oleh

Gubernur BI Sebut Cetak Uang Bukan Kebijakan Prudent, Rizal Ramli: Top!

indonesiakita.co – Gubernur BI Perry Warjiyo mengaku telah mendengar saran dari banyak pihak mengenai adanya usulan cetak uang yang dilakukan oleh DPR. Namun menurutnya, langkah tersebut bukan praktek kebijakan moneter yang lazim

“Barangkali pandangan itu, BI mencetak uang segala macam, mohon itu bukan praktek kebijakan moneter yang lazim dan tidak akan dilakukan di BI. Pandangan-pandangan itu tidak sejalan dengan praktek kebijakan moneter yang prudent (hati-hati) dan lazim. Mohon maaf ini betul-betul mohon maaf supaya tidak menambah kebingungan masyarakat” ucapnya melalui video conference, Rabu (6/5).

Sebelumnya, Badan Anggaran DPR RI mengusulkan kepada pemerintah dan Bank Indonesia (BI) untuk mencetak uang hingga Rp 600 triliun untuk menyelamatkan ekonomi dari dampak virus Corona (COVID-19)

Ketua Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Said Abdullah menilai, besarnya kebutuhan pembiayaan yang diperlukan pemerintah dalam penanganan pandemi virus corona atau Covid-19 kurang mencukupi.

“Kemudian, semakin membesarnya kebutuhan pembiayaan APBN yang tidak mudah ditopang dari pembiayaan utang melalui skema global bond, maupun pinjaman internasional melalui berbagai lembaga keuangan,” kata Said, dikutip dari keterangan persnya beberapa waktu lalu.

Melihat sikap Gubernur BI tersebut, ekonom senior DR. Rizal Ramli mengaku senang. “Sikap Gubernur BI bagus dan sudah tepat. Cetak uang akan memicu inflasi dan merontokkan nilai rupiah,” tulis Rizal Ramli di akun Twitternya, @RamliRIzal.

Rizal juga menambahkan, bahwa negara besar seperti Amerika Serikat (AS) dan Jepang sudah melakukannya, namun langkah tersebut hanya berdampak sementara. Selain itu, Rizal juga mengingatkan kekuatan ekonomi RI jika akan melakukan kebijakan tersebut.

“Amerika dan Jepang misalnya, mereka kuat secara ekonomi, jadi sah-sah aja mau melakukan macro pumping. Kalau kita (RI) mau ikut gaya yang sama, lihat dulu kekuatan ekonomi kita, jadi yang dilakukan Gubernur BI Top!,” tegas mantan anggota tim panel penasihat ekonomi PBB ini. (Fel)

Komentar

News Feed