oleh

Chef Arnold Ngamuk TDL Naik, Rizal Ramli: Awasi PLN Agar Tak Rugikan Rakyat!

indonesiakita.co – Kasus kenaikan tarif dasar listrik (TDL) masih menjadi sorotan publik. Pasalnya, tak hanya masyarakat menengah ke bawah yang merasakannya. Namun, kalangan ekonomi menengah ke atas juga terkena dampaknya.

Juri Master Chef Indonesia, yakni Chef Arnold, salah satunya, yang mengaku kesal dengan kenaikan tarif listrik tersebut. Ia menumpahkan kekesalannya pada akun Twitter miliknya @ArnoldPoernomo. Ia mengatakan, bahwa pada bulan ini, dirinya harus membayar tagihan listrik sebesar Rp 9,5 juta.

 

“Tolong beritakan kenapa listrik saya jadi Rp 10 juta? Apa mungkin tiba-tiba saya borong mobil Tesla??” tulis Chef Arnold kesal.

Kemarahannya pun semakin bertambah, karena tak ada satupun petugas PLN yang mendatangi ke rumahnya. “Ente bilang petugas dateng ke rumah untuk check? @pln_123. Jelas jelas tidak ada yang datang. Dan selama bulan April-Juni sudah bayar normal dan ditagih lagi Juli? Totalan Rp 9,5jt? Dan bilang akumulasi karena nggak bayar?,” tegasnya lagi.

Bahkan, ia menyebut, angka kenaikan tersebut tidak masuk akal baginya. “Otak dan logika ku tidak bisa di masukan ke akal saya,” tutupnya.

Sebagaimana diketahui, masalah kenaikan tarif listrik ini juga menjadi perhatian bagi ekonom senior Rizal Ramli. Ia mengatakan, bahwa kebijakan yang merugikan rakyat ini harus segera dihentikan.

“Tarif listrik naiknya berapa, tak ada informasi kepada masyarkat.. ini sangat merugikan rakyat. Padahal dari dulu kalau ada kenaikan tarif pasti diumumkan sebulan atau dua bulan sebelumnya… agar konsumen dapat menyesuaikan diri,” tegas Rizal, hari ini saat dihubungi melalui telepon selulernya.

Ia juga mempertanyakan kenaikan tarif listrik yang terjadi saat ini hingga lebih dari satu kali. “Ya kan kita bisa lihat di sejumlah media, maupun sosial media, bahwa kenaikan tarif listrik terjadi bukan hanya sekali, bahkan beberapa kali tanpa diumumkan, itu seperti rakyat di kantongnya ada duit, terus tiba-tiba duit di kantong hilang tiba-tiba,” tambahnya.

Mantan anggota tim panel penasihat ekonomi PBB ini mengungkapkan, bahwa masalah yang diharapi PLN pada saat ini yakni dengan memiliki utang sebesar Rp 500 triliun, sebetulnya menurutnya PLN masih mampu membayar utang tersebut.

“Sebetulnya PLN mampu membayar utang tersebut, karna kalau saat ini saya lihat dari angkanya terutama enam bulan terakhir, kemungkinan PLN merugi sangat kecil. Kan bisa kita lihat harga batubara, solar dan transportasi serta bahan baku membuat listrik turun. Harusnya ini kan bikin untung PLN.

“Dengan adanya kondisi ini, seharusnya tarif listrik juga turun, dari segi ini sebetulnya tidak ada alasan PLN untuk akal-akalin konsumen dengan harga yang tinggi, jadi PLN ini harus diawasi agar tidak rugikan rakyat” tambahnya.

Mantan Menko Maritim ini juga mengungkapkan, bahwa ada mafia di balik pembelian TDL dengan konsep voucher.  Ia menyatakan ada skema korupsi yang terjadi dalam potongan administrasi yang merugikan rakyat.

”Mereka beli pulsa 100 ribu, ternyata pulsanya hanya sekitar Rp70 ribu, ini kejam sekali. Ini kelakuan provider setengah mafia, kira-kira gitulah disebutnya.

”Padahal kalau misalnya beli pulsa telpon, harganya 100 ribu, tapi kita hanya bayar cuma sekitar Rp90 ribuan. Karena itu uang muka, jadi provider taruh uang muka di bank. Monopoli ini sama sekali merugikan rakyat,” tutupnya. (Fel)

Komentar

News Feed