oleh

TKA China di Indonesia, Rizal Ramli: Kalau Tak Ada Manfaatnya Kita Minta Mereka Pulang

indonesiakita.co – Ekonom senior Rizal Ramli mengungkapkan, bahwa kehadiran TKA China di Indonesia sama sekali tak membantu meningkatkan kondisi perekonomian RI. Pasalnya, Rizal mengaku masih meyakini bahwa kemampuan tenaga kerja di Indonesia masih bisa diandalkan.

“Darimana ceritanya bisa didapat kalau generasi kita ini adalah generasi yang tidak mampu. Kita gak kekurangan tenaga kerja, kita gak kekurangan generasi muda yang mampu membangun bangsa ini, inikan hanya soal kesempatan. Apakah kesempatan itu diberikan atau karena memang agar ada tenaga lain yang sengaja dimasukkan ke Indonesia?,” tanya Rizal.

Mantan anggota tim panel penasihan ekonomi PBB ini menjelaskan, bahwa ada yang salah dengan skema kedatangan TKA asal China jika dikaitkan dengan kondisi ekonomi di Indonesia.

“Jangan dikaitkan dengan kondisi ekonomi, seolah-olah dengan kehadira mereka (TKA China) kemudian ekonomi kita membaik. justru kehadiran mereka mengurangi peluang tenaga kerja kita mendapatkan penghasilan yang seharusnya merupakan hak bagi warga negara terkait kelangsungan hidup dari penghasilan tersebut,” tegas Rizal.

Menurutnya, dengan memasukkan kembali peluang bagi tenaga kerja asing semakin menyakitkan masyarakat Indonesia. Dimana saat ini menurutnya, pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran yang terjadi di Indonesia memukul sektor perekonomian, dan mempengaruhi kehidupan masyarakat.

“Pemerintah ini kok tega ya, saya gak habis pikir, tenaga kerja kita baru saja kena PHK, diberhentikan dan tak ada lagi penghasilan. Bukannya manfaatkan tenaga mereka agar masyarakat kita bisa memiliki penghasilan untuk kehidupan seperti saat ini yang kita rasakan   banyaknya kesulitan.

Ia juga kembali mengungkit pernyataan Konselor Bidang Ekonomi dan Bisnis Kedubes China untuk RI Wang Liping. Pasalnya, Wang mengatakan jika pekerja lokal Indonesia kurang terampil jika dibandingkan dengan pekerja asal China.

“Dikasih masuk ke Indonesia, masuknya pas pandemi corona disaat semua arus penerbangan terbatas. Giiran masuk kasih pernyataan yang memojokkan bangsa kita. Ini jelas pernyataan yang sangat luar biasa kurang ajarnya.

“Gaji mereka lebih besar, jika gaji per satu orang saja diberikan kepada dua orang atau tiga tenaga kerja kita, kan bermanfaat, akhirnya masyarakat kita memiliki penghasilan, dan perputaran ekonomi melalui perdagangan sektor menengah maupun ke bawah berjalan lancar. Ini karena pemerintah gak mikir kesana, karena dulu kami memakai skema ini, yakni menaikkan gaji guru, agar uang lebih yang dimiliki akan dibelanjakan untuk kebutuhan sehari-hari. Pedagang barangnya laku, industri kecil barangnya dibeli, masyarakat juga memiliki persediaan keuangan,” ungkap Rizal.

Selain itu, Rizal juga meminta ada pihak yang memonitor para pekerja asing di Indonesia, agar dapat merasakan efektifitas kecepatan serta target industri yang dicapai. “Ya.. harus ada yang pantau ini, jangan nanti kita gak tau apa yang mereka kerjakan, berapa lama mereka ada di Indonesia, dan proyek atau pengerjaan apa yang mereka kerjakan, berapa lama targetnya. Ini penting, karena jika memang tidak ada sama sekali untungnya ada di Indonesia, kita minta mereka untuk kembali ke negaranya,” tutupnya.

Sebelumnya diketahui, Minister Counselor Kedutaan Besar China di Indonesia Wang Liping menjelaskan gaji para pekerja China di Indonesia memang cukup besar. Upah pekerja China umumnya US$ 30 ribu atau sekitar Rp 450 juta per tahun (kurs Rp 15 ribu).

Upah sebesar itu masih ditambah biaya penerbangan dan akomodasi yang dibebankan kepada perusahaan. Sedangkan pekerja lokal di Indonesia, menurut Wang, digaji lebih murah. Jumlahnya hanya sekitar 10 persen dari total gaji pekerja China.

“Seorang pekerja terampil Tiongkok pada umumnya dibayar US$ 30 ribu per tahun ditambah biaya penerbangan internasional dan akomodasi yang wajib ditanggung oleh perusahaan,” ungkap Wang dalam keterangannya, Selasa (2/6/2020). (Fel)

Komentar

News Feed