oleh

Rizal Ramli Patahkan 2 Kebijakan Ekonomi Kontroversi, Berapa ‘Angka’ yang Diselamatkan?

indonesiakita.co – Desakan ekonom senior Rizal Ramli soal kebijakan ekonomi tampaknya dalam satu bulan ini membuahkan hasil. Bagaimana tidak, dua kritikannya soal cetak uang dan rencana penerbitan obligasi global atau pandemic bond sebesar US$ 4,3 miliar, atau sebesar Rp 68,6 triliun (kurs Rp 16.000).

Angka ini tentunya disamakan ketika Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan Indonesia berhasil menerbitkan surat utang dengan denominasi dolar saat pandemi covid-19 atau virus corona mewabah pada 07 April 2020 lalu.

Lantas pertanyaannya, karena kebijakan inilah yang membuat Rizal Ramli mengaku geram, karena menurutnya masih ada cara lain dalam melakukan penanganan wabah corona tersebut.

Tentunya bukan Rizal Ramli namanya, jika memberikan argumen tanpa data ril ditangannya. Rizal menyebut, pemerintah dapat merealokasi anggaran sebesar Rp 430 triliun dari pos infrastruktur dan pembangunan ibukota baru. Selain itu juga ada dana SAL dan SILPA senilai Rp 270 triliun untuk membantu pekerja harian dan rakyat miskin.

“Hentikan dulu semua proyek infrastrukur termasuk proyek mercusuar ibukota baru. Mas Jokowi jangan gengsi, nyawa manusia lebih penting dari proyek. Gunakan uangnya untuk pekerja harian dan rakyat,” saran Rizal, beberapa waktu lalu.

Sebagai informasi, SAL adalah akumulasi dari Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) atau Sisa Kurang Pembiayaan Anggaran (SiKPA) tahun anggaran sebelumnya dan tahun anggaran berjalan usai ditutup, ditambah atau dikurangi dengan koreksi terhadap pembukuan yang ada.

Selain itu, dalam Peraturan Pemerintah Pengganti UU (Perppu) 1/2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan, Presiden Joko Widodo juga menambah alokasi belanja dan pembiayaan APBN 2020 sebesar Rp 405,1 triliun, dimana dana tersebut akan digunakan untuk menanggulangi dampak penyebaran virus corona

Dengan dibatalkannya obligasi global atau pandemic bond berdenominasi dolar AS senilai US$ 4,3 miliar, itu artinya RI tidak menambah beban utang karena wabah corona ini.

Rizal Ramli Tolak Cetak Uang

Sebagaimana diketahui, mantan anggota tim panel penasihat ekonomi PBB ini paling tajam memberikan kritik soal usulan cetak uang. Sebelumnya, ide ini masuk dari Badan Anggaran DPR RI kepada pemerintah dan Bank Indonesia (BI) untuk mencetak uang hingga Rp 600 triliun untuk menyelamatkan ekonomi dari dampak virus Corona (COVID-19).

Ketua Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Said Abdullah menilai, besarnya kebutuhan pembiayaan yang diperlukan pemerintah dalam penanganan pandemi virus corona atau Covid-19 kurang mencukupi.

“Kemudian, semakin membesarnya kebutuhan pembiayaan APBN yang tidak mudah ditopang dari pembiayaan utang melalui skema global bond, maupun pinjaman internasional melalui berbagai lembaga keuangan,” kata Said,

Namun, lagi-lagi, Rizal Ramli mematahkan teori cetak uang akan membuat kondisi ekonomi Indonesia lebih baik. Bahkan ia terlihat berapi-api saat menjelaskan bagaimana dampak negatif jika BI tetap melakukan pencetakan uang tersebut.

Hal ini Rizal sampaikan dalam sebuah diskusi di salah satu stasiun tv swasta nasional beberapa waktu lalu. “Printing Money.. pada saat pemerintah tidak kredibel, banyak praktik KKN, dan abused of power, printing money ini sangat berbahaya, bisa mengakibatkan inflasi. Dan yang paling bahayanya lagi, begitu printing money dilakukan, rupiah bisa anjlok ke angka Rp 20 ribu per dolar AS. Kecuali pemerintah kredibel” tegas Rizal.

Ia menjelaskan, bagaimana pemerintah saat ini menghadapi kondisi ekonomi.“Bayangkan, samurai raksasa jatuh dari langit, kita sok jago, kita tahan samurai tersebut, tangan kita bleeding (berdarah-red). Istilahnya, kita ini gak sanggup, karena kita gak kaya-kaya amat. Kalau ada perusahaan mau buyback saham, pasti bleeding. Lihat saja semua group-group besar di Indonesia, valuasinya drop sampai 200 triliun.

Samurai itu jatuh dulu ke tanah, baru kita melakukan sesuatu. Kita ini tidak cukup kuat untuk melakukan makro pumping. Amerika berapa tahun lalu, pump 1 triliun US, hasilnya cuma berapa hari doang indeks naik, habis itu turun lagi.

Karena apa, masalahnya di coronanya, mau dipompa 2 triliun tetap masalah. Jangan sok-sokan makro pumping, selesaikan dulu masalah corona. Jadi jangan sok-sokan, BI sudah spend 300 triliun lebih untuk mensupport rupiah, tapi efeknya kecil. kemampuan kita terbatas jangan lakukan makro pumping, selesaikan dulu masalah corona,” tutup Rizal.

Sebelumnya, Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan Roeslani mengatakan, usulan anggaran Rp 1.600 triliun untuk penanganan corona dari Kadin tersebut terdiri dari Rp 400 triliun yang digunakan untuk kesehatan, Rp 600 triliun untuk jaminan sosial, serta Rp 600 triliun untuk stimulus ekonomi.

“Usulannya, anggaran itu dari Bank Indonesia (BI) dengan suku bunga 1% sampai 2%,” ujarnya, di Jakarta, Rabu (22/4) lalu.

Selain itu, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B. Sukamdani mengungkapkan usulan pelaku usaha untuk kenaikan pagu anggaran untuk insentif Covid-19 tersebut telah disampaikan ke pemerintah melalui Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.

“Saya sudah menyampaikan ke Menteri Keuangan Sri Mulyani tentang usulan quantitative easing untuk Rp1.600 triliun ini. Responsnya, pemerintah beranggapan, sejauh ini gross [nilai kotor dari] insentif perpajakan saja sudah Rp1.200 triliun, sehingga insentif yang diberikan sejauh ini dirasa sudah cukup besar,” jelasnya dalam diskusi Senior Kadin bertajuk Mencari Terobosan Recovery Dunia Usaha dan Ekonomi Masa Pandemi dan Saran bagi Pemerintah Pusat & Daerah, Minggu (26/4/2020) lalu.

Namun pada akhirnya, Gubernur BI Perry Warjiyo mengaku telah mendengar saran dari banyak pihak mengenai adanya usulan cetak uang yang dilakukan oleh DPR. Namun menurutnya, langkah tersebut bukan praktek kebijakan moneter yang lazim.

“Barangkali pandangan itu, BI mencetak uang segala macam, mohon itu bukan praktek kebijakan moneter yang lazim dan tidak akan dilakukan di BI. Pandangan-pandangan itu tidak sejalan dengan praktek kebijakan moneter yang prudent (hati-hati) dan lazim. Mohon maaf ini betul-betul mohon maaf supaya tidak menambah kebingungan masyarakat” ucapnya melalui video conference, Rabu (6/5).

Itu artinya, dua kebijakan yang dinilai membahayakan kondisi ekonomi RI dimasa pandemi corona ini telah ‘terpatahkan’ oleh Rizal Ramli. Jika saja penerbitan obligasi global atau pandemic bond sebesar US$ 4,3 miliar terjadi, dan BI akhirnya mencetak uang sebesar Rp 600 triliun, apa yang akan terjadi jika pada poin pinjaman utang semakin menambah rangkaian beban negara, sementara yang kedua jika uang tersebut dicetak, bagaimana jadinya Indonesia mengalamai inflasi seperti yang dipaparkan Rizal Ramli tentunya ‘dalam kondisi pandemi corona’ seperti saat ini, berapa nilai atau angka kerugian yang diselamatkan Rizal Ramli dalam sebulan?… anda tentunya yang bisa menyimpulkannya. (Tim Redaksi)

Komentar

News Feed