oleh

Tarif Listrik Naik Diam-diam, Rizal Ramli: Solusi Pemerintah Mirip ‘Tensoplast’

indonesiakita.co – Ekonom senior Rizal Ramli angkat suara terkait adanya kenaikan tarif listrik yang terjadi pada bulan Juni 2020. Menurtnya, kebijakan yang dilakukan pemerintah saat ini seperti ‘tensoplast, tabal sulam dan hanya bersifat sementara.

“saya sejak awal sudah katakan, kebijakan yang dilakukan pemerintah itu seperti tensoplast, hanya menambal luka untuk sementara waktu saja. Kan terbukti, saat ini, kita baca di media bahwa kenaikan tarif listrik kembali terjadi pada bulan Juni ini,” ungkapnya hari ini.

Ia mengatakan, bahwa ada langkah-langkah lain yang seharusnya bisa dilakukan pemerintah, yakni dengan melakuan diskon tarif listrik kepada indistri pada saat luar waktu beban puncak (LWBP) atau off peak sebesar 30 persen. “Dengan demikian, industri kecil berkembang dan membantu sektoran ekonomi kita. Ini baru dua bulan udah naik lagi, jadi apa yang diterapkan pemerintah ini tambal sulam gak jelas, dan saya sudah presidiksi ini jauh-jauh hari.” tambah mantan Menko Ekuin era Gusdur ini.

Adapun alasa Rizal pemerintah melakukan hal tersebut aktivitas industri akan meningkat, karena pada pukul 23.00-08.00 WIB akan ada pemberlakukan pada sistem kerja tiga shift.

“Jurus ini kan gak sulit, selain memicu produksi, juga ketika terjadi kekurangan tenaga kerja, perusahaan menengah ke bawah bisa merekrut kembali tenaga kerja, justru dua sisi ini bisa menguntungkan, Ungkapnya.

Adapun menurutnya, dengan menurunkan tarif listrik, bisa memicu angka pertumbuhan ekonomi. “Pada dasarnya sederhana, dan saya sudah katakan ini berulang-ulang kali, ibu rumah tangga itu senang kalau tarif listrik turun, artinya anggaran belanja mereka jadi bertambah. Dengan demikian daya beli mereka untuk kebutuhan juga bertambah atau setidaknya bisa difungsikan kepada hal-hal yang lain, inikan bisa memicu pertumbuhan ekonomi kita. Tapi saat ini yang kita rasakan kan terlihat, ekonomi kita masih ambruk, seharusnya kemarin pada saat tarif diturunkan, ada sektor-sektor lain yang didorong agar sinergisitas terjadi akibat dampak penurunan tarif listrik tersebut,” tambahnya lagi.

Sebagaimana diketahui, Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN Bob Saril mengatakan, bahwa kenaikan tagihan listrik pelanggan terjadi karena adanya kenaikan pemakaian dari pelanggan itu sendiri.

“Kenaikan tarif ini murni disebabkan oleh kenaikan pemakaian dan kenaikan pemakaian ini murni disebabkan oleh banyaknya kegiatan yang dilakukan di rumah dibandingkan kegiatan sebelumnya pada era normal. Mungkin kita akan lihat juga bagaimana dengan new normal nantinya apakah juga mengalami kenaikan,”ujarnya, dalam konferensi pers bertajuk ‘Tagihan Rekening Listrik Pascabayar’, Sabtu (6/6/2020) kemarin.

Ia juga membantah tuduhan adanya subsidi silang untuk pelanggan 450 VA maupun 900 VA. Sebab, terkait subsidi, hal itu bukan wewenang PLN.

“Terakhir, tidak ada cross subsidi (subsidi silang). Kami tidak ada subsidi karena subsidi itu kewenangan pemerintah. Sebenarnya subsidi itu adalah untuk rakyat yang tidak mampu dan PLN hanya menjadi medianya. Jadi subsidi itu–saya ulangi–bukan untuk PLN, tapi subsidi untuk rakyat, rakyat yang tidak mampu, yaitu apa, kalau di listrik didefinisikan untuk rumah tangga 450 VA dan 900 VA yang tidak mampu,” tegasnya. (Waw)

Komentar

News Feed