oleh

Siap-siap, Harga Bus Premium Dipastikan Naik

indonesiakita.co – Kementerian Perhubungan membuka kemungkinan adanya kenaikan tarif bus pada kelas premium. Dirjen Perhubungan Darat Budi Setiyadi mengatakan, hal ini terjadi karena belum ada kepastian kenaikan penumpang sampai saat ini.

“Ada wacana kenaikan tarif itu 25-50 persen, mereka sendiri (operator) yang menginginkan, tapi ini untuk yang premium ya, tapi setelah kita menaikkan kapasitas 70 persen seharusnya enggak naik. Masalahnya apakah trust masyarakat sudah kembali untuk ke angkutan umum?,” ujarnya, dalam diskusi virtual, hari ini.

Ia mengungkapkan, adanya persaingan antara sesama bus, seperti halnya bus antar kota dengan bus lainnya. “Persaingan yang selain antar operator sendiri juga oleh moda transportasi yang sebetulnya bukan peruntukannya, misalnya jenis2 mobil yang dipakai saat lebaran, seperti travel ilegal itu menggerus kendaraan umum,” ungkap Budi.

Adapun ketentuan soal pelonggaran transportasi darat menurutnya, dibagi ke dalam tiga fase seperti tercantum dalam petunjuk teknis penyelenggaraan transportasi darat pada masa adaptasi kebiasaan baru atau new normal dalam Surat Edaran (SE) Dirjen Perhubungan Darat No. 11/2020.

Budi menjelaskan, bahwa  fase I akan berlangsung antara 8-31 Juni 2020, fase II antara 1 Juli-31 Juli 2020 dan fase III antara 1-31 Agustus 2020. Dalam tiga fase tersebut, Kementerian akan fokus pada masalah keterisian atau load factor pada transportasi umum massal.

“Tiap moda transportasi darat akan memiliki batasan kapasitas maksimumnya masing-masing baik angkutan umum, angkutan karyawan, taksi, ojek, hingga angkutan pribadi,” tegasnya.

Sedangkan, kapasitas maksimum tiap transportasi akan mengacu pada status bahaya Covid-9 zonasi yang disampaikan gugus tugas, yakni merah, oranye, kuning dan hijau.

“Misalnya, angkutan umum kasih dilarang beroperasi. Sementara kapasitas angkutan umum massal dibatasi maksimal 70 persen untuk zona oranye, kuning, dan hijau pada fase I dan II. Di fase selanjutnya, kapasitas maksimum dapat ditingkatkan menjadi 85 persen untuk ketiga zona yang sama,” tambahnya.

Kendati demikian, Budi juga menemukan bahwa pelonggaran pembatasan transportasi darat tersebut tak langsung membuat tingkat keterisian bus AKAP meningkat. Salah satu penyebabnya adalah masih diberlakukannya pembatasan keluar-masuk orang di beberapa daerah untuk mencegah penularan Covid-19.

“Di Jakarta, Terminal Pulo Gebang itu satu mobil perjalanan ke jawa tengah itu hanya 4 orang, ada beberapa kepala daerah yang menerapkan aturan secara ketat untuk melindungi kotanya terhadap kemungkinan second wave, contoh di Jakarta masih perlu SIKM,” tutupnya. (Fel)

Komentar

News Feed