oleh

Rizal Ramli Bongkar Akal-akalan Softbank Soal Investasi Ibu Kota Baru

indonesiakita.co – Anda tentunya masih ingat saat Presiden Jokowi bersama jajaran menteri menerima delegasi SoftBank Corp di Istana Merdeka, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (10/1/2020) lalu. Dimana Presiden SoftBank Masayoshi Son akan menanamkan modalnya di mega proyek pemindahan Ibu Kota baru di Kalimantan.

Namun belakangan, Softbank melaporkan kerugian besar pada periode tahun fiskal 2019 yang mencapai USD 8,9 Miliar atau setara dengan Rp 133,5 Triliun. Realisasi kerugian bersih ini lebih besar dari proyeksi sebelumnya yakni USD 8,4 Miliar pada periode yang berakhir hingga Maret 2020 ini.

Dimana presiden SoftBank Masayoshi Son mengakui keputusannya untuk investasi di WeWork, startup co-working space, sebagai sebuah kebodohan. Anjloknya valuasi startup ini telah membuat SoftBank rugi besar.

“Bodoh sekali saya berinvestasi di WeWork. Saya salah,” ujar Masayoshi Son dalam analis meeting seperti dilansir dari Business Insider, Selasa (19/5) kemarin.

Bahkan, ia membandingkan dirinya dengan Yesus Kristus dalam membela kerugian dan pendekatan investasi dari Dana Visi, dan mengatakan akan terus menangani “tantangan dan risiko terbesar yang dihadapi umat manusia saat ini”.

SoftBank mengindikasikan bahwa pihaknya dapat menjual sebanyak USD11,5 miliar saham di Alibaba, berpotensi mengurangi kepemilikannya pada aset strategis besar lainnya.

Menanggapi hal ini, ekonom senior Rizal Ramli menyebutkan bahwa Softbank hanya memberi ‘angin surga’ alias kebohongan soal penenaman investasi pada pembangunan ibu kota baru tersebut.

“Bisnis Softbank ‘house of cards, based on over-inflated valuations”. Berhasil ngibulin Menko & @jokowi iming2 invest 1400T. Padahal waktu datang ke Indonesia dia lagi nyari2 investor Indonesia untuk invest di Fund barunya, janji US$ return yg tidak masuk akal. Ditolak. Eh .. malah diangkat jadi penasehat Presiden. Menyamakan diri dengan Jesus. Memang cocok untuk ngurusin Ibu Kota Baru dengan calon Gubernur itu lho,” tegas Rizal, dikutip dari akun Twitternya @RamliRizal.

Selain itu Rizal juga menyatakan, ia telah memprediksi bahwa bisnis digital akan mengalami koreksi sekitar 50 persen. “Saya sudah ingatkan ini pertengahan tahun lalu, bahwa bisnis digital ini akan koreksi 50% pada tahun 2020, karena ‘digital bubles’ yang terjadi didukung oleh over valuasi irational,” tutupnya. (Fel)

Komentar

News Feed