oleh

Komisi XI Dukung Rizal Ramli Tolak Cetak Uang!

indonesiakita.co – Pernyataan ekonom senior Rizal Ramli terkait bahayanya rencana cetak uang yang diusulkan oleh DPR kepada BI sebesar Rp 600 triliun mencuri perhatian publik. Pasalnya, langkah tersebut mengakibatkan kerugian bagi negara, terlebih saat kondisi ekonomi RI sedang porak poranda di sela pandemi corona seperti saat ini.

Dimana isu ini sebelumnya dikeluarkan oleh Badan Anggaran DPR RI mengusulkan kepada pemerintah dan Bank Indonesia (BI) untuk mencetak uang hingga Rp 600 triliun untuk menyelamatkan ekonomi dari dampak virus Corona (COVID-19).

Ketua Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Said Abdullah menilai, besarnya kebutuhan pembiayaan yang diperlukan pemerintah dalam penanganan pandemi virus corona atau Covid-19 kurang mencukupi.

“Kemudian, semakin membesarnya kebutuhan pembiayaan APBN yang tidak mudah ditopang dari pembiayaan utang melalui skema global bond, maupun pinjaman internasional melalui berbagai lembaga keuangan,” kata Said, dikutip dari keterangan persnya, beberapa hari lalu.

Namun Rizal mengungkapkan, bahwa langkah tersebut sangat tidak tepat dengan kondisi keuangan negara yang diketahui saat ini sedang ‘morat marit’.

“Amerika dan Jepang misalnya, mereka kuat secara ekonomi, jadi sah-sah aja mau melakukan macro pumping. Kalau kita (RI) mau ikut gaya yang sama.. jangan mimpi!, ini bisa jadi sumber bancakan baru seperti yang pernah terjadi, yakni Skandal BLBI, dimana saat itu recovery hanya sebesar 25%. Kalau begitu nanti siapa yang mau tanggung jawab?,” tegas Rizal kepada indonesiakita.co.

Mantan anggota tim panel penasihat itu tampaknya berusaha keras, agar masalah yang sama tidak terjadi di Indonesia. Ia mencontohkan apa yang terjadi pada skandal Bank Century.

“Mengapa yang dikucurkan Bank Indonesia untuk Bank Century mencapai Rp 6,7 triliun. Pasti ada yang bocor. Padahal, pengalaman di seluruh dunia memperlihatkan bahwa untuk menyelamatkan sebuah bank hanya diperlukan satu hari, yakni hari dimana dana pihak ketiga ditutup. Tetapi dalam kasus Bank Century, dana talangan yang diberikan diecel-ecel (dicicil) selama delapan sampai sembilan bulan,” sebut Rizal.

Ia menambahkan, jika Bank Indonesia (BI) akhirnya menyetujui usulan cetak uang sebesar Rp 600 triliun, maka tak heran, masalah yang sama akan terjadi. “Polanya sama, caranya sama, pelakunya juga sama, pasti itu-itu juga, gak belajar dari kesalahan. Nanti cetak uang via Recovery Bond 600T yg baru disetujui DPR, akan jadi skandal lebih vulgar dari BLBI dan Century. Pelakunya itu2 lagi (residivists),” tutup Rizal.

Komisi XI Fraksi PKS Tolak Usulan Cetak Uang

Bak gayung bersambut. Ternyata ada juga desakan dari Komisi XI terkait penolakan rencana cetak uang agar tidak dilakukan. Hal ini diungkapkan oleh Hidayat Nur wahid, dimana menurutnya Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menolak usul tersebut.

Hidayat, yang merupakan anggota DPR Komisi VIII ini menuliskan cuitannya di akun Twitter pribadinya, @hnurwahid, lalu ia me-mention akun Twitter Rizal Ramli dengan ungkapan sepakat atas desakan Rizal Ramli terhadap penolakan itu.

 

Sumber: Twitter @hnurwahid

 

“Desakan Agar BI Mencetak Uang (rp 600 T)Itu Berbahaya, Bisa Hadirkan Hyper inflasi. Karenanya, @FPKSDPRRI menolak Usul Tsb. Kritik&Penolakan PKS Sudah Disampaikan Langsung Saat Raker Komisi XI DPR dengan MenKeu dan Gub BI dll. Cc  @RamliRizal,” tulisnya. (Fel)

Komentar

News Feed