oleh

Ekonomi RI Makin Suram, Rizal Ramli: Kena ‘Jab’ Utang dan Gagal Bayar!

indonesiakita.co – Ekonom senior Rizal Ramli menyayangkan sikap pemerintah yang sampai saat ini menyebut bahwa sejumlah data negatif pada kondisi ekonomi RI hanya karena disebabkan oleh pandemi corona. Hal ini menurutnya terdapat kesalahan besar.

“Ini penyesatan, jadi karena semua ini dilakukan karena mumpung…. mumpung ada corona, jadi seolah-olah semua masalah ekonomi disebabkan karena pandemi ini. Wong posisi kabinet hanya untuk hadiah2 pendukung politis dan finansial.

“Keberpihakan kepada rakyat rendah, kapasitas payah, kebanyakan tidak memiliki track record bisa ‘turn-around’(mengubah jadi lebih baik) secara makro dan korporasi. Eh udah gitu, masih ada yg aji mumpung,” tegasnya, kepada indonesiakita.co, hari ini.

Selain itu, Rizal juga menanggapi adanya prediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2020. Dimana terdapat pelemahan terhadap indikator ekonomi RI.

Sebut saja, nilai ekspor yang berada di posisi -18,8%, sementara nilai impor bahan baku -29,6, kemudian, volume penjualan mobil -93,2%. Tak hanya itu, indeks produksi manufaktur  pada April (yoy) hingga Mei (yoy) setidaknya terdapat -45,4% (April) dan -44,6% pada (Mei).

Sebagai informasi, indeks keyakinan konsumen  pada April (yoy) -33,8 %, sedangkan pada bulan Mei (yoy)terdapat -39,3% (sumber: Kemenkeu, BI, BPS, Gaikindo, ASI, Trading Economics).

Namun demikian, Rizal juga menyebut bahwa indikator indikator tersebut seolah-olah disebabkan karena adanya pandemi corona. Padahal menurutnya, kondisi seperti ini terjadi sebelum pandemi corona. “Semua indikator merosot, sebagian karena corona, tapi .. sebelum corona tren indikator-indikator ini memang sudah merosot, dan bisanya cuma ngeles

Selain itu menurutnya, sempat terjadi penguatan rupiah terhadap dolar AS, hal ini disebabkan karena Amerika sedang mencetak uang banyak.

“Jadi, soal penguatan rupiah itu, menurutnya, tidak natural karena tidak disertai dengan fundamental ekonomi yang kuat. “Rupiah menguat karena dolar Amerika memang lagi drop terus, karena Amerika menerbitkan stimulus dengan mencetak uang 2 triliun dolar AS, ya otomatis nilai dolar terhadap mata uang lain rontok, nolong rupiah. Tapi juga karena kita nerbitin bond 10 miliar dolar, di-dopping, jadi rupiah lebih stabil sekitar 14 ribu,” sambungnya.

Rizal juga mengungkapkan, bahwa nyaris semua indikator makro ekonomi menunjukkan negatif., namun ia mempertanyakan mengapa rupiah sempat menguat. “Semua indikator makro ekonomi ini negatif, tapi kok rupiah stabil? Menurut saya ini terjadi karena di Amerika sana mereka sedang nyetak uang besar sekali. Stimulus terakhir di sana US$ 2 triliun, akibatnya mata uang dollar anjlok, mata uang lain jadi kuat. Ini stabilitas semu,” tambahnya.

Adapun ia menambahkan, bahwa dengan adanya pinjaman luar negeri yang terus bertambah akan berdampak negatif untuk perekonomian dalam negeri, “Makin lama pinjaman makin besar dan bunganya alias yield itu makin tinggi.. dan ini yang bikin ekonomi Indonesia babak belur, jadi karena semua dilakukan tidak secara prudent, dan melanggar azas good governance,” ungkapnya.

Sebelumnya diketahui, pemerintah mewaspadai resesi ekonomi yang terjadi di Singapura. Seluruh mekanisme anggaran pun akan digunakan demi mendorong konsumsi, investasi, maupun ekspor. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, resesi yang terjadi di Singapura disebabkan adanya penguncian atau lockdown pada negara tersebut.

Padahal, perekonomian Negeri Singa itu hanya mengandalkan ekspor, sedangkan negara lain pun melakukan penguncian saat masa pandemi virus corona. “Maka seluruh kegiatannya juga terhenti. Ditambah environment globalnya juga sangat lemah, maka perekonomian dari Singapura itu kan peranan dari global demand sangat besar, karena ekspornya lebih dari 100 persen, domestic demand-nya enggak bisa substitusi,” ujar Sri Mulyani usai rapat Banggar DPR, Rabu (14/7).

Komentar

News Feed