oleh

Jokowi Panik Indikator Ekonomi RI Jeblok, Rizal Ramli: Menteri Payah, Cuma Hadiah Pendukung Politis!

indonesiakita.co – Presiden Jokowi mendesak agar menteri kabinet dapat bekerja lebih keras di tengah pandemi corona seperti saat ini. Hal itu disampaikan Jokowi saat Sidang Kabinet Paripurna pada Jumat (28/6) lalu.

Ia meminta kepada para Menko dan seluruh ketua lembaga bahwa pemerintah bertanggung jawab terhadap  267 juta penduduk Indonesia.

“Ini tolong digarisbawahi, dan perasaan itu tolong kita sama. Ada sense of crisis yang sama.

Hati-hati, OECD terakhir 1-2 hari lalu menyampaikan bahwa growth pertumbuhan ekonomi dunia terkontraksi 6, bisa sampai ke 7,6 persen. 6-7,6 persen minusnya,” tegas Jokowi, saat itu.

Jokowi juga menyampaikan, bahwa informasi dari bank dunia kondisi Indonesia bisa mengalami minus hingga 5 persen. “Bank dunia menyampaikan bisa minus 5 persen. Perasaan ini harus sama. Kita harus ngerti ini. Jangan biasa-biasa saja, jangan linear, jangan menganggap ini normal (muka udah merah). Bahaya sekali kita.

Saya lihat masih banyak kita yang menganggap ini normal. Lha kalau saya lihat bapak ibu dan sodara2 masih melihat ini sebagai masih normal, berbahaya sekali,” tegas Jokowi.

Menanggapi hal ini, tokoh nasional Rizal Ramli mengungkapkan bahwa apa yang terjadi di kabinet kerja Jokowi tidak mengherankan. Karena menurutnya, posisi menteri yang diisi merupakan sebuah hadiah atas pendukung parpol dalam Pilpres 2019 lalu.

“Wong posisi kabinet hanya untuk hadiah2 pendukung politis dan finansial. Keberpihakan kepada rakyat rendah, kapasitas payah, kebanyakan tidak memiliki track record bisa ‘turn-around’(mengubah jadi lebih baik) secara makro dan korporasi. Eh udah gitu, masih ada yg aji mumpung,” tegas Rizal.

Selain itu, Rizal juga menanggapi adanya prediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2020. Dimana terdapat pelemahan terhadap indikator ekonomi RI.

Sebut saja, nilai ekspor yang berada di posisi -18,8%, sementara nilai impor bahan baku -29,6, kemudian, volume penjualan mobil -93,2%. Tak hanya itu, indeks produksi manufaktur  pada April (yoy) hingga Mei (yoy) setidaknya terdapat -45,4% (April) dan -44,6% pada (Mei).

Sementara itu, indeks keyakinan konsumen  pada April (yoy) -33,8 %, sedangkan pada bulan Mei (yoy)terdapat -39,3% (sumber: Kemenkeu, BI, BPS, Gaikindo, ASI, Trading Economics).

Namun demikian, Rizal juga menyebut bahwa indikator indikator tersebut seolaholah disebabkan karena adanya pandemi corona. Padahal menurutnya, kondisi seperti ini terjadi sebelum pandemi corona. “Semua indikator merosot, sebagian karena corona, tapi .. sebelum corona tren indikator-indikator ini memang sudah merosot, dan bisanya cuma ngeles, piye toh?,” tutup Rizal.

Komentar

News Feed