

Istana Klaim RI Lolos dari Resesi, Indef: Justru Pemerintah yang Bikin Negatif!

indonesiakita.co – Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi Arif Budimanta optimistis Indonesia bakal lolos dari resesi ekonomi, jika pada kuartal III 2020, laju ekonomi domestik bisa kembali bergerak ke zona positif, seperti yang terjadi di kuartal I 2020.

“Indonesia masih bisa menghindari resesi jika pertumbuhan ekonomi kita pada kuartal III ini secara tahunan (y-o-y) dapat mencapai nilai positif,” ujarnya, di Jakarta, hari ini.

Ia mengatakan, bahwa laju ekonomi negatif pada kuartal II 2020 telah diprediksi sebelumnya sebagai konsekuensi dari adanya pandemi COVID-19, yang menyebabkan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Sementara itu menurutnya, kuartal III, Arif meyakini, Indonesia berpeluang membawa laju Produk Domestik Bruto (PDB) ke level positif setelah bergeraknya lagi aktivitas perekonomian dengan protokol adaptasi kebiasaan baru.

“Pertumbuhan negatif atau kontraksi ekonomi ini tidak hanya terjadi di Indonesia, hampir seluruh negara mengalami hal serupa bahkan dengan kontraksi yang lebih tajam seperti yang terjadi di Uni Eropa dengan -14,4 persen, Singapura -12,6 persen, Amerika Serikat -9,5 persen, Malaysia -8,4 persen,” ujar dia.

Arif menambahkan, hal itu menunjukkan kondisi ekonomi Indonesia relatif lebih baik dibandingkan dengan beberapa negara lain, karena sejak awal Presiden Joko Widodo menginstruksikan penerapan kebijakan kontra-siklus (counter cyclical) untuk mendorong ekonomi domestik, khususnya konsumsi masyarakat agar tidak terjadi kontraksi lebih dalam.

Sementara diketahui, pada Juli 2020 atau awal kuartal III 2020, Arif menyebut sudah ada sinyalemen pemulihan ekonomi, yang tercermin dari kinerja industri manufaktur dan pertumbuhan kredit perbankan. Oleh karena itu jika momentum pemulihan bisa terus berlanjut, maka di kuartal III 2020, ekonomi Indonesia bisa segera pulih.

“PMI (Prompts Manufacturing Index) yang meningkat dari 39,1 pada bulan Juni menjadi 46,9 pada bulan Juli dan diharapkan bulan ini sudah bisa di atas 50. Demikian juga pertumbuhan kredit perbankan yang mulai ada tanda perbaikan pada bulan Juli lalu,” ujar dia.

Istana memandang potensi ekonomi dalam negeri harus terus dioptimalkan untuk dapat menopang perekonomian agar dapat tumbuh positif. Konsumsi masyarakat, belanja pemerintah maupun investasi domestik harus digencarkan agar roda-roda perekonomian dapat bergerak.

“Inilah yang juga menjadi concern (perhatian) Presiden agar stimulus yang ada dalam Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) segera dilakukan, bantuan sosial, program padat karya, bantuan pembiayaan, dan stimulus lainnya akan dilakukan dengan cepat, agar masyarakat dan pelaku usaha segera merasakan manfaatnya dan Indonesia terhindar dari ancaman resesi ekonomi,” ujarnya.

Sebelumnya, Ekonom INDEF Didik J. Rachbini menjelaskan soal keyakinannya itu, kalau Indonesia sudah pasti akan resesi. Menurut Didik, hal tersebut bisa dilihat dari realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2020, yang jauh dari ekspetasi yang diperkirakan.

“INDEF tidak menduga sampai di minus 5,32%, ini di luar dugaan. Saya yakin kuartal III masuk resesi dan IV masuk lebih jauh lagi apabila penanganan seperti ini,” jelas Didik dalam diskusi virtual, Kamis (6/8/2020).

Peran pemerintah dinilai tidak membantu, karena dari 17 lapangan usaha yang mendorong perekonomian, hampir semuanya merosot dan tumbuh minus. Bahkan sektor yang paling naik seperti informasi dan telekomunikasi tidak sebesar yang diharapkan.

Ditambah, dengan lambatnya penyaluran bantuan yang sudah disusun dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), yang menurut Didik tidak akan memberikan hasil yang maksimal terhadap perekonomian.

“Ternyata fungsi pemerintah menahan pertumbuhan minus ini tidak berjalan, justru pemerintah menjadi sumber kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi negatif,” jelasnya. (Waw)

Komentar

News Feed