oleh

Garuda Indonesia Bangkrut!

indonesiakita.co – Maskapai penerbangan di Indonesia ternyata tak mampu membendung kondisi ekonomi akibat dampak dari pandemi corona. Hal ini ditandai dengan adanya isu berhembus sebuah maskapai nasional sedang menanti kebangkrutan.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra saat hadir dalam rapat dengan pendapat dengan Komisi X DPR RI. Bahkan ia meminta agar seluruh anggota DPR yang hadir rapat agar tidak terkejut dengan informasi tersebut.

“Bapak Ibu mengetahui juga banyak maskapai yang menyatakan kebangkrutan. Di dekat kita ada Thai Airways. Jadi enggak usah terlalu kaget kalau dalam waktu dekat ada maskapai di Indonesia yang tidak tahan lagi,” ungkapnya, kemarin.

Ia mengatakan, berbagai upaya telah dilakukan, namun tidak maksimal. Misalnya saja adanya skema diskon tiket, hal inipun tidak merangsang penambahan pada jumlah penumpang.

“Betul penting untuk memperoleh harga murah, tetapi mohon dipahami hari ini industri penerbangan mengalami pukulan yang sangat besar. Kami jumlah penumpangnya tinggal sepuluh persen. Kalau diminta diskon lagi harga yang rendah mungkin klasifikasi kami sebentar lagi menjadi makin sulit,” jelasnya.

Adapun sejauh ini salah satu cara meningkatkan pendapatan dari sektor pariwisata, namun lagi-lagi pandemi corona juga membuat sejumlah neara menutup jalur penerbangan yang kemudian berdampak pada pemasukan Garuda.

Irfan juga menambahkan, bahwa menyebut pandemi corona membuat jumlah wisatawan mancanegara (wisman) turun drastis hingga 87 persen pada April 2020, dan makin anjlok menjadi 90 persen di Mei 2020.

“Kami berharap pariwisata ini mulai meningkat di bulan Juli 2020 ini, namun kami saksikan ada beberapa yang perlu kita perhatikan dalam recovery (pemulihan, red) pariwsata ini. Ini kerja sama penting. Karena begitu industri ini pulih, pariwisata akan pulih dengan cepat,” tutupnya.

Diketahui sebelumnya, Irfan Setiaputra menyatakan,  pendapatan perseroan tersebut anjlok atau menurun hingga 90 persen akibat pandemi Covid-19, akibatnya 70 persen pesawat dikandangkan karena sejumlah rute tidak beroperasi.

“Untuk Garuda sendiri, pendapatan kami menurun hampir di level 90 persenan. Pesawat kita 70 persen parkir di-grounded. Mayoritas penerbangan itu ‘load factor’-nya (tingkat keterisian) di bawah 50 persen. Jadi ini imbasnya sangat berat bagi Garuda dan maskapai lain,” ungkapnya, Rabu (3/6) lalu.

Bahkan, setidaknya, 70 persen pesawat dikandangkan karena sejumlah rute tidak beroperasi. “Untuk Garuda sendiri, pendapatan kami menurun hampir di level 90 persenan. Pesawat kita 70 persen parkir di-grounded. Mayoritas penerbangan itu ‘load factor’-nya (tingkat keterisian) di bawah 50 persen. Jadi ini imbasnya sangat berat bagi Garuda dan maskapai lain,” jelasnya.

Selain itu, PT Garuda Indonesia (Persero) TBK mengajukan permohonan perpanjangan waktu pelunasan sukuk global sebesar US$500 juta atau setara Rp7 triliun jika masuk dalam (kurs Rp 14.ribu per Dolar AS). Irfan Setiaputra mengatakan perusahaan meminta perpanjangan jatuh tempo selama minimal tiga tahun kepada pemegang sukuk global (sukukholders).

Adapun permohonan itu disampaikan melalui Bursa Efek Singapura dengan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Diketahui, utang tersebut akan jatuh tempo pada 3 Juni 2020 lalu. “Persetujuan sukukholders atas permohonan persetujuan ini akan diajukan dalam Rapat Umum Sukukholders yang akan dilaksanakan pada akhir masa grace period pada 10 Juni 2020 mendatang,” ujarnya. (Fel)

Komentar

News Feed