oleh

Pemerintah Sebut Ekonomi Indonesia Normal, Padahal BPS Sebut Kontraksi 5,32 %

indonesiakita.co – Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan angka output perekonomian atau Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia periode kuartal II-2020. Kepala BPS Suhariyanto menyebutkan PDB Indonesia periode April-Juni 2020 terkontraksi -5,32 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/YoY).

“Perekonomian Indonesia pada triwulan II-2020 year on year dibandingkan triwulan II-2019 mengalami kontraksi 5,32%,” kata Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, Rabu (5/8/2020).

Suhariyanto mengatakan, sektor transportasi dan pengadaan paling terpukul selama pandemi Covid-19. “Kontraksi paling dalam terjadi untuk transportasi dan pengadaan dengan kontraksi -30,84%,” ucapnya.

Sementara dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter-to-quarter/QtQ), PDB mengalami kontraksi -4,19%. Dua kontraksi beruntun secara QtQ membuat Indonesia bisa dibilang sudah masuk ke fase resesi teknikal (technical recession). Pada semester I-2019, ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh positif 5,06%.”Sementara kumulatif semester I terhadap semester I-2019 kontraksi 1,26%,” tuturnya

Sementara itu, pemerintah melalui Menko Ekonomi, Airlangga Hartarto mengaku optimistis pada  kuartal III dan IV-2020 ada tren perbaikan ekonomi karena sejumlah indikator menunjukkan sinyal positif setelah pemerintah meluncurkan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), mencermati pertumbuhan ekonomi kuartal II negatif 5,32 persen.

“Ada keyakinan bahwa ini akan recover dalam bentuk shape pembalikan sehingga kuartal kedua adalah bottom ekonomi Indonesia,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melalui video konferensi di Jakarta, Rabu (5/8/2020).

Ia mengatakan, bahwa indeks keyakinan konsumen juga tumbuh dari 77,8 pada April menjadi 83,8 pada Juni dan survei kegiatan dunia usaha juga menunjukkan tren optimisme pada kuartal III-2020 sebesar minus 5,1 dari survei pada kuartal II-2020 sebesar minus 13,1.

Sementara itu, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menegaskan stabilitas sistem keuangan nasional pada triwulan II 2020 masih normal meskipun kewaspadaan meningkat di tengah pandemi COVID-19.

“Stabilitas sistem keuangan pada triwulan II 2020 yaitu periode April, Mei, dan Juni dalam kondisi normal meskipun kewaspadaan terus ditingkatkan,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati selaku Ketua KSSK dalam jumpa pers daring di Jakarta, Rabu (5/8/2020).

Tampaknya hal yang tak jauh berbeda, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengklaim industri jasa keuangan Tanah Air sudah melewati masa “survival” atau bertahan di tengah pandemi COVID-19, dan kini akan memulai tahap pemulihan (recovery).

“Kami pandang fase survival sudah terlalui, dan kita masuk recovery dengan berbagai upaya sinergi dari berbagai kebijakan pemerintah, moneter, OJK dan Lembaga Penjamin Simpanan,” kata Wimboh dalam konferensi pers daring Komite Stabilitas Sistem Keuangan di Jakarta, Rabu (5/8/2020).

Wimboh mengatakan parameter kinerja pebankan membaik di Juli 2020, setelah terkoreksi di semester I 2020 karena tekanan pandemi COVID-19. Misalnya, pertumbuhan kredit perbankan hingga 22 Juli 2020 menggeliat di 2,27 persen (year on year/yoy). Angka tersebut lebih baik ketimbang pertumbuhan kredit Juni 2020 yang sebesar 1,49 persen (yoy).

“Ini sudah lewati batas terendahnya pada Juni 2020 lalu. Kita harapkan di akhir juli ini bisa ditutup positif dan terus meningkat,” ujar dia.

Komentar

News Feed