oleh

Indonesia Dihantui Krisis Pangan, Ini Kata Rizal Ramli

indonesiakita.co – Presiden Joko Widodo sempat meminta agar Indonesia mengantisipasi krisis pangan. Sebelumnya diketahui, Organisasi Pangan Dunia (Food Agriculture Organization/FAO) kekeringan akan melanda negara-negara di dunia termasuk Indonesia.

Hal ini disampaikannya saat membuka rapat terbatas terkait antisipasi dampak kekeringan terhadap ketersediaan bahan pangan pokok. “Saya sudah singgung beberapa kali terhadap peringatan dari FAO terkait krisis pangan dunia,” kata Jokowi saat Rapat Terbatas Antisipasi Dampak Kekeringan Terhadap Ketersediaan Bahan Pokok, Jakarta, Selasa (5/5/2020) lalu.

Jokowi meminta para menterinya untuk mengantisipasi masuknya musim kemarau terhadap ketersediaan pangan di Tanah Air. Menurut prediksi BMKG 30% wilayah akan mengalami kekeringan.

“Maka itu urusan yang berkaitan dengan musim kemarau harus kita hitung karena berdasarkan prediksi dari BMKG 30% wilayah wilayah yang masuk zona musim ke depan akan mengalami kemarau yang lebih kering dari biasanya itu,” kata Jokowi.

Antisipasi ini penting kata Jokowi, agar stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok tidak terganggu. “Oleh karena itu antisipasi mitigasi harus disiapkan sehingga pekerjaan dan stabilitas harga barang pangan tidak terganggu,” katanya.

Sebagaimana diketahui, Kementerian Perdagangan (Kemendag) menjamin stok barang kebutuhan pokok (bapok) cukup selama bulan puasa dan lebaran 2020. Terutama komoditas beras.

Berdasarkan laporan Perum Bulog dan Kementerian Pertanian (Kementan), stok beras nasional tercatat sebesar 3,3 juta ton. Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Suhanto dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI pada Kamis lalu (23/4).

“Kementerian Perdagangan menjamin stok beras aman selama bulan puasa Ramadan dan menjelang Lebaran 2020. Pemerintah akan bekerja keras menjaga stok beras dapat tercukupi dengan harga stabil agar masyarakat tidak perlu khawatir dan dapat menjalankan ibadah puasa dengan khidmat,” ujar Suhanto dalam siaran pers Minggu (26/4/2020) lalu.

Defisit Bahan Pokok

Sebelumnya, Ketua MPR Bambang Soesatyo mendorong semua kementerian dan lembaga terkait segera membenahi tata kelola distribusi bahan kebutuhan pokok. Defisit bahan kebutuhan pokok tingkat daerah harus dihindari agar tidak menambah persoalan baru selama periode pandemi Covid-19.

“Peningkatan efektivitas distribusi bahan kebutuhan pokok di tengah periode pandemi Covid-19 sangat jelas urgensinya. Covid-19 sudah mewabah di semua provinsi. Pembatasan sosial dengan segala konsekuensinya menyebabkan masyarakat tidak nyaman. Jangan sampai defisit bahan kebutuhan pokok menambah persoalan,” ujar politisi yang akrab disapa Bamsoet ini, Kamis (7/5).

Adapun Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog, Tri Wahyudi sebelumnya mengatakan,  baru menerima gula impor beberapa hari lalu. Sebelumnya distribusi bulog hanya mengandalkan stok yang tersisa.

Tri mengatakan, saat ini Bulog tengah mendata dan mendistribusikan gula impor yang baru datang. Dia berharap dengan adanya impor gula ini harga dipasaran bisa kembali stabil.

“Bulog itu hanya mendapatkan alokasi impor 50 ribu ton, itupun kami baru dapat izinnya tanggal 7 April. Tiga  hari lalu sudah datang kapalnya sudah ada di Tanjung Priok itu sudah bongkar. Sekitar 21.800 langsung kami distribusikan ke seluruh provinsi kabupaten, kota seluruh Indonesia termasuk Jakarta. Kemudian tanggal 5 itu sudah masuk bersandar kapalnya di pelabuhan Tanjung Priok, ini sedang didistribusikan ke seluruh Indonesia mudah-mudahan dengan masuknya gula ini bisa menekan harga,” ujar Tri, Kamis (07/05/2020) lalu.

Sementara itu, berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, rata-rata harga bawang merah di pasar tradisional seluruh Indonesia dibanderol Rp 44.750/Kg, atau naik 12% dari posisi bulan lalu yang masih dibanderol Rp 39.500/Kg.

Harga bawang merah di kawasan Jabodetabek masih lebih tinggi dibandingkan harga nasional. DKI Jakarta, Tangerang dan Bogor merupakan tiga kota yang mencatatkan kenaikan harga bawang merah tertinggi dalam satu bulan terakhir.

Harga bawang merah di DKI Jakarta dan Tangerang naik 19% dalam sebulan terakhir. Sementara harga bawang merah di pasar tradisional kota Bogor melesat 17% sejak 27 Maret lalu.

Tak hanya bawang merah, harga gula pasir juga masih kuat berada di angka Rp 18.000/Kg. Diketahui, gula merupakan kebutuhan pokok masyarakat Indonesia, dan terlebih saat ini adalah puasa yang banyak menggunakan kebutuhan soal gula untuk pengolahan makanan.

Padahal seharusnya harga gula di tangan konsumen itu Rp 12.500/Kg. Itu artinya harga gula sudah naik 5.500 sendiri, melesat hampir 50% dalam beberapa bulan terakhir.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Suhanto mengakui ada lonjakan harga yang cukup parah. Ia beralasan, tingginya harga gula dikarenakan kendala pasokan karena pergeseran musim giling dan belum masuknya importasi gula. Selain itu, peralihan gula rafinasi menjadi konsumsi juga terbatas.

Sanggupkah pemerintah mengantisipasi kondisi pangan seperti saat ini, mengingat banyak pihak menilai pemerintah masih belum maksimal dalam penanganan wabah corona. Dan tentunya pandemi ini menganggu stabilitas ekonomi RI.

Rizal Ramli Soal Krisis Pangan

Sementara itu, ekonom Senior Rizal Ramli mengatakan bahwa persoalan pasokan pangan harus menjadi perhatian serius Pemerintah RI guna menekan dampak button social distance.

Saat ini, di luar panic buying, permintaan pasokan bahan pangan naik mencapai 10 persen. Sementara suplai berkurang hingga 25 persen. Sebagai contoh, Vietnam dan Thailand. Negara eksportir komoditas pangan tersebut sudah memutuskan mengurangi ekspor.

“Karena mereka ingin ngasih makan rakyatnya yang menganggur,” ungkap Rizal Ramli melalui keterangan tertulisnya, Jumat (8/5/2020).

Ia mencontohkan Rusia, sebagai salah satu negara penghasil gandum terbesar di dunia. Biasanya Rusia mengekspor lebih dari 20 juta ton gandum, namun sekarang dibatasi maksimal 7 ton.

Rizal mengingatkan sebuah sinyal tanda bahaya jika krisis pangan benar-benar terjadi. Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri Indonesia era Gus Dur tersebut meminta agar Presiden Joko Widodo segera melakukan peningkatan produksi pangan.

Rizal mengatakan bahwa masa panen sayur-sayuran hanya butuh waktu 2 bulan, jagung 3 bulan, bawang 3 bulan dan beras 4 bulan. Sehingga krisis ini bisa dimanfaatkan untuk betul-betul all out meningkatkan produksi pangan.

“Nanti setahun lagi bawang putih kita sudah 4 kali panen cukup, kita bahkan bisa ekspor. Saya dengar Pak Jokowi senang dengan ide ini. Dia mau agar kita fokus pada pangan,” tutupnya. (Fel)

Komentar

News Feed