oleh

Rizal Ramli: Krisis, Utang Menumpuk, RI Kena ‘Jab’ karena Low Capacity Leadership!

indonesiakita.co – Tokoh nasional Rizal Ramli menyatakan, bahwa Indonesia betul-betul harus memiliki pemimpin yang memiliki kapasitas untuk membangun negara dalam kondisi apapun. Terlebih menurutnya, disaat seperti ini, peran seorang pemimpin sangat dibutuhkan.

Namun demikian menurutnya, Indonesia sangat berharap bisa melewati masa krisis ekonomi, karena sangat menyulitkan masyarakat. “Ini sangat luar biasa, kondisi ekonomi, sosial, pandemik yang parah,” ujarnya, hari ini.

Hal ini menurutnya, bisa diselesaikan dengan kemampuan yang dimiliki oleh seorang pemimpin dalam mengatasi masalah dalam sebuah negara. “Sampai saat ini, belum ada perubahan yang signifikan, baik dalam sektor apapun. Dan memang, ini cerminan dari kelemahan kepemimpinan dengan kapasitas yang payah, betul-betul low capacity leader!

“Kan ini sebetulnya sangat membutuhkan, operasi besar (overhaul), tapi.. yang ada saat ini hanya ‘facial treatmen’.. jauh panggang dari api,” tegasnya.

Rizal juga menyebutkan, bahwa jika ada anggapan ekonomi Indonesia stabil soal penguatan nilai tukar rupiah di tengah tekanan ekonomi dalam negeri. Namun jelas Rizal, bahwa kondisi tersebut hanya bersifat sementara.

“Semua indikator makro ekonomi ini negatif, tapi kok rupiah stabil? Menurut saya ini terjadi karena dua hal, satu di Amerika sana mereka sedang nyetak uang besar sekali. Stimulus terakhir di sana US$ 2 triliun, akibatnya mata uang dollar anjlok, mata uang lain jadi kuat. Ini stabilitas semu,” ungkapnya.

Selain itu, pinjaman luar negeri yang terus bertambah yang berdampak negatif untuk perekonomian dalam negeri. “Makin lama pinjaman makin besar dan bunganya alias yield itu makin tinggi, bahasa sederhananya ekonomi kita bagaikan petinju ini kelimpungan karena terlalu banyak utang. Kalau 98 utang banyak di swasta, hari ini pemerintah dan BUMN sebagai petinju kelimpungan tapi didoping oleh pinjaman,” tegas mantan anggota tim panel penasihat ekonomi PBB ini.

Ia juga menyebut bahwa kasus gagal bayar yang terjadi pada 46 perusahaan asuransi sekuritas membuat perekonomian bagaikan terkena pukulan telak.

“Selain itu ada berbagai kasus gagal bayar asuransi sekuritas, total 46 perusahaan gagal bayar dan rata-rata totalnya antara Rp 400-500 triliun. Situasi ini membuat ekonomi Indonesia bagai petinju goyang, dan coba distabilkan utang luar negeri, tapi ada jab alias pukulan dari gagal bayar Rp 400-500 triliun. Akhirnya terjadilah krisis hari ini,” tutup Rizal. (Fel)

Komentar

News Feed